kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.541.000   10.000   0,40%
  • USD/IDR 18.174   21,00   0,12%
  • IDX 4.904   -192,54   -3,78%
  • KOMPAS100 629   -27,90   -4,25%
  • LQ45 497   -20,62   -3,98%
  • ISSI 164   -6,52   -3,83%
  • IDX30 280   -11,04   -3,79%
  • IDXHIDIV20 378   -13,42   -3,43%
  • IDX80 73   -3,14   -4,14%
  • IDXV30 105   -3,49   -3,20%
  • IDXQ30 94   -3,48   -3,57%

Perebutan Dana Ketat,Permintaan Tinggi Special Rate Bank Diprediksi hingga Akhir 2026


Selasa, 03 November 2026 / 19:58 WIB
Perebutan Dana Ketat,Permintaan Tinggi Special Rate Bank Diprediksi hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Petugas Lembaga Penjamin Simpanan Melayani Nasabah (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan perbankan dalam menghimpun dana pihak ketiga (DPK) masih ketat. Hal ini tercermin dari meningkatnya porsi simpanan nasabah yang memperoleh bunga di atas tingkat bunga penjaminan (TBP) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjadi 36,06% pada September 2026, dari 34% pada Agustus 2026.

Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu mengatakan, peningkatan tersebut terutama berasal dari simpanan nasabah korporasi swasta dan badan usaha milik negara (BUMN) yang memperoleh bunga di atas tingkat penjaminan LPS.

"LPS terus mencermati perkembangan tersebut, terutama dalam kaitannya dengan persaingan penghimpunan dana dan dampaknya terhadap kondisi masing-masing bank," ungkap Anggito dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Selasa (3/11/2026).

Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menilai, permintaan bunga khusus atau special rate dari deposan besar masih relatif tinggi, meskipun mulai terlihat upaya penyesuaian secara bertahap.

Baca Juga: Porsi Simpanan Berbunga di Atas Bunga Penjaminan LPS Naik Jadi 36,06%

Menurutnya, persaingan dana perbankan masih ketat karena pertumbuhan kredit lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan DPK. Pada September 2026, kredit perbankan tumbuh 13,26% secara tahunan atau year on year (YoY), sedangkan DPK tumbuh 8,22% YoY.

Kondisi tersebut membuat bank masih membutuhkan dana untuk mendukung ekspansi kredit. Di sisi lain, pemilik dana besar memiliki daya tawar yang kuat karena dapat memindahkan simpanannya ke bank lain maupun instrumen investasi alternatif.

Josua menjelaskan, tekanan bunga khusus tidak serta-merta menunjukkan industri perbankan mengalami kekurangan likuiditas secara keseluruhan. Sebab, rasio alat likuid terhadap DPK atau liquid assets to deposit ratio (AL/DPK) masih memadai di level 24,08%.

"Persoalan utamanya adalah konsentrasi dana pada deposan besar yang memiliki kemampuan memindahkan simpanan antarbank," jelas Josua.

Dia menyebut, kelompok deposan besar yang dominan berasal dari korporasi swasta, disusul rekening pemerintah, BUMN, lembaga keuangan nonbank, serta individu dengan kekayaan besar.

Khusus korporasi, penempatan deposito menjadi bagian dari strategi pengelolaan kas. Karena itu, imbal hasil deposito akan dibandingkan dengan instrumen lain seperti surat berharga negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), maupun instrumen pasar uang lainnya.

Josua memperkirakan, penggunaan bunga khusus masih akan bertahan hingga akhir 2026, tetapi penerapannya cenderung semakin selektif. Pasalnya, sebagian deposito masih terikat kontrak, sementara imbal hasil instrumen pasar keuangan masih menarik dan kebutuhan pendanaan setiap bank berbeda-beda.

Bahkan, survei perbankan memperkirakan biaya dana rupiah meningkat dari sekitar 4,17% pada kuartal III menjadi 4,39% pada kuartal IV 2026.

Baca Juga: Dana Deposito Jumbo Masih Diburu, Special Rate Jadi Tantangan Bank

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap deposito berbunga tinggi, bank perlu memperbesar penghimpunan dana murah atau current account and savings account (CASA). Caranya antara lain dengan memperkuat layanan transaksi, penggajian atau payroll, pengelolaan kas korporasi, serta pembiayaan rantai pasok.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan mengatakan, masyarakat kini memiliki berbagai alternatif untuk menempatkan dana, tidak hanya melalui tabungan dan deposito. Instrumen seperti obligasi ritel atau ORI, SBN, hingga SRBI juga menjadi pilihan investor.

Namun, untuk segmen masyarakat luas, produk tabungan dan deposito masih menjadi pilihan karena nilai penempatannya relatif kecil.

"Maka fokus kami tetap di CASA untuk dana yang lebih murah. Lewat payroll, operating account, cash management, dan memang pengelolaan likuiditas yang lebih efisien menjadi semakin penting. Melihat NIM akan tetap challenging," ujar Lani.

Sementara itu, Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo mengatakan, persaingan dana masih menjadi tantangan utama perbankan, baik dengan bank konvensional, sesama bank digital, maupun instrumen investasi ritel seperti SBN.

Selain itu, kemampuan menabung masyarakat, terutama segmen menengah ke bawah, masih dipengaruhi kondisi daya beli. Industri perbankan juga perlu mengurangi ketergantungan terhadap dana besar yang terkonsentrasi dan berbiaya mahal.

Untuk memperkuat pendanaan, Allo Bank berupaya membangun kebiasaan transaksi dan menabung nasabah agar layanan bank menjadi bagian dari aktivitas keuangan sehari-hari.

Perseroan juga memperluas integrasi ekosistem dan kemitraan, termasuk layanan payroll, serta memanfaatkan data dan pemahaman nasabah untuk memberikan penawaran lebih personal.

"Keempat, mengelola pricing simpanan secara dinamis dan selektif berdasarkan tenor dan segmen. Dengan pendekatan ini, kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan struktur pendanaan yang lebih kuat," kata Destya.

Baca Juga: Bank Mandiri Akui Permintaan Special Rate Deposito Naik,Porsi Nasabah Besar Capai 60%

Di sisi lain, Direktur Network & Retail Funding BTN, Rully Setiawan mengatakan, tren pemberian special rate di BTN secara umum menunjukkan penurunan seiring arahan regulator dan kondisi pasar likuiditas yang lebih stabil.

Menurutnya, besaran bunga khusus bervariasi bergantung pada jumlah dana, tenor, serta profil nasabah. Kontribusi deposan besar memang signifikan, tetapi masih dalam batas yang dikelola perseroan.

BTN juga memperkirakan tren special rate akan semakin menurun. Untuk itu, perseroan memperkuat penghimpunan tabungan dan transaksi melalui aplikasi Bale, serta layanan digital Bale Bisnis dan Bale Korpora.

Selain itu, BTN mengoptimalkan pengelolaan hubungan nasabah melalui solusi kredit, treasury, dan cash management. Perseroan juga menawarkan instrumen lain seperti obligasi dan layanan wealth management sesuai kebutuhan nasabah.

Dengan strategi tersebut, perbankan diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada deposito berbunga tinggi, menekan biaya dana, serta menjaga ruang pertumbuhan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM).

Baca Juga: OJK Soroti Special Rate Deposito, Bank Diminta Tak Agresif Berebut Dana

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×