kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.174   21,00   0,12%
  • IDX 4.904   -192,54   -3,78%
  • KOMPAS100 629   -27,90   -4,25%
  • LQ45 497   -20,62   -3,98%
  • ISSI 164   -6,52   -3,83%
  • IDX30 280   -11,04   -3,79%
  • IDXHIDIV20 378   -13,42   -3,43%
  • IDX80 73   -3,14   -4,14%
  • IDXV30 105   -3,49   -3,20%
  • IDXQ30 94   -3,48   -3,57%

Head of International Citi Ernesto: Modal Akan Menuju Ke Tempat Peluang Ekonomi


Rabu, 04 November 2026 / 04:35 WIB
Head of International Citi Ernesto: Modal Akan Menuju Ke Tempat Peluang Ekonomi
ILUSTRASI. Ernesto Torres Cantú, Head of International Citi (CITI/ISTIMEWA)


Reporter: Harris Hadinata | Editor: Harris Hadinata

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lanskap bisnis global tengah berubah, dipicu konflik geopolitik, pergeseran rantai pasok, hingga kebijakan sejumlah negara untuk melindungi kepentingan ekonomi nasionalnya. Perubahan ini juga membuat sejumlah bank global mengubah strategi bisnisnya.

Ini juga dilakukan oleh Citi. Bank asal Amerika Serikat (AS) ini antara lain melepas bisnis consumer banking di luar AS, sebagai salah satu strategi mendorong pertumbuhan. Di Indonesia, Citi melepas bisnis perbankan konsumernya ke Bank UOB Indonesia.

Setelah menjalankan transformasi strategis, Citi kini memusatkan perhatian pada empat bisnis global, yakni Services, Markets, Banking, dan Wealth. Strategi tersebut sukses mendorong performa keuangan Citi.

Citi berhasil mencetak pendapatan US$ 23,8 miliar di kuartal tiga 2026, naik 8% secara tahunan. Menurut keterangan resmi Citi, pertumbuhan tersebut didorong oleh bisnis Services, Markets, Banking, dan Wealth. Sementara pendapatan bunga bersih alias net interest income tumbuh 14%.

Di Indonesia, Citi mencatatkan pendapatan Rp 4,11 triliun per September 2026, naik dibanding Rp 4,03 di periode yang sama setahun sebelumnya. Namun laba bersih tahun berjalan turun dari Rp 2,29 triliun di September 2025 jadi Rp 1,53 triliun di September tahun ini.

Baca Juga: Sejumlah Faktor Ini Membuat Risiko Mobil Listrik Lebih Tinggi bagi Asuransi Umum

KONTAN mendapatkan kesempatan melakukan wawancara secara tertulis dengan Ernesto Torres Cantu, Head of International Citi, yang memimpin seluruh bisnis Citi di luar AS, termasuk juga di Indonesia. Kepada KONTAN, Cantu memaparkan arah transformasi dan strategi bisnis Citi, hingga posisi Indonesia dalam strategi pertumbuhan Citi ke depan. Berikut nukilannya:

KONTAN: Citi telah melakukan perubahan pada strategi bisnis internasionalnya, termasuk melepas operasional perbankan konsumen di luar Amerika Serikat. Bagaimana dampak strategi ini terhadap kinerja keuangan Citi?

Ernesto: Pendapatan kami pada kuartal ketiga merupakan yang terbaik dalam satu dekade terakhir. Kini, Citi telah menjadi institusi yang lebih fokus, yang sangat membantu kami dalam menyederhanakan berbagai hal.

Kami telah menetapkan strategi global dan memusatkan perhatian pada empat bisnis global, yakni Services, Markets, Banking, dan Wealth, serta bisnis Personal Banking di AS. Strategi ini telah membuahkan hasil yang sangat memuaskan.

Kami bertumbuh di hampir semua wilayah, termasuk Indonesia. Citi Indonesia melaporkan hasil keuangan yang kuat untuk paruh pertama tahun 2026, didorong oleh pertumbuhan pinjaman hingga 8% dan dana pihak ketiga sekitar 23% secara tahunan. Kami tetap berkomitmen penuh untuk mendukung pertumbuhan klien kami melalui tiga lini bisnis inti kami yang saling terhubung, yaitu Banking, Markets dan Services.

Saya sangat fokus untuk menghadirkan layanan-layanan tersebut kepada seluruh klien kami di mana pun mereka berada. Investasi yang kami lakukan melalui program transformasi telah memperkuat cara kami beroperasi dan memberikan kapasitas lebih besar untuk berinvestasi pada bisnis, teknologi, dan pertumbuhan di masa depan.

Pencapaian ini mengukuhkan keyakinan kami terhadap strategi dan target yang telah kami sampaikan pada Investor Day (Citi menggelar Investor Day di Mei 2026 silam - red). Kami berfokus untuk mengubah momentum ini menjadi pertumbuhan yang berkelanjutan dengan memperdalam hubungan dengan klien dan menawarkan lebih banyak solusi dari Citi.

KONTAN: Bagaimana posisi Indonesia saat ini dalam strategi global Citi?

Ernesto: Kami sangat bangga Citi beroperasi di lebih dari 90 pasar, dengan dukungan talenta lokal yang luar biasa dan dipimpin oleh talenta lokal, sama seperti franchise kami di Indonesia yang saat ini berada di bawah kepemimpinan Batara (Batara Sianturi, CEO Citi Indonesia - red).

Di Indonesia, kami telah hadir selama hampir 60 tahun. Kami memiliki komitmen yang mendalam untuk membantu para klien kami mencapai ambisi mereka.

Kami adalah bank pertama yang memperkenalkan perbankan elektronik dan bank asing pertama yang meluncurkan kartu kredit di Indonesia. Kami berperan dalam membuka akses bagi investor global untuk berpartisipasi dalam peluang ekonomi di negara ini. Citi telah menjadi bagian penting yang mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Aspirasi kami adalah menjadi mitra perbankan terdepan bagi institusi dengan kebutuhan lintas negara. Artinya, kami ingin menjadi bank andalan bagi klien global yang berbisnis di Indonesia, sekaligus menjadi bank pilihan bagi klien Indonesia yang berekspansi ke seluruh dunia.

Semakin banyak negara tempat kami melayani seorang klien, semakin besar nilai yang dapat kami tawarkan. Saya menyebutnya aspirasi karena menjadi mitra tepercaya adalah sebuah kehormatan yang harus terus kami jaga setiap hari.

KONTAN: Lanskap global kini semakin kompleks akibat fragmentasi geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga meningkatnya proteksionisme. Perkembangan ini mengubah aliran arus modal global. Bagaimana Citi melihat perkembangan ini?

Ernesto: Yang kami saksikan saat ini bukanlah penurunan volume perdagangan, melainkan pergeseran besar dari satu kawasan ke kawasan lainnya. ASEAN secara keseluruhan berada pada posisi yang sangat strategis untuk memanfaatkan pergeseran ini.

Menurut kami, setiap negara memiliki keunggulan yang unik dan saling melengkapi. Contohnya, Indonesia diposisikan sebagai pusat industri baterai dan mineral hulu dalam ekosistem kendaraan listrik (EV) di ASEAN. Dengan cadangan nikel yang melimpah, Indonesia berhasil menarik investasi besar untuk pengembangan pabrik sel baterai dan perakitan.

Baca Juga: Biaya Dana dan Tekanan Margin Bayangi Efisiensi Bank Besar

Sementara itu, Thailand muncul sebagai pusat perakitan dan ekspor EV. Vietnam menciptakan pasarnya sendiri di segmen kendaraan listrik roda dua.

Penataan ulang rantai pasok ini sebenarnya telah dimulai sejak pandemi Covid-19 dan terus berlanjut hingga kini. Perusahaan akan selalu mengutamakan ketahanan (resiliency), dan satu-satunya cara untuk mencapainya adalah dengan memiliki pilihan. Jadi, jika terjadi masalah di satu negara, mereka dapat beralih ke negara lain, terkadang dengan mengorbankan efisiensi demi ketahanan.

Gejolak global bukanlah hal baru, dan Citi memiliki rekam jejak yang panjang dalam mengelola risiko dan membantu klien melewati masa-masa sulit. Kami memberikan berbagai solusi, termasuk lindung nilai untuk mengelola volatilitas pasar, memfasilitasi transaksi lintas negara yang lancar, mengelola likuiditas multi-mata uang, serta menyediakan pembiayaan rantai pasok yang terstruktur.

Pendekatan kami di Citi sangat sederhana: kami mengikuti langkah klien kami. Keputusan kami untuk membuka kantor perwakilan di Guyana pada September lalu sepenuhnya didasari oleh kebutuhan klien, yaitu untuk mendukung ekspansi klien global kami di sektor energi dan infrastruktur di salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

KONTAN: Di tengah tantangan geopolitik dan pergeseran arus investasi global, bagaimana Citi menilai prospek Indonesia?

Ernesto: Meskipun tantangan geopolitik masih ada, proyeksi kami untuk pertumbuhan global tahun ini hanya sedikit terkoreksi menjadi 2,7%. Dari sisi makroekonomi, kami memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,2% pada tahun 2026, setelah mencapai 5,1% pada tahun 2025.

Hal ini sudah tercermin di pasar modal tahun ini. Salah satu buktinya adalah peran Citi sebagai joint lead manager dan bookrunner dalam penerbitan obligasi global senilai US$ 1,5 miliar oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang mengalami kelebihan permintaan hingga hampir lima kali lipat.

Meskipun demikian, Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan terkait sentimen pasar. Untuk dapat melanjutkan kesuksesan ini, arah kebijakan yang jelas dan tindakan regulasi yang responsif akan menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan investor jangka panjang.  

KONTAN: Bagaimana Indonesia bisa memanfaatkan peluang tersebut?

Ernesto: Ada beberapa tren utama di sektor publik, khususnya yang relevan bagi negara berkembang seperti Indonesia. Pertama, permintaan terhadap akses pasar modal internasional semakin meningkat seiring upaya pemerintah dan badan usaha milik negara untuk mendiversifikasi sumber pendanaan mereka.

Kedua, investasi pada infrastruktur publik digital juga terus meningkat, mulai dari sistem pembayaran real-time hingga modernisasi perbendaharaan negara secara digital. Ketiga, terdapat lonjakan kebutuhan pembiayaan untuk proyek infrastruktur dan transisi energi.

Baca Juga: Simpanan Masyarakat Tumbuh 8,65%, Dana Nasabah di Atas Rp 5 Miliar Melonjak

Citi berperan menjembatani ambisi sektor publik dengan sumber-sumber modal investasi global melalui jaringan kami yang tak tertandingi. Kami juga membawa keahlian dalam strategi utang, pasar modal, hubungan investor, lindung nilai, dan pembiayaan proyek untuk membantu pemerintah dan berbagai institusi dalam memobilisasi modal demi mencapai prioritas pembangunan, seraya mengelola risiko secara efektif.

Peran utama kami dalam penerbitan obligasi global Danantara Investment Management adalah contoh nyata dari layanan pasar modal lintas negara yang kami sediakan. Kami merasa terhormat dapat mendukung Danantara sejak awal berdirinya, termasuk melalui fasilitas kredit bergulir, serta mendampingi mereka dari proses pinjaman pertama hingga penerbitan obligasi debut mereka dalam kurun waktu sekitar satu tahun.

KONTAN: Menurut Citi, apakah Indonesia masih menarik sebagai tempat investasi bagi investor?

Ernesto: Modal selalu mencari stabilitas dan prediktabilitas untuk investasi jangka panjang. Hal ini dimulai dari stabilitas ekonomi dan kekuatan institusi, seperti bank sentral.

Ketika faktor-faktor ini terpenuhi, investor internasional akan lebih yakin untuk berinvestasi, karena mereka memiliki gambaran mengenai potensi imbal hasil dalam lima, sepuluh, lima belas hingga dua puluh tahun ke depan. Selain itu, sebuah negara juga harus mampu bersaing secara global untuk menarik investasi.

Saat ini, pasar ekuitas Indonesia memang tengah menghadapi tekanan, termasuk karena isu overhang MSCI dan arus modal asing keluar, yang memengaruhi sentimen pasar secara umum. Namun, di sisi lain, investor jangka panjang tetap melihat adanya peluang-peluang investasi langsung.

Pada akhirnya, aliran modal akan menuju ke tempat di mana peluang ekonomi berada. Keunikan Indonesia terletak pada kombinasi skala demografi yang besar dan kekayaan sumber daya alam yang esensial bagi transisi energi global.

Seiring dengan diversifikasi rantai pasok dan pencarian peluang pertumbuhan jangka panjang oleh berbagai perusahaan, Indonesia memiliki potensi besar untuk diuntungkan. Sebagai contoh, dalam tiga tahun terakhir, ekspor dari Indonesia ke Amerika Utara, Amerika Tengah dan Selatan, serta Timur Tengah terus menunjukkan pertumbuhan.

Agenda industrialisasi hilir yang dicanangkan pemerintah juga turut mendorong perekonomian nasional naik ke jenjang rantai nilai yang lebih tinggi. Dengan mendorong peningkatan pengolahan sumber daya alam di dalam negeri dan mendukung pengembangan ekosistem manufaktur terkait, Indonesia berhasil menciptakan peluang investasi yang lebih besar dan kompleks, yang mampu menarik baik modal domestik maupun internasional.

Kami secara aktif mendukung klien untuk memanfaatkan peluang di industri-industri yang berkembang pesat ini. Di sektor mineral kritis, kami memberikan layanan konsultasi untuk transformasi hilir mineral yang vital bagi elektrifikasi global, di mana kami kembali dipercaya untuk keempat kalinya secara berturut-turut oleh Freeport Indonesia.

Baca Juga: Menkeu Tegaskan Transfer Antarbank Tak Kena PPN, Pajak Hanya Berlaku atas Biaya Jasa

Di sektor akal imitasi (AI), kami berperan sebagai penasihat utang untuk Zankore, sebuah platform infrastruktur AI yang diluncurkan bersama Indosat Ooredoo Hutchison, NVIDIA, dan Nokia.

KONTAN: Indonesia semakin mantap ingin mendirikan Pusat Finansial Internasional. Undang-Undang terkait sudah diumumkan. Menurut Citi, bisakah Indonesia bersaing dengan pusat finansial yang sudah ada?  

Ernesto: Membangun pusat keuangan yang kompetitif secara internasional merupakan tujuan yang ambisius, terlebih di tengah volatilitas pasar dan kehati-hatian investor saat ini. Meskipun skala ekonomi dan potensi pertumbuhan Indonesia menjadi fondasi yang kuat, untuk menjadi pusat keuangan regional yang sesungguhnya, Indonesia perlu memberikan keyakinan kepada investor global bahwa mereka dapat menempatkan dan mengelola modal dengan mudah.

Berdasarkan pengalaman Citi beroperasi di berbagai pusat keuangan internasional terkemuka di dunia, ada tiga elemen yang menjadi sangat penting. Pertama, investor mengutamakan prediktabilitas, yang mencakup konsistensi regulasi, kepastian hukum, dan kerangka penyelesaian sengketa yang transparan, karena semua ini membantu membangun kepercayaan jangka panjang.

Kedua, likuiditas yang memadai. Ini termasuk mobilitas modal yang efisien, yang didukung oleh pasar valuta asing yang dalam dan peraturan investasi lintas negara yang jelas. Ketiga, kapabilitas dan keahlian yang mumpuni juga menjadi daya tarik bagi aktivitas keuangan global. Infrastruktur keuangan dan digital kelas dunia, yang dipadukan dengan ketersediaan talenta-talenta terampil, adalah faktor yang esensial.

Seiring dengan kemajuan Indonesia dalam inovasi pembayaran digital dan keuangan, upaya untuk memperdalam pasar modal dan memperkuat kepercayaan investor merupakan langkah-langkah krusial dalam transisi dari pusat keuangan domestik menjadi gerbang utama yang berkelanjutan bagi modal global.

Baca Juga: Bizhare Catat Pendanaan Lebih dari Rp 300 Miliar pada Kuartal III-2026

KONTAN: Citi telah mengadopsi AI dalam operasionalnya. Bagaimana dampak penggunaan AI ini bagi performa operasional bank?

Ernesto: Kami mengintegrasikan AI ke dalam setiap aspek bisnis kami, dengan tetap memprioritaskan keamanan, kepatuhan, dan inovasi yang bertanggung jawab. Saat ini, perangkat AI internal kami telah digunakan di 87 negara dan yurisdiksi oleh hampir 180.000 karyawan. Saya yakin pemanfaatannya akan terus meningkat secara signifikan.

Kami telah meluncurkan berbagai solusi berbasis AI untuk klien serta perangkat khusus untuk menjawab kebutuhan bisnis yang spesifik. Sebagai contoh, tim Operations Services kami menggunakan CitiService Agent Assist untuk memberikan respons yang lebih cepat dan akurat atas pertanyaan klien.

AI juga telah diintegrasikan ke dalam proses penjaminan kredit wholesale Citi di 41 negara, yang memungkinkan peningkatan volume pemrosesan hingga empat kali lipat.

Citi Indonesia merupakan salah satu bank pertama di tanah air yang meluncurkan perangkat AI internal bagi seluruh karyawannya. Perangkat ini dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas kerja. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×