Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) menargetkan penyaluran pembiayaan baru bisa mencapai sebesar Rp 9,6 triliun sepanjang 2026.
Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan, pihaknya optimistis kinerja pembiayaan dapat berangsur pulih meskipun industri otomotif, khususnya segmen kendaraan penumpang (passenger car), diperkirakan belum kembali ke level penjualan tertingginya.
“Di tahun 2026, CNAF menargetkan penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp 9,6 triliun. CNAF berharap kondisi market dapat berangsur pulih dan daya beli masyarakat dapat segera membaik,” ujar Ristiawan kepada Kontan, Senin (5/1/2026).
Baca Juga: CIMB Niaga Auto Finance Harap Pembiayaan Modal Kerja Berkontribusi 8,8% di Tahun 2026
Seiring kondisi tersebut, CNAF akan mendorong diversifikasi produk sebagai sumber pertumbuhan baru. Beberapa produk pembiayaan yang akan menjadi fokus pada 2026 antara lain pembiayaan emas, pembiayaan produk komersial, serta peluncuran kembali produk pembiayaan porsi haji yang telah melalui penyempurnaan.
"Diharapkan produk-produk tersebut dapat berkontribusi lebih dari 10% terhadap total keseluruhan portofolio," tuturnya.
Dari sisi pendanaan, kondisi suku bunga dan biaya dana menjadi faktor penting dalam strategi penyaluran pembiayaan. Untuk menjaga profitabilitas di tengah potensi tekanan biaya pendanaan, CNAF akan melakukan diversifikasi sumber pendanaan.
Baca Juga: CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Petakan Risiko Kredit Pasca Banjir Sumatra
Di antaranya melalui joint financing dengan induk usaha, pinjaman bilateral, serta penerbitan sukuk guna memperoleh biaya dana yang lebih kompetitif.
Sementara itu, dalam penerapan pricing kepada nasabah, CNAF menerapkan skema risk-based pricing, di mana tingkat suku bunga ditentukan berdasarkan profil risiko masing-masing calon nasabah.
Selanjutnya: Jadi Kreditur Utama, China Minta Laporan Kredit Perbankan Terkait Venezuela
Menarik Dibaca: Hujan Amat Deras di Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (6/1)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












