Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Manajemen PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) bakal memanfaatkan sisa waktu empat bulan di tahun 2016 ini untuk menggenjot penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR). Segmen yang menjadi fokus pasar emiten bank bersandi saham BBNI ini adalah KPR untuk rumah pertama dan kedua.
Anggoro Eko Cahyo, Direktur Konsumer BNI mengatakan, pelonggaran batas maksimal pemberian pinjaman atau loan to value (LTV) untuk KPR yang dilakukan Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu merupakan faktor pendorong minat masyarakat untuk membeli rumah. Terutama pada pasar rumah pertama dan rumah kedua.
Anggoro memprediksi permintaan segmen itu bakal meningkat. Anggoro mengatakan, permintaan rumah pertama akan naik karena pasca relaksasi aturan oleh bank sentral, rasio LTV kini menjadi 85% dari sebelumnya 80%. Sedangkan, permintaan KPR untuk rumah kedua juga akan meningkat lantaran penghapusan larangan pemberian KPR untuk inden rumah kedua.
"Dengan adanya izin KPR untuk inden rumah kedua, maka BNI berpeluang menawarkan kepada nasabah eksisting membeli rumah lagi," kata Anggoro, Rabu (7/9).
Sebagai informasi, mayoritas atau sekitar 50% portofolio KPR BNI saat ini mengalir untuk pembelian rumah pertama dengan ticket size berkisar antara Rp 350 juta hingga Rp 450 juta per unit.
Ke depan porsi KPR untuk rumah pertama akan meningkat, dengan adanya pelonggaran LTV tersebut. BNI sendiri menargetkan pertumbuhan KPR minimal sebesar 10% di tahun 2016. Pada akhir tahun 2015 outstanding KPR BNI tercatat sebanyak Rp 34,66 triliun.
Dengan target pertumbuhan 10%, pada akhir tahun 2016, outstanding KPR BNI akan menjadi Rp 38,13 triliun. Hingga Agustus 2016, kata Anggoro, BNI telah membukukan pertumbuhan KPR sebesar 7%.
Sebelumnya atau pada semester I 2016, pertumbuhan KPR BNI tercatat sebanyak 7,5% atau senilai Rp 35,57 triliun dibandingkan posisi Rp 33,09 triliun per semester pertama 2015. Dari penyaluran KPR tersebut, BNI memiliki rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) KPR sebesar 3% di semester I 2016.
Rasio NPL KPR ini cenderung meningkat jika dibandingkan NPL di semester pertama 2015 yang sebesar 2,4%. Anggoro menambahkan, untuk mendukung kebijakan pelonggaran LTV, BNI memperpanjang program bunga KPR single digit (satu digit).
Langkah ini ditempuh guna menarik minat masyarakat yang tengah merencanakan membeli rumah. Bank berlogo 46 tersebut menawarkan bunga KPR sebesar 7,95% fix untuk tiga tahun, kemudian bunga KPR sebesar 10,7% fix untuk dua tahun berikutnya, serta bunga floating di tahun keenam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













