Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mahalnya ongkos penghimpunan dana membuat pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) perbankan terkikis. Untuk menjaga profitabilitas, bank perlu mengandalkan pendapatan dari sumber lainnya, termasuk dari fee dan komisi layanan.
Misalnya saja Bank Central Asia (BCA). Hingga Juni 2026, NII BCA turun tipis 0,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 42,4 triliun. Di sisi lain, pendapatan non bunga naik 11% yoy menjadi Rp 13,2 triliun.
Penyokong utamanya adalah pendapatan fee dan komisi yang tumbuh 11,2% yoy menjadi Rp 11 triliun. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menjelaskan, peningkatan ini tak lepas dari pengembangan transaksi perbankan yang didorong BCA di berbagai kanal, baik digital maupun non digital.
Baca Juga: BCA: Pengguna Paylater Tumbuh Hampir 8%, Mayoritas Pilih Tenor Satu Bulan
Hera bilang pengembangan yang terus-menerus dilakukan pihaknya ini pada gilirannya membuat volume transaksi yang diproses bank naik hingga 60% dalam tiga tahun terakhir. Sejalan dengan itu, jumlah rekening nasabah BCA pun tumbuh konsisten hingga kini mencapai 42 juta rekening.
“Saat ini, hampir seluruh transaksi yang diproses BCA merupakan transaksi digital,” ujar Hera kepada Kontan, Rabu (29/7/2026).
Peningkatan frekuensi transaksi dan jumlah rekening nasabah ini menurutnya terwujud seiring inovasi layanan dan produk, serta ekspansi ekosistem transaksi perbankan secara terus-menerus, baik melalui kanal online maupun offline.
Pun ke depannya ia bilang BCA bakal senantiasa mendorong hadirnya platform perbankan untuk transaksi yang aman dan andal, sekaligus menjadi solusi yang relevan bagi kebutuhan nasabah. Yang pada gilirannya, dapat meningkatkan basis nasabah dan jumlah transaksi.
“Hal ini diharapkan dapat terus berkontribusi positif terhadap pertumbuhan pendapatan selain bunga,” sebut Hera.
Di Bank Mandiri trennya tak jauh berbeda. NII Bank Mandiri naik 8,05% yoy menjadi Rp 47,83 triliun, tetapi pendapatan non bunganya naik lebih tinggi 14,9% yoy menjadi Rp 22,78 triliun. Hasil itu utamanya ditopang oleh pendapatan non bunga berulang (recurring non interest income) yang tumbuh 24% yoy menjadi Rp 11,08 triliun.
Secara rinci, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini bilang ini di antaranya didorong oleh fee dari treasuri yang tumbuh 23,2% yoy menjadi Rp 3,88 triliun.
Tak cuman itu, fee kanal digital juga menjadi tulang punggung baru pendapatan non bunga bank. Lihat saja, fee dari aplikasi Livin’ melesat 46,5% yoy menjadi Rp 2,02 triliun dan Kopra tumbuh 19,4% yoy menjadi RP 1,18 triliun.
Tak heran, dalam periode ini aplikasi Livin’ telah digunakan oleh kisaran 41 juta pengguna terdaftar, meningkat 24,3% yoy. Pun Kopra telah melayani sekitar 354.000 pengguna terdaftar, tumbuh 26,8% yoy.
“Dengan pencapaian ini, dengan tingkat profitabilitasnya yang baik, menghasilkan laba Bank Mandiri di Rp 30,4 triliun,” ujar Novita.
Baca Juga: Laba BCA Tumbuh 1,8% Semester I-2026, Simak Rekomendasi Terbarunya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














