Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Yudho Winarto
Likuiditas Valas Masih Memadai
Meski pertumbuhan DPK valas melambat, Josua menilai kondisi likuiditas valas perbankan masih memadai. Namun, likuiditas tersebut mulai lebih ketat dan tidak merata dibandingkan awal tahun.
Secara agregat, likuiditas perbankan masih jauh dari kondisi tertekan. Per Juni 2026, rasio alat likuid terhadap dana noninti mencapai 101,92%, alat likuid terhadap DPK sebesar 23,08%, dan liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 182,75%. Seluruh indikator tersebut masih berada di atas batas minimum regulator.
Namun, rasio tersebut merupakan indikator likuiditas secara agregat dan tidak secara spesifik menggambarkan kondisi valas masing-masing bank.
Bank dengan basis nasabah importir besar atau kebutuhan pembayaran luar negeri yang tinggi berpotensi menghadapi tekanan valas lebih besar.
"Jadi saya akan menyebut kondisi saat ini bukan kekurangan valas, tetapi likuiditas valas mulai perlu dikelola lebih defensif karena kebutuhan dolar domestik meningkat," kata Josua.
Baca Juga: KB Bank Ungkap DPK Valas Masih Tumbuh Positif
Memasuki akhir tahun, Josua memperkirakan DPK valas masih dapat tumbuh sekitar 18% yoy, dengan kisaran 16%-20%.
Dengan posisi DPK valas Desember 2025 sekitar Rp 1.338,1 triliun, kisaran tersebut akan membawa posisi DPK valas pada akhir 2026 sekitar Rp 1.550 triliun-Rp 1.610 triliun.
"Ini karena basis Desember tahun lalu relatif rendah. Dengan saldo Juli tetap sekitar Rp 1.583 triliun saja, pertumbuhan Desember secara matematis sudah sekitar 18%," jelasnya.
Josua mengingatkan, pertumbuhan DPK valas sekitar 18% pada akhir tahun tidak serta-merta menunjukkan lonjakan minat masyarakat untuk memegang dolar.
Pertumbuhan tersebut juga dipengaruhi efek basis serta pelemahan rupiah terhadap nilai DPK valas yang dicatat dalam rupiah.
Ia memperkirakan, rupiah pada akhir 2026 berada di kisaran Rp 17.800-Rp 18.000 per dolar AS. Sementara itu, defisit transaksi berjalan diperkirakan masih berada di kisaran 2,5%-3% terhadap PDB.
Bank Diminta Tak Andalkan Bunga Deposito Valas
Di tengah pertumbuhan DPK valas yang masih tinggi, Josua menilai bank sebaiknya tidak mengandalkan perang suku bunga deposito untuk menggaet dana valas.
Menurut dia, data Juli justru menunjukkan pertumbuhan DPK valas lebih banyak ditopang simpanan berjangka yang tumbuh 38,7% YoY, sementara giro valas hanya tumbuh 5,6%.
"Jika bank hanya mengejar deposito valas dengan bunga tinggi, DPK memang bertambah tetapi biaya dana meningkat dan dana mudah berpindah ketika bank lain menawarkan imbal hasil lebih tinggi," katanya.
Baca Juga: Insentif Likuiditas BI Diperbarui, Bank Mulai Atur Strategi Surat Utang
Josua menyarankan bank menggeser strategi dari sekadar mengejar jumlah DPK menjadi memperkuat kualitas sumber dana valas.
Salah satunya dengan membidik arus valas transaksional dari eksportir, perusahaan komoditas, manufaktur, perusahaan multinasional, pariwisata, dan perdagangan.
Bank dapat menawarkan layanan terintegrasi mulai dari penerimaan hasil ekspor, pembayaran impor, cash management, trade finance, pembayaran pemasok, rekening multi-mata uang, hingga lindung nilai.
Dengan strategi tersebut, kata Josua, dana valas tidak hanya masuk untuk mengejar bunga, tetapi dapat bertahan karena seluruh transaksi bisnis nasabah berlangsung melalui bank.
DPK Valas Bank Masih Tumbuh
Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, DPK valas perseroan masih tumbuh positif meski momentumnya mulai melambat sejalan dengan perkembangan industri.
Menurut dia, DPK valas KB Bank terutama ditopang segmen korporasi, termasuk eksportir-importir dan ekosistem perusahaan Korea.
"Posisi likuiditas valas saat ini tetap terjaga, dengan KB Bank terus memastikan kecukupan buffer untuk mengantisipasi kebutuhan funding USD dan dinamika pasar valuta asing," ujar Kunardy.
Baca Juga: BCA Perkuat Likuiditas Valas, DPK Valas Capai Rp116,98 Triliun hingga Juni 2026
Memasuki akhir 2026, KB Bank melihat peluang pertumbuhan DPK valas dari peningkatan kebutuhan pendanaan korporasi dan eksportir.
Karena itu, perseroan tidak semata mengandalkan pricing atau kenaikan suku bunga, melainkan memperkuat ekosistem valas melalui pertumbuhan USD CASA, trade finance, transaksi FX, solusi hedging, serta pengembangan ekosistem korporasi Korea.
Sementara itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, BCA terus mencermati dinamika makroekonomi domestik maupun global dan menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas valas dengan ekspansi kredit yang sehat.
Hingga Juni 2026, DPK valas BCA mencapai Rp 116,98 triliun, sementara DPK rupiah mencapai Rp 1.167,07 triliun. Secara keseluruhan, DPK BCA mencapai Rp 1.284 triliun dengan porsi CASA sekitar 84,3%.
BCA juga memperluas layanan valas melalui fitur Poket Valas pada aplikasi myBCA. Fitur tersebut memungkinkan nasabah melakukan pengisian saldo, penarikan tunai, pengiriman, hingga penerimaan berbagai mata uang asing. Saat ini terdapat 18 mata uang yang dapat ditransaksikan melalui fitur tersebut.
Adapun Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, perseroan tetap berfokus pada pertumbuhan DPK rupiah sesuai kebutuhan kredit.
Meski demikian, DPK valas CIMB Niaga masih tumbuh sekitar 25% yoy, meskipun DPK rupiah tetap mendominasi struktur pendanaan perseroan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














