kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.572.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

CNAF Masih Buka Peluang Penerbitan Obligasi pada Kuartal IV-2026


Jumat, 09 Oktober 2026 / 20:46 WIB
CNAF Masih Buka Peluang Penerbitan Obligasi pada Kuartal IV-2026
ILUSTRASI. Pelayanan nasabah di Kantor CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) masih membuka peluang penerbitan obligasi pada kuartal IV-2026. Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan penerbitan akan tetap mempertimbangkan perkembangan kebutuhan pendanaan dan kondisi pasar.

Dalam menentukan momentum penerbitan obligasi, Ristiawan mengungkapkan CNAF akan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti kebutuhan likuiditas, efisiensi biaya dana, kondisi pasar terkini, hingga diversifikasi sumber pendanaan. 

"Penerbitan akan dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan momentum dan kondisi yang paling optimal bagi perusahaan," ungkapnya kepada Kontan, Jumat (9/10).

Baca Juga: Jamkrida Sumbar Waspadai Perlambatan Kredit, Jaga Kualitas Penjaminan Konsumtif

Secara keseluruhan, Ristiawan melihat penerbitan obligasi sebagai salah satu alternatif pendanaan yang dapat mendukung kebutuhan penyaluran pembiayaan perusahaan.

Sementara itu, CNAF juga angkat bicara mengenai dampak ekspektasi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang bisa naik lagi hingga tahun depan terhadap penerbitan obligasi. Asal tahu saja, BI Rate masih ditahan di level 5,75% saat ini.

Ristiawan mengatakan perkembangan suku bunga acuan juga merupakan salah satu faktor yang menjadi pertimbangan CNAF dalam menentukan waktu penerbitan obligasi. Namun, dia bilang kondisi suku bunga bukan merupakan satu-satunya faktor yang diperhatikan. 

"Perusahaan juga mencermati perkembangan yield pasar, pergerakan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), kondisi likuiditas, serta minat investor terhadap instrumen obligasi," tuturnya.

Menghadapi kondisi pasar yang dinamis, Ristiawan mengatakan CNAF tetap menerapkan pendekatan yang prudent dalam menentukan momentum penerbitan obligasi. Dia bilang perusahaan akan memilih waktu yang lebih tepat agar mendapatkan pricing kompetitif dan tetap mendukung efisiensi biaya pendanaan, dengan tetap memperhatikan kebutuhan pembiayaan perusahaan.

Lebih lanjut, Ristiawan menyampaikan sampai kuartal III-2026, CNAF telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I CIMB Niaga Auto Finance Tahap I Tahun 2026 sebesar Rp 200 miliar. Dia menerangkan penerbitan tersebut merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan dengan target penghimpunan dana hingga Rp 5 triliun.

Ristiawan mengatakan dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk mendukung kebutuhan modal kerja dalam kegiatan usaha CNAF sesuai dengan ketentuan dan penggunaan dana sebagaimana tercantum dalam prospektus.

Selain obligasi, Ristiawan menuturkan pada Maret 2026, CNAF juga telah menerbitkan Sukuk Wakalah Bi Al-Istitsmar Berkelanjutan I CIMB Niaga Auto Finance Tahap IV Tahun 2026 sebesar Rp 900 miliar. Dia menjelaskan dana yang diperoleh dari penerbitan sukuk tersebut, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, digunakan sebagai modal kerja untuk kegiatan usaha pembiayaan syariah, antara lain pembiayaan kendaraan roda empat, properti, kendaraan roda dua, serta pembiayaan haji dan umrah.

Sebagai informasi, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 19,62 triliun per September 2026. Nilainya turun 33,1%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 29,33 triliun.

Pefindo juga memproyeksikan aktivitas penerbitan obligasi multifinance masih berpeluang berlanjut pada kuartal IV-2026. Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan kebutuhan refinancing menjadi salah satu pendorong utama. Meski demikian, realisasinya akan sangat bergantung pada kondisi yield dan kebutuhan pendanaan masing-masing perusahaan.

Baca Juga: Moody’s Naikkan Rating Adira Finance (ADMF), Risiko Pendanaan Tetap Dicermati

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×