Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perbankan nasional mulai mengambil ancang-ancang untuk memasang target pertumbuhan penyaluran kredit pada tahun 2027 mendatang.
Director of Finance & Strategy PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Hussein Paolo Kartadjoemena, menyatakan bahwa prospek bisnis perusahaan ke depan sangat positif, tercermin dari langkah manajemen merevisi panduan pertumbuhan kredit ke atas menjadi kisaran 10% hingga 13% hingga akhir 2026.
Hal tersebut didorong oleh laju bisnis yang solid dan kemampuan bank yang tidak lagi terlalu bergantung pada siklus konsumsi domestik semata.
BNI mencatatkan pertumbuhan kredit konsolidasi impresif sebesar 22,2% hingga kuartal III 2026 dengan rasio LDR di level 87,9%.
Sementara itu, ketersediaan likuiditas BNI ditopang oleh total penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp 1.110,5 triliun per September 2026.
Baca Juga: BTN Pertahankan Target Kredit di Kisaran 8%–10% 2026, Ini Alasannya
Sementara itu, Direktur OK Bank Indonesia, Efdinal Alamsyah, menyampaikan bahwa pihaknya saat ini juga tengah menggodok Rencana Bisnis Bank (RBB) 2027 yang akan segera diserahkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir November ini.
Ia menjelaskan bahwa ancang-ancang target kredit tahun depan akan dipatok lebih tinggi dibandingkan dengan target pertumbuhan 9,5% pada tahun 2026.
"OK Bank tetap memandang prospek bisnis tahun 2027 dengan optimis, dengan tetap memperhatikan perkembangan ekonomi, kondisi likuiditas, dan dinamika industri perbankan," ungkap Efdinal kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).
Kendati demikian, perusahaan tetap mencermati sejumlah faktor pemberat, mulai dari tantangan ekonomi global, risiko memburuknya kualitas kredit, hingga ketatnya persaingan pendanaan.
Hal ini cukup beralasan mengingat laporan keuangan kuartal III 2026 OK Bank mencatat posisi LDR yang sangat ketat di angka 123,16%.
Untuk menopang rasio tersebut, OK Bank telah mengumpulkan deposito sebesar Rp 6,96 triliun, dana giro Rp 1,35 triliun, dan tabungan sebesar Rp 368,78 miliar hingga akhir September 2026.
Di sisi lain, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, memproyeksikan penyaluran kredit perusahaannya akan tumbuh di kisaran moderat 4% hingga 5% secara tahunan (yoy) sampai penutup tahun ini.
Guna menjaga kecukupan likuiditas dalam mendanai ekspansi tersebut, perusahaan ini fokus menghimpun mayoritas sumber pendanaannya dari DPK, khususnya porsi dana murah (CASA).
Baca Juga: LDR Perbankan Kian Ketat, Bank Kecil & Menengah Adu Strategi Penuhi Target Kredit
Per 30 September 2026, CIMB Niaga berhasil mengakumulasi dana giro senilai Rp 110,73 triliun dan tabungan mencapai Rp 87,84 triliun.
Bank swasta ini juga melaporkan saldo simpanan deposito sebesar Rp 76,68 triliun dengan rasio LDR di level 87,69%.
Jika melihat industri secara makro, Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai bahwa lambatnya laju pertumbuhan dana masyarakat akan memaksa setiap bank bersaing ketat menjaga beban dana.
Menurut Rahma, kendati permodalan bank mayoritas sangat kuat, tekanan beruntun di sektor riil mulai mengintai sehingga mutlak membutuhkan alokasi pencadangan yang ekstra tebal.
"Jadi saya simpulkan, tahun depan tidak otomatis lebih ringan, melainkan menuntut bank untuk lebih disiplin dalam manajemen risiko, efisiensi operasional, dan kehati-hatian dalam menyalurkan kredit agar kualitas aset tetap terjaga di tengah likuiditas yang semakin ketat," papar Rahma.
Baca Juga: BRI Belum Revisi Target Kredit 2026 Meski Tekanan Suku Bunga Masih Berlanjut
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














