kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.785.000   -13.000   -0,46%
  • USD/IDR 17.823   4,00   0,02%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Sejumlah Bank Masih Bergulat dengan Kredit Macet Tinggi


Rabu, 27 Mei 2026 / 16:13 WIB
Sejumlah Bank Masih Bergulat dengan Kredit Macet Tinggi
ILUSTRASI. Kredit Bank ke Rumah Tangga (Kontan/Wahyu Tri Rahmawati)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) industri perbankan memang mulai menunjukkan perbaikan. Namun, tren positif tersebut belum sepenuhnya dirasakan seluruh bank, terutama sejumlah bank kecil dan menengah yang masih mencatatkan NPL gross tinggi, bahkan di atas ambang batas aman 5%.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio NPL gross industri perbankan turun menjadi 2,14% pada April 2026, dari posisi 2,17% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski begitu, sejumlah bank masih mencatatkan tekanan kualitas aset yang cukup berat.

PT Bank Amar Indonesia Tbk misalnya, mencatatkan NPL gross sebesar 8,41% per Maret 2026. Meski membaik dibandingkan posisi Maret 2025 sebesar 10,89%, rasio tersebut masih tergolong tinggi.

Kemudian PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) mencatatkan NPL gross sebesar 9,83% pada Maret 2026, meningkat dari 9,10% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, PT Bank of India Indonesia Tbk mencatatkan NPL gross sebesar 5,41%, turun dari 7,09%.

Beberapa bank lain juga mulai mendekati level 5%, seperti PT Bank Raya Indonesia Tbk yang NPL gross-nya naik menjadi 4,81% dari sebelumnya 3,70%. Lalu ada Bank Banten dengan NPL gross sebesar 4,50%, meski turun dari 7,22%, serta PT Bank Sahabat Sampoerna yang mencatatkan NPL gross 4,51% kendati turun dari 4,81% dari setahun sebelumnya.

Baca Juga: OJK Dorong Kepastian Hukum Kredit Macet demi Jaga Penyaluran Kredit Nasional

Jika diperluas, cukup banyak bank yang masih memiliki rasio NPL di atas 3%. PT Bank Mayapada Internasional Tbk misalnya, mencatatkan NPL gross sebesar 3,60% per Maret 2026, naik dari 3,53% setahun sebelumnya. Sementara MNC Bank mencatatkan NPL gross sebesar 3,23% kendati sudah turun dari setahun sebelumnya di 4,34%.

Presiden Direktur KB Bank, Kunardy Darma Lie mengatakan tingginya NPL perseroan masih dipengaruhi proses penataan dan perbaikan kualitas portofolio kredit yang sedang berjalan, termasuk legacy portfolio dari periode sebelumnya.

“Sebagian legacy portfolio menghadapi tekanan usaha akibat dinamika ekonomi. Perseroan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penilaian kualitas aset agar profil risiko tercermin secara konservatif dan transparan,” ujar Kunardy kepada Kontan.co.id, Selasa (26/5).

Menurut dia, kondisi kualitas aset membuat KB Bank lebih disiplin dan selektif dalam menyalurkan kredit baru. Meski demikian, hal itu tidak membuat perseroan menghentikan ekspansi kredit.

“Bank tetap melakukan penyaluran kredit secara terukur dengan fokus pada debitur dan sektor yang memiliki fundamental kuat, arus kas sehat, serta sejalan dengan risk appetite perseroan,” katanya.

Kunardy menambahkan, perseroan terus menjalankan sejumlah langkah perbaikan kualitas aset seperti restrukturisasi kredit, penguatan collection, percepatan recovery, optimalisasi penyelesaian agunan, hingga monitoring portofolio secara lebih intensif.

“Dari sisi pencadangan, bank juga secara konsisten membentuk CKPN sesuai ketentuan regulator dan prinsip kehati-hatian,” imbuhnya.

Sementara itu, SVP Finance Amar Bank, David Wirawan menilai rasio gross NPL kurang tepat dijadikan satu-satunya acuan untuk melihat kualitas aset bank digital yang bermain di segmen mikro tanpa agunan.

Menurut dia, Amar Bank lebih melihat net NPL yang saat ini berada di level 0,86%, turun signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: Amartha Jaga Rasio Kredit Macet Tetap di Bawah 5% pada Awal 2026

“Net NPL menjadi metrik yang lebih representatif karena mempertimbangkan perbedaan risiko antar sektor. Segmen UMKM secara alami memiliki risiko lebih tinggi dibanding korporasi,” ujar David.

Ia menambahkan, kualitas portofolio kredit Amar Bank terus membaik seiring penguatan proses underwriting dan manajemen risiko. Bahkan di tengah NPL gross yang masih tinggi, Amar Bank mampu meningkatkan penyaluran kredit bruto sebesar 30,62% secara tahunan menjadi Rp 4,17 triliun.

“Strategi kami menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset, sehingga ekspansi dilakukan secara prudent, berbasis data, dan terukur,” katanya.

Di sisi lain, Direktur Finance and Business Planning Bank Sahabat Sampoerna, Henky Suryaputra mengungkapkan tingginya NPL perseroan dipengaruhi besarnya eksposur kredit ke sektor UMKM.

“Sebesar 59% portofolio kredit kami dialokasikan ke sektor UMKM yang memang lebih rentan terhadap dinamika ekonomi domestik dan daya beli masyarakat,” ujar Henky.

Meski begitu, Henky menegaskan rasio NPL tersebut belum menghambat ekspansi kredit baru. Perseroan tetap melakukan penyaluran kredit secara selektif dan berhati-hati.

“NPL net Bank Sampoerna masih berada di level aman 2,70%, jauh di bawah batas regulator sebesar 5%,” katanya.

Menurut Henky, sektor perdagangan eceran dan jasa mikro menjadi kontributor utama fluktuasi NPL karena sangat sensitif terhadap perubahan daya beli masyarakat dan arus kas harian.

Baca Juga: Waspada, Risiko Kredit Macet Perbankan Masih Tinggi

Untuk mengurangi risiko, Bank Sahabat Sampoerna memperkuat ekosistem digital dan layanan Bank as a Service (BaaS) melalui kerja sama dengan lebih dari 50 mitra strategis seperti fintech, koperasi, dan multifinance.

Adapun Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menilai tingginya NPL sejumlah bank dipengaruhi kombinasi legacy loans, karakteristik segmen kredit, serta dampak lanjutan berakhirnya restrukturisasi kredit Covid-19.

“Untuk bank turnaround seperti KB Bank dan Bank Banten, NPL tinggi sebagian besar merupakan carry over aset bermasalah dari masa lalu,” ujar Myrdal.

Ia menambahkan, bagi bank digital seperti Amar Bank yang fokus pada unsecured micro-lending, tingginya NPL memang menjadi karakteristik bisnis. Namun hal itu diimbangi margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang lebih tinggi.

Myrdal menilai tingginya NPL juga membatasi ruang ekspansi kredit baru karena bank harus membentuk cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang menggerus modal dan laba.

“NPL tinggi membuat fokus manajemen bergeser dari pertumbuhan menjadi penyelamatan aset,” katanya.

Menurut dia, strategi yang perlu dilakukan bank saat ini adalah membersihkan portofolio lama sambil memperbaiki kualitas kredit baru melalui write-off selektif, percepatan asset recovery, penjualan kredit macet, hingga rebalancing portofolio ke segmen yang lebih rendah risiko.

Baca Juga: Bersih-Bersih Kredit Macet, KB Bank Andalkan Restrukturisasi dan Jual Aset

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×