kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

CNAF Catatkan Kredit Bermasalah UMKM di Level 2,16% hingga Desember 2025


Selasa, 03 Februari 2026 / 21:00 WIB
CNAF Catatkan Kredit Bermasalah UMKM di Level 2,16% hingga Desember 2025
ILUSTRASI. Pelayanan nasabah di Kantor CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) (KONTAN/Baihaki) CIMB Niaga Auto FInance (CNAF) mencatatkan NPF atau kredit bermasalah untuk segmen UMKM di level 2,16% hingga Desember 2025.


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT CIMB Niaga Auto FInance (CNAF) mencatatkan non performing financing (NPF) atau kredit bermasalah untuk segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di level 2,16% hingga Desember 2025.

Angka tersebut mengalami kenaikan 0,93% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang berada di level 1,23%.

Presiden Direktur CNAF, Ristiawan Suherman mengatakan bahwa kondisi ini terjadi karena lemahnya daya beli masyarakat dan piutang pembiayaan UMKM CNAF yang mengalami perlambatan.

Baca Juga: Premi Asuransi Properti Ritel Aswata Capai Rp 30 Miliar per Desember 2025

"Kondisi ini disebabkan faktor daya beli masyarakat yang melemah dan piutang pembiayaan UMKM CNAF yang juga mengalami perlambatan," ujarnya kepada Kontan, Selasa (3/2/26).

Kendati demikian, rasion NPF CNAF dinilai masih lebih baik dari rata-rata NPF UMKM industri yang mencapai angka 4,33% di periode Desember 2025.

Sementara dari porsi pembiayaan, sampai akhir Desember 2025 CNAF mencatatkan piutang pembiayaan multiguna sebesar Rp 3,9 triliun, sedangkan piutang pembiayaan investasi sebesar Rp 795 miliar.

Hal ini menunjukkan bahwa pembiayaan multiguna masih menjadi pilihan utama terutama di tengah kondisi makroekonomi yang bergejolak.

Di sisi lain, banyak pelaku bisnis di segmen investasi yang cenderung masih menunda ekspansi sehingga permintaan pembiayaan investasi relatif lebih rendah.

Di tahun 2026, Ristiawan berharap industri pembiayaan akan mengalami pertumbuhan yang lebih baik.

Apalagi dalam jangka waktu dekat ini ada momentum Ramadan yang diharapkan bisa mendorong industri pembiayaan seiring dengan kebutuhan konsumen yang ikut meningkat.

"Untuk jangka waktu dekat, momentum Ramadan dapat menjadi stimulus positif bagi industri pembiayaan," katanya.

Adapun untuk perbaikan kredit bermasalah, ke depannya CNAF berupaya untuk menjaga kualitas portofolio perusahaan agar tetap sehat melalui prinsip kehati-hatian terutama dalam proses analisis kredit bagi calon nasabah.

"Langkah ini bertujuan untuk memitigasi potensi kenaikan NPF ke depannya," pungkas Ristiawan.

Baca Juga: BNI (BBNI) Cetak Laba Bersih Rp 20 Triliun, Turun 6,97% Secara Tahunan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×