Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus memperkuat ekosistem bisnis melalui perusahaan anak dan holding ultramikro (UMi) yang melibatkan Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM).
Hingga Juni 2026, ekosistem tersebut telah melayani sekitar 33,8 juta nasabah pinjaman dan mengelola lebih dari 166 juta rekening simpanan.
Wakil Direktur Utama BRI, Viviana Dyah Ayu Retno K mengatakan, kekuatan BRI Group tidak hanya berasal dari pertumbuhan bisnis BRI sebagai induk, tetapi juga ditopang oleh ekosistem perusahaan anak yang semakin lengkap.
"Per Juni BRI memiliki 10 perusahaan anak yang berasal dari lintas layanan keuangan," ujar Viviana dalam pemaparan kinerja BRI, Senin (31/8/2026).
Menurut dia, masing-masing perusahaan anak memiliki kapabilitas dan segmen yang saling melengkapi, mulai dari bisnis ultramikro, perbankan digital, asuransi, pembiayaan, pasar modal hingga pengembangan bisnis di Indonesia maupun tingkat global.
Namun, holding ultramikro yang terdiri dari BRI sebagai induk bersama Pegadaian dan PNM menjadi salah satu kontributor utama dalam memperkuat ekosistem BRI Group.
Salah satu indikator keberhasilan holding UMi, lanjut Viviana, adalah kemampuan mendorong nasabah ultramikro untuk naik kelas menjadi nasabah mikro.
Hingga saat ini, sekitar 2,3 juta nasabah atau debitur telah naik kelas dari segmen ultramikro menjadi nasabah mikro.
Baca Juga: BRI Pertahankan UMKM Jadi Core Business, Penyaluran Rp 1.235 Triliun di Semester I
"Ini adalah esensi utama holding ultramikro. Nasabah tidak berhenti pada satu produk atau satu segmen, tetapi memiliki ruang untuk tumbuh bersama BRI Group seiring dengan meningkatnya kapasitas usaha," jelasnya.
Viviana mengatakan, 2026 menjadi tahun penting bagi holding ultramikro karena memasuki tahun kelima sejak dibentuk pada September 2021.
Dalam lima tahun perjalanan tersebut, sinergi BRI, Pegadaian dan PNM semakin memperkuat ekosistem ultramikro. Penguatan tidak hanya terlihat dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari perluasan akses layanan keuangan bagi masyarakat.
Pegadaian, misalnya, mencatat pertumbuhan aset lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2021 menjadi Rp185,8 triliun per Juni 2026. Pembiayaan Pegadaian juga tumbuh hampir tiga kali lipat menjadi Rp155,1 triliun.
Jumlah nasabah Pegadaian meningkat dari sekitar 6,6 juta menjadi 9 juta nasabah dalam periode yang sama.
Sementara itu, PNM juga terus memperkuat perannya dalam menjangkau dan memberdayakan masyarakat segmen ultramikro.
Per Juni 2026, aset PNM mencapai Rp57,4 triliun, naik dari Rp43,7 triliun lima tahun sebelumnya. Pinjaman yang disalurkan meningkat dari Rp34,5 triliun menjadi Rp51,4 triliun.
Jumlah debitur yang dilayani PNM juga bertambah dari 11,2 juta menjadi 12,4 juta debitur.
Baca Juga: PNM Perbesar Bisnis Ultra Mikro dengan Strategi Modal dan Pendampingan
Selain pembiayaan ultramikro, BRI Group juga terus memperkuat ekosistem emas melalui Pegadaian.
Viviana mengatakan saat ini layanan emas Pegadaian telah terintegrasi, mulai dari deposito emas, perdagangan emas, jasa titipan, tabungan emas, cicil emas hingga gadai emas.
Per Juni 2026, deposito emas Pegadaian mencapai 2.229 kilogram, sementara pembiayaan modal kerja emas mencapai 220 kilogram. Aktivitas perdagangan emas tercatat mencapai 9,5 ton, sedangkan jasa titipan emas mencapai sekitar 3,7 ton.
Adapun saldo tabungan emas Pegadaian telah mencapai 20,2 ton dengan valuasi lebih dari Rp48 triliun.
Sementara itu, omzet cicil emas mencapai 5,3 ton dengan valuasi hampir Rp13 triliun. Dari sisi pembiayaan, outstanding gadai emas mencapai sekitar 114 ton.
"Bagi BRI Group, bisnis emas ini bukan saja diversifikasi produk, tetapi bagian dari strategi memperluas ekosistem layanan keuangan dan investasi bagi masyarakat Indonesia," kata Viviana.
Baca Juga: BRI Siap Optimalkan Dana SAL untuk Perkuat Penyaluran Kredit UMKM
Di sisi lain, BRI juga terus memperkuat perannya sebagai mitra pemerintah dalam mendorong pembangunan dan inklusi ekonomi berkelanjutan.
Salah satunya melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sepanjang Januari hingga Juli 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.
Penyaluran KUR tersebut didominasi sektor produktif. Sektor pertanian menjadi penerima terbesar dengan porsi sekitar 42,68% dari total penyaluran.
Selain KUR, BRI memperkuat ekosistem pembiayaan perumahan melalui Kredit Program Perumahan (KPP). Hingga Juni 2026, realisasi KPP BRI mencapai Rp10,7 triliun, atau hampir 90% dari target penyaluran tahun ini sebesar Rp12 triliun.
Pembiayaan tersebut mencakup sisi penyediaan hunian bagi pelaku usaha serta sisi permintaan melalui pembiayaan bagi masyarakat.
BRI juga menjadi salah satu bank dengan penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) terbesar. Hingga Juni 2026, Kredit Pemilikan Rumah Sejahtera (KPRS) BRI melalui program FLPP telah mencapai Rp18,4 triliun kepada lebih dari 134.000 debitur.
Dengan penguatan perusahaan anak, holding ultramikro, bisnis emas hingga pembiayaan produktif, BRI berupaya membangun ekosistem keuangan yang tidak hanya memperluas akses pembiayaan, tetapi juga membuka jalur bagi nasabah untuk tumbuh dari segmen ultramikro hingga ke skala usaha yang lebih besar.
Baca Juga: BRI Cetak Laba Rp31,2 Triliun, Tumbuh 17,5% pada Semester I-2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













