Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Tabungan Negara (BTN) menilai tambahan suntikan likuiditas dari pemerintah merupakan langkah positif untuk menjaga stabilitas likuiditas di industri perbankan, terutama saat kebutuhan pembiayaan ekonomi meningkat.
Untuk diketahui, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum lama ini mengungkapkan rencananya menambah suntikan likuiditas ke perbankan sebesar Rp 100 triliun. Langkah ini diambil untuk mengoptimalkan dana menganggur.
Berbeda dengan suntikan likuiditas dari dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebelumnya yang ditempatkan dalam bentuk deposit on call bertenor enam bulan, kali ini skema penempatan dana disebut bakal lebih fleksibel agar bisa sewaktu-waktu ditarik kembali ketika dibutuhkan untuk membiayai belanja negara.
Kendati begitu, detail terkait rencana ini belum dipastikan. Kementerian Keuangan masih bakal melakukan kajian lebih lanjut.
Baca Juga: BTN Gandeng KAI Wisata, Nasabah Prioritas Bisa Nikmati Executive Lounge di Stasiun
Merespons rencana tersebut, Direktur Network & Retail Funding BTN Rully Setiawan menyebut penambahan likuiditas dapat membantu bank memenuhi kebutuhan pendanaan kredit tanpa harus berebut dana masyarakat.
“Kami melihat penambahan suntikan likuiditas ini sesuatu yang baik dari pemerintah untuk menjaga likuiditas perbankan tetap terjaga. Ketika ekonomi membutuhkan pendanaan dari bank, tentu bank juga membutuhkan likuiditas,” ujar Rully dalam acara penandatanganan Nota Kesepahaman antara BTN dan PT Kereta Api Pariwisata di Lounge Stasiun Gambir, Senin (9/3/2026).
Menurutnya, tambahan likuiditas tersebut dapat meredam persaingan antar bank dalam menghimpun dana pihak ketiga (DPK). “Dengan adanya suntikan likuiditas, bank tidak harus berebut dana di masyarakat,” imbuhnya.
Ia bilang likuiditas memang sempat menjadi isu pada awal 2025 di hampir seluruh perbankan, karena kebutuhan penyaluran kredit yang meningkat, sementara sebagian dana masyarakat mulai beralih ke instrumen investasi lainnya.
“Bank di satu sisi ingin menyalurkan kredit, tetapi di sisi lain membutuhkan dana likuiditas. Jadi sempat terjadi perebutan dana di awal tahun hingga pertengahan tahun lalu,” ujarnya.
Situasi tersebut, lanjut Rully, mulai membaik setelah pemerintah pertama kali menyuntikkan likuiditas dari dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pada September 2025 lalu. BTN sendiri memperoleh penempatan dana sekitar Rp 25 triliun dari program tersebut.
Nah, dana tersebut kemudian digunakan untuk mendukung penyaluran kredit perseroan. Rully bilang kredit tersebut tak cuma disalurkan untuk pembiayaan perumahan atau kredit pemilikan rumah (KPR), tetapi juga untuk pembiayaan sektor usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Saat ini, Rully bilang likuiditas bank masih aman. Pun, ia mengakui dinamika geopolitik global berpotensi memengaruhi aktivitas dunia usaha, yang pada gilirannya membuat pelaku usaha cenderung menunda ekspansi dan menahan permintaan kredit.
Namun, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat sehingga kebutuhan pembiayaan dari sektor perbankan tetap terjaga, termasuk dari sektor UMKM.
Pun, ia memastikan tambahan likuiditas ini tak akan menjadi beban baru bagi perbankan. “Tidak nambah beban, kan Rp 100 triliun pasti dibagi-bagi ke semua bank. Porsinya masih sesuai, dan kami juga punya sektor untuk didanai,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













