kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.590.000   -15.000   -0,58%
  • USD/IDR 17.924   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.242   -56,72   -0,90%
  • KOMPAS100 813   -5,85   -0,71%
  • LQ45 621   -2,15   -0,35%
  • ISSI 215   -3,31   -1,52%
  • IDX30 344   -1,09   -0,32%
  • IDXHIDIV20 429   0,02   0,00%
  • IDX80 93   -0,53   -0,57%
  • IDXV30 116   -0,90   -0,76%
  • IDXQ30 111   -0,10   -0,09%

Fitch Pertahankan Rating BSI (BRIS) di BBB-, Prospek Stabil Usai Jadi BUMN


Jumat, 25 September 2026 / 18:45 WIB
Fitch Pertahankan Rating BSI (BRIS) di BBB-, Prospek Stabil Usai Jadi BUMN
ILUSTRASI. Pelayanan nasabah di Bank Syariah Indonesia (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Fitch Ratings mempertahankan peringkat PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI pada level BBB- dengan prospek stabil. Penilaian tersebut diberikan setelah status BSI resmi berubah menjadi badan usaha milik negara (BUMN) pada awal 2026.

Fitch dalam keterangan 24 September 2026 juga mempertahankan Viability Rating (VR) BSI di level bbb-serta Government Support Rating (GSR) di level bbb-. Sementara itu, Fitch Ratings Indonesia mempertahankan National Long-Term Rating BSI di level AA+(idn) dan National Short-Term Rating di F1+(idn).

Fitch menilai peringkat BSI terutama mencerminkan profil kredit standalone perseroan. Penilaian tersebut ditopang posisi BSI sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, kualitas aset yang berada di atas rata-rata serta profitabilitas yang kuat.

Baca Juga: BCA Perkuat Bakti Pendidikan dan Kesehatan, Sudah Berjalan Lebih dari 20 Tahun

Pada saat yang sama, status BSI sebagai bank milik negara memberikan tambahan dukungan melalui GSR.

Perubahan status kepemilikan menjadi BUMN berlaku sejak 23 Januari 2026. Dengan perubahan tersebut, hak khusus pemerintah sebagai pemegang saham BSI diperluas.

Sebagian hak tersebut kemudian didelegasikan kepada PT Danantara Asset Management (DAM), anak usaha sovereign wealth fund yang mengelola perusahaan-perusahaan milik negara.

BSI juga telah tidak terkonsolidasi dalam laporan keuangan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sejak 1 Februari 2026 dan selanjutnya keluar dari kelompok usaha perbankan Mandiri.

Meski demikian, kepemilikan saham serta perjanjian kerja sama antara BSI dan Bank Mandiri tetap tidak berubah.

Fitch menilai perubahan tersebut lebih merupakan formalisasi struktur kepemilikan dan tata kelola BSI yang sebelumnya sudah ada, sehingga tidak menyebabkan perubahan material terhadap hubungan strategis BSI dengan pemerintah.

Dari sisi bisnis, posisi BSI sebagai pemain dominan di industri perbankan syariah menjadi salah satu penopang rating.

Fitch mencatat BSI menguasai sekitar 43% aset perbankan syariah Indonesia. Sementara itu, penetrasi perbankan syariah terhadap total aset industri perbankan nasional masih sekitar 8%.

Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya ruang bagi pertumbuhan bisnis perbankan syariah. Fitch menilai posisi kompetitif BSI di segmen tersebut cukup kuat dan berkelanjutan sehingga mendukung profil bisnis serta kinerja keuangan dalam jangka menengah.

Profil pembiayaan BSI juga dinilai lebih terdiversifikasi dibandingkan sejumlah bank kelas menengah lainnya. BSI mempertahankan disiplin dalam penyaluran pembiayaan, ditopang porsi pembiayaan payroll yang relatif rendah risiko, akses terhadap debitur korporasi dengan kualitas kredit baik serta pembiayaan yang memiliki agunan memadai.

Pengendalian risiko BSI juga mendapat manfaat dari kerja sama dengan Bank Mandiri yang tetap berjalan meski BSI telah keluar dari kelompok usaha Mandiri.

Dari sisi kualitas aset, Fitch mencatat rasio non-performing financing (NPF) BSI sebesar 1,8% pada akhir Juni 2026, tidak berubah dibandingkan posisi akhir 2025.

Sementara itu, rasio financing at risk turun menjadi 8%, dari 9,2% pada akhir 2025. Penurunan tersebut terutama mencerminkan berkurangnya tekanan pada segmen ritel dan konsumer.

Baca Juga: Sinergi SMV Kementerian Keuangan Dorong Kemiri NTB Menembus Pasar Global

Fitch memperkirakan risiko kualitas aset BSI tetap dapat dikelola. Standar underwriting yang baik serta pencadangan kerugian pembiayaan yang memadai dinilai menjadi bantalan bagi bank apabila terjadi peningkatan risiko kredit.

Fitch juga menaikkan skor earnings and profitability BSI menjadi bbb dari sebelumnya bbb-.

Profitabilitas BSI dinilai konsisten kuat, didukung biaya dana yang rendah, margin pembiayaan yang solid serta rendahnya kepadatan aset tertimbang menurut risiko (risk-weighted asset density).

Fitch memperkirakan tingkat profitabilitas yang kuat tersebut dapat dipertahankan dalam 12–18 bulan ke depan.

Dari sisi permodalan, Fitch memperkirakan rasio common equity Tier 1 (CET1) BSI bertahan sekitar 20% dalam dua tahun ke depan.

Fitch memperkirakan rasio pembayaran dividen BSI akan meningkat setelah pengendalian beralih kepada Danantara. Namun, profitabilitas yang kuat tetap diperkirakan mampu menjaga permodalan pada level yang cukup untuk menyerap potensi kerugian.

Sejalan dengan itu, Fitch menaikkan skor capitalisation and leverage menjadi bbb- dari bb+.

Selain modal dan profitabilitas, struktur pendanaan menjadi salah satu kekuatan BSI.

Fitch menaikkan skor funding and liquidity BSI menjadi bbb- dari bb+. Bank memiliki basis dana ritel syariah yang kuat, termasuk perannya sebagai salah satu bank yang ditunjuk untuk pengelolaan tabungan haji.

Basis dana tersebut membuat BSI memiliki biaya dana terendah di antara bank kelas menengah yang menjadi pembanding Fitch.

Baca Juga: BRI Money Changer Permudah Nasabah Tukar Valas di Lokasi Terdekat dan Strategis

Rasio current account and savings account (CASA) BSI juga relatif stabil di sekitar 61% pada akhir Juni 2026, dibandingkan 62% pada akhir 2025.

Dalam empat tahun terakhir, rata-rata rasio pembiayaan terhadap dana pihak ketiga berada di sekitar 83%, lebih rendah dibandingkan kisaran 88%–96% pada bank-bank terbesar di Indonesia.

Fitch menilai keunggulan BSI dalam memperoleh dana murah dan stabil kemungkinan dapat dipertahankan seiring dengan ekspansi bisnis bank.

Meski rating BSI memiliki prospek stabil, GSR BSI tetap terkait dengan rating pemerintah Indonesia. Fitch menempatkan GSR BSI satu tingkat di bawah rating Indonesia karena mempertimbangkan hubungan strategis dengan pemerintah.

Di sisi lain, tingkat kepentingan sistemik BSI dinilai lebih rendah dibandingkan bank-bank besar yang masuk kategori sistemik. BSI memiliki sekitar 4% pangsa dana pihak ketiga industri perbankan.

Fitch menyebut rating jangka panjang BSI baru berpotensi turun apabila VR dan GSR sama-sama mengalami penurunan.

VR BSI dapat tertekan jika terjadi pelemahan material pada profil keuangan, termasuk memburuknya kualitas aset, kenaikan biaya kredit, pelemahan profitabilitas dan penurunan modal yang signifikan. Salah satu indikatornya adalah rasio CET1 turun di bawah 13% tanpa adanya rencana yang kredibel untuk segera mengembalikannya ke atas level tersebut.

Sementara itu, penurunan rating pemerintah Indonesia berpotensi menurunkan GSR BSI.

Baca Juga: BCA Salurkan Kredit Manufaktur Rp 229,5 Triliun hingga Juni 2026

Sebaliknya, peningkatan rating pemerintah Indonesia dapat membuka ruang bagi kenaikan GSR dan Long-Term IDR BSI. Namun, Fitch menilai kemungkinan tersebut masih terbatas mengingat outlook rating pemerintah Indonesia saat ini masih negatif.

Untuk VR, Fitch melihat ruang kenaikan rating dalam waktu dekat masih terbatas. Peningkatan dapat dipertimbangkan apabila BSI mampu memperkuat profil bisnis secara berkelanjutan tanpa meningkatkan selera risiko, sekaligus mempertahankan perbaikan kualitas aset, profitabilitas, permodalan serta pendanaan dan likuiditas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×