kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.707   26,00   0,15%
  • IDX 6.461   -73,54   -1,13%
  • KOMPAS100 856   -10,81   -1,25%
  • LQ45 651   -8,28   -1,26%
  • ISSI 223   -1,77   -0,79%
  • IDX30 361   -4,82   -1,31%
  • IDXHIDIV20 451   -6,99   -1,53%
  • IDX80 98   -1,17   -1,18%
  • IDXV30 124   -1,89   -1,50%
  • IDXQ30 117   -1,35   -1,15%

Gap Literasi dan Inklusi Sektor Fintech Lending Lebar, Ini Penjelasan OJK


Selasa, 15 September 2026 / 20:07 WIB
Gap Literasi dan Inklusi Sektor Fintech Lending Lebar, Ini Penjelasan OJK
ILUSTRASI. Penggunaan layanan fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) di Indonesia masih menghadapi tantangan (Pinterest/Pinterest)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penggunaan layanan fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) di Indonesia masih menghadapi tantangan. Meskipun tingkat pemahaman masyarakat terhadap layanan tersebut relatif lebih tinggi, tingkat akses atau inklusinya masih jauh lebih rendah.

Berdasarkan Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2026, tingkat literasi sektor fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) tercatat sebesar 24,75%. Sementara itu, tingkat inklusinya hanya mencapai 5,19%.

Kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi fintech lending tersebut menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan, tingkat literasi yang lebih tinggi tidak serta-merta membuat masyarakat memutuskan untuk menggunakan layanan fintech lending.

"Sebab, keputusan untuk menggunakan pembiayaan juga dipengaruhi oleh kebutuhan dan profil risiko masyarakat," ungkapnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Senin (14/9/2026).

Baca Juga: AAJI dan LIMRA-LOMA Luncurkan Program Pacesetter, Cetak Pemimpin Agen Asuransi

Menurut Agusman, kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu direspons oleh industri fintech lending. Untuk itu, pelaku industri didorong memperkuat edukasi kepada masyarakat agar lebih tepat sasaran.

Selain edukasi, Agusman juga mendorong industri fintech lending memperluas akses terhadap layanan pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain, Agusman tak memungkiri bahwa industri fintech lending menghadapi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara peningkatan literasi dan perluasan inklusi keuangan.

Dia bilang tantangannya, antara lain memastikan perluasan akses pembiayaan tetap disertai dengan penguatan manajemen risiko, prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, dan pelindungan konsumen.

Baca Juga: Penerbitan Surat Utang Multifinance Turun 12,71%, OJK Ungkap Prospeknya

"Dengan demikian, dapat berjalan seimbang dengan kualitas pembiayaan dan mendukung pertumbuhan industri yang sehat dan berkelanjutan," kata Agusman.

Sebagai informasi, Hasil SNLIK 2026 menunjukkan tingkat literasi keuangan nasional mencapai 69,57%. Angka tersebut meningkat dibandingkan hasil SNLIK 2025 yang tercatat sebesar 66,54%.

Sementara itu, indeks tingkat inklusi keuangan nasional juga mengalami peningkatan. Pada SNLIK 2026, tingkat inklusi keuangan mencapai 93,61%, naik dari 92,74% pada SNLIK 2025.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×