kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.707   26,00   0,15%
  • IDX 6.461   -73,54   -1,13%
  • KOMPAS100 856   -10,81   -1,25%
  • LQ45 651   -8,28   -1,26%
  • ISSI 223   -1,77   -0,79%
  • IDX30 361   -4,82   -1,31%
  • IDXHIDIV20 451   -6,99   -1,53%
  • IDX80 98   -1,17   -1,18%
  • IDXV30 124   -1,89   -1,50%
  • IDXQ30 117   -1,35   -1,15%

Penerbitan Surat Utang Multifinance Turun 12,71%, OJK Ungkap Prospeknya


Selasa, 15 September 2026 / 19:45 WIB
Penerbitan Surat Utang Multifinance Turun 12,71%, OJK Ungkap Prospeknya
ILUSTRASI. Data OJK menunjukkan, nilai penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 62,19 triliun per Juli 2026, turun 12,71% dibandingkan (KONTAN/Ferry Saputra)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan surat utang oleh perusahaan multifinance masih menghadapi tekanan hingga pertengahan 2026. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, nilai penerbitan surat utang multifinance mencapai Rp 62,19 triliun per Juli 2026, turun 12,71% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski mencatatkan penurunan, OJK melihat ruang bagi perusahaan multifinance untuk kembali memanfaatkan pasar surat utang sebagai sumber pendanaan hingga penghujung tahun ini.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman memperkirakan peluang penerbitan surat utang multifinance masih terbuka hingga akhir 2026.

"Hal itu seiring dengan perkembangan kondisi pasar keuangan dan kebutuhan pendanaan industri multifinance," ungkapnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Senin (14/9/2026).

Baca Juga: Kredit Macet Properti Masih Tinggi di Tengah Pertumbuhan Kredit yang Agresif

Di sisi lain, Agusman sebelumnya menyampaikan bahwa pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI Rate menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi penerbitan surat utang perusahaan multifinance. Kenaikan BI Rate berpotensi meningkatkan biaya dana atau cost of fund.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendorong perusahaan multifinance untuk lebih berhati-hati dalam menerbitkan surat utang. Untuk menghadapi risiko tersebut, Agusman menyampaikan perusahaan multifinance perlu memperkuat pengelolaan risiko suku bunga, antara lain melalui diversifikasi sumber pendanaan dan penguatan efisiensi pendanaan.

Sebelumnya, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) juga menilai keputusan mempertahankan BI Rate di level 5,75% belum menjadi momentum yang cukup kuat bagi perusahaan multifinance untuk meningkatkan penerbitan surat utang.

Baca Juga: BNI Kantongi Laba Rp 14,32 Triliun, Tumbuh 6,9% per Agustus 2026

"Ditahannya BI Rate di level 5,75% memang memberikan kepastian yang lebih baik bagi issuer, tetapi belum dapat dikatakan sebagai momentum yang kuat untuk mempercepat penerbitan obligasi," ucap Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin kepada Kontan.

Ahmad menambahkan, keputusan hold mengurangi risiko kenaikan biaya dana lebih lanjut dalam jangka sangat pendek, tetapi level biaya pendanaan tetap jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Dalam kondisi tersebut, dia bilang penerbitan surat utang kemungkinan masih dilakukan secara selektif, terutama oleh perusahaan multifinance yang memiliki kebutuhan refinancing, rating kuat, dan akses investor yang baik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×