kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.768.000   18.000   0,65%
  • USD/IDR 17.723   -21,00   -0,12%
  • IDX 6.502   -24,02   -0,37%
  • KOMPAS100 848   -1,25   -0,15%
  • LQ45 642   -2,64   -0,41%
  • ISSI 228   -0,01   0,00%
  • IDX30 359   -1,39   -0,39%
  • IDXHIDIV20 437   -0,21   -0,05%
  • IDX80 97   -0,26   -0,27%
  • IDXV30 121   0,35   0,29%
  • IDXQ30 114   -0,45   -0,40%

DPK Valas Perbankan Melambat, Ekonom Soroti Kebutuhan Dolar Korporasi


Selasa, 25 Agustus 2026 / 18:07 WIB
DPK Valas Perbankan Melambat, Ekonom Soroti Kebutuhan Dolar Korporasi
ILUSTRASI. Tabungan Valas: Teller menghitung mata uang US Dollar di Bank BNI (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valuta asing (valas) perbankan mulai melambat pada Juli 2026. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), DPK valas tercatat Rp 1.582,7 triliun atau tumbuh 17,9% secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 18,5% YoY. Meski demikian, ekonom menilai perlambatan tersebut belum menunjukkan adanya persoalan likuiditas valas secara sistemik.

Baca Juga: Penjualan Mobil Naik, Pembiayaan Multifinance Malah Turun: Ini Penyebabnya

Chief Economist PermataBank Josua Pardede mengatakan, kondisi tersebut lebih mencerminkan normalisasi setelah terjadi peningkatan DPK valas yang cukup kuat sepanjang semester I-2026.

"Perlambatan DPK valas pada Juli belum menunjukkan masalah likuiditas valas secara sistemik. Justru datanya menunjukkan normalisasi setelah kenaikan yang sangat kuat pada semester I, disertai penggunaan dana valas korporasi untuk kebutuhan transaksi," ujar Josua kepada Kontan, Senin (24/8/2026).

Jika dilihat berdasarkan jenis simpanan, hampir seluruh penurunan DPK valas secara bulanan berasal dari giro valas. Posisi giro valas turun sekitar Rp 23,8 triliun, dari Rp 850,2 triliun menjadi Rp 826,4 triliun.

Sebaliknya, tabungan valas masih naik tipis, sedangkan simpanan berjangka valas relatif tidak berubah. Secara tahunan, simpanan berjangka valas tumbuh 38,7%, diikuti tabungan valas 28,9%. Sementara itu, giro valas hanya tumbuh 5,6%.

Menurut Josua, kondisi tersebut menunjukkan penurunan DPK valas lebih banyak berasal dari dana transaksi jangka pendek, bukan akibat penarikan besar-besaran simpanan valas oleh nasabah.

Baca Juga: Multifinance Dukung Pembiayaan Motor Listrik Lebih Terjangkau, Ini Catatannya

Tiga Faktor DPK Valas Melambat

Josua melihat setidaknya ada tiga faktor yang mendorong penurunan DPK valas pada Juli 2026.

Pertama, meningkatnya kebutuhan valas korporasi untuk membayar impor, utang, dividen, serta kewajiban kepada pihak luar negeri.

Kondisi tersebut sejalan dengan memburuknya neraca eksternal pada kuartal II-2026. Defisit transaksi berjalan melebar dari 0,97% menjadi 3,34% terhadap PDB.

Baca Juga: Penerbitan Surat Utang Multifinance Turun 41,8% Jadi Rp 14,57 Triliun

Pada saat yang sama, surplus barang turun dari US$ 8,21 miliar menjadi US$ 1,32 miliar, sedangkan defisit migas melonjak dari US$ 5,09 miliar menjadi US$ 10,18 miliar.

"Jadi sebagian giro valas kemungkinan memang digunakan untuk kebutuhan ekonomi nyata, bukan keluar karena hilangnya kepercayaan terhadap perbankan," jelas Josua.

Kedua, terjadi normalisasi setelah penumpukan valas yang cukup kuat pada periode Maret-Juni 2026.

DPK valas meningkat dari Rp 1.367,2 triliun pada Februari menjadi Rp 1.450,6 triliun pada Maret, Rp 1.585,1 triliun pada Mei, dan mencapai Rp 1.606,2 triliun pada Juni sebelum kembali turun pada Juli.

Penumpukan tersebut terjadi bersamaan dengan periode tekanan terhadap rupiah, kenaikan harga minyak, dan ketidakpastian geopolitik. Ketika tekanan mulai lebih terkendali, kebutuhan menyimpan valas sebagai bantalan pun ikut berkurang.

Ketiga, data DPK valas BI menggunakan ekuivalen rupiah sehingga pergerakan nilai tukar juga perlu diperhitungkan.

Namun, Josua memperkirakan penurunan pada Juli bukan semata-mata akibat efek kurs karena memang terdapat pengurangan simpanan valas secara riil.

Baca Juga: Bank BSN Gelar Akad Massal 10.000 Pembiayaan, Mayoritas KPR Subsidi

Likuiditas Valas Masih Memadai

Meski pertumbuhan DPK valas melambat, Josua menilai kondisi likuiditas valas perbankan masih memadai. Namun, likuiditas tersebut mulai lebih ketat dan tidak merata dibandingkan awal tahun.

Secara agregat, likuiditas perbankan masih jauh dari kondisi tertekan. Per Juni 2026, rasio alat likuid terhadap dana noninti mencapai 101,92%, alat likuid terhadap DPK sebesar 23,08%, dan liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 182,75%. Seluruh indikator tersebut masih berada di atas batas minimum regulator.

Namun, rasio tersebut merupakan indikator likuiditas secara agregat dan tidak secara spesifik menggambarkan kondisi valas masing-masing bank.

Bank dengan basis nasabah importir besar atau kebutuhan pembayaran luar negeri yang tinggi berpotensi menghadapi tekanan valas lebih besar.

"Jadi saya akan menyebut kondisi saat ini bukan kekurangan valas, tetapi likuiditas valas mulai perlu dikelola lebih defensif karena kebutuhan dolar domestik meningkat," kata Josua.

Baca Juga: KB Bank Ungkap DPK Valas Masih Tumbuh Positif

Memasuki akhir tahun, Josua memperkirakan DPK valas masih dapat tumbuh sekitar 18% yoy, dengan kisaran 16%-20%.

Dengan posisi DPK valas Desember 2025 sekitar Rp 1.338,1 triliun, kisaran tersebut akan membawa posisi DPK valas pada akhir 2026 sekitar Rp 1.550 triliun-Rp 1.610 triliun.

"Ini karena basis Desember tahun lalu relatif rendah. Dengan saldo Juli tetap sekitar Rp 1.583 triliun saja, pertumbuhan Desember secara matematis sudah sekitar 18%," jelasnya.

Josua mengingatkan, pertumbuhan DPK valas sekitar 18% pada akhir tahun tidak serta-merta menunjukkan lonjakan minat masyarakat untuk memegang dolar.

Pertumbuhan tersebut juga dipengaruhi efek basis serta pelemahan rupiah terhadap nilai DPK valas yang dicatat dalam rupiah.

Ia memperkirakan, rupiah pada akhir 2026 berada di kisaran Rp 17.800-Rp 18.000 per dolar AS. Sementara itu, defisit transaksi berjalan diperkirakan masih berada di kisaran 2,5%-3% terhadap PDB.

Bank Diminta Tak Andalkan Bunga Deposito Valas

Di tengah pertumbuhan DPK valas yang masih tinggi, Josua menilai bank sebaiknya tidak mengandalkan perang suku bunga deposito untuk menggaet dana valas.

Menurut dia, data Juli justru menunjukkan pertumbuhan DPK valas lebih banyak ditopang simpanan berjangka yang tumbuh 38,7% YoY, sementara giro valas hanya tumbuh 5,6%.

"Jika bank hanya mengejar deposito valas dengan bunga tinggi, DPK memang bertambah tetapi biaya dana meningkat dan dana mudah berpindah ketika bank lain menawarkan imbal hasil lebih tinggi," katanya.

Baca Juga: Insentif Likuiditas BI Diperbarui, Bank Mulai Atur Strategi Surat Utang

Josua menyarankan bank menggeser strategi dari sekadar mengejar jumlah DPK menjadi memperkuat kualitas sumber dana valas.

Salah satunya dengan membidik arus valas transaksional dari eksportir, perusahaan komoditas, manufaktur, perusahaan multinasional, pariwisata, dan perdagangan.

Bank dapat menawarkan layanan terintegrasi mulai dari penerimaan hasil ekspor, pembayaran impor, cash management, trade finance, pembayaran pemasok, rekening multi-mata uang, hingga lindung nilai.

Dengan strategi tersebut, kata Josua, dana valas tidak hanya masuk untuk mengejar bunga, tetapi dapat bertahan karena seluruh transaksi bisnis nasabah berlangsung melalui bank.

DPK Valas Bank Masih Tumbuh

Presiden Direktur KB Bank Kunardy Darma Lie mengatakan, DPK valas perseroan masih tumbuh positif meski momentumnya mulai melambat sejalan dengan perkembangan industri.

Menurut dia, DPK valas KB Bank terutama ditopang segmen korporasi, termasuk eksportir-importir dan ekosistem perusahaan Korea.

"Posisi likuiditas valas saat ini tetap terjaga, dengan KB Bank terus memastikan kecukupan buffer untuk mengantisipasi kebutuhan funding USD dan dinamika pasar valuta asing," ujar Kunardy.

Baca Juga: BCA Perkuat Likuiditas Valas, DPK Valas Capai Rp116,98 Triliun hingga Juni 2026

Memasuki akhir 2026, KB Bank melihat peluang pertumbuhan DPK valas dari peningkatan kebutuhan pendanaan korporasi dan eksportir.

Karena itu, perseroan tidak semata mengandalkan pricing atau kenaikan suku bunga, melainkan memperkuat ekosistem valas melalui pertumbuhan USD CASA, trade finance, transaksi FX, solusi hedging, serta pengembangan ekosistem korporasi Korea.

Sementara itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, BCA terus mencermati dinamika makroekonomi domestik maupun global dan menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas valas dengan ekspansi kredit yang sehat.

Hingga Juni 2026, DPK valas BCA mencapai Rp 116,98 triliun, sementara DPK rupiah mencapai Rp 1.167,07 triliun. Secara keseluruhan, DPK BCA mencapai Rp 1.284 triliun dengan porsi CASA sekitar 84,3%.

BCA juga memperluas layanan valas melalui fitur Poket Valas pada aplikasi myBCA. Fitur tersebut memungkinkan nasabah melakukan pengisian saldo, penarikan tunai, pengiriman, hingga penerimaan berbagai mata uang asing. Saat ini terdapat 18 mata uang yang dapat ditransaksikan melalui fitur tersebut.

Adapun Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, perseroan tetap berfokus pada pertumbuhan DPK rupiah sesuai kebutuhan kredit.

Meski demikian, DPK valas CIMB Niaga masih tumbuh sekitar 25% yoy, meskipun DPK rupiah tetap mendominasi struktur pendanaan perseroan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×