kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.880.000   90.000   3,23%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Industri BPR Tunggu Digitalisasi LPS, Harap Efisiensi & Pengelolaan Risiko Meningkat


Jumat, 23 Januari 2026 / 13:33 WIB
Industri BPR Tunggu Digitalisasi LPS, Harap Efisiensi & Pengelolaan Risiko Meningkat
ILUSTRASI. BPR Jatim (lydia.tesaloni (KONTAN)/BPR Jatim)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) masih menantikan realisasi program penyediaan infrastruktur teknologi informasi (IT) dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Program ini dinilai krusial untuk meningkatkan standar operasional, efisiensi biaya, serta memperkuat manajemen risiko di industri BPR.

Sejak dua tahun terakhir, LPS telah merencanakan transformasi sistem IT untuk perbankan daerah. Namun, implementasinya hingga kini belum berjalan penuh.

Baca Juga: MUF Beberkan Peluang dan Tantangan yang Bisa Pengaruhi Kinerja Laba pada 2026

“Kami menyambut baik. Pengembangan IT di industri BPR itu mahal, dan tidak semua BPR mampu membangun infrastruktur sendiri,” ujar Direktur Utama BPR Jatim Irwan Eka Wijaya Arsyad kepada wartawan, Kamis (22/1/2026).

Menurut Irwan, keberadaan platform digital yang dibangun LPS akan sangat membantu BPR kecil yang memiliki keterbatasan modal.

Dengan sistem IT terpusat, BPR dapat memiliki standar digital yang lebih baik dibandingkan membangun teknologi secara mandiri.

“Selama ini kemampuan BPR dalam pengembangan teknologi sangat bergantung pada skala usaha masing-masing. Yang mampu berinvestasi di IT bisa beroperasi di atas rata-rata standar industri, sementara yang tidak, kerap tertinggal. Jumlah BPR dengan keterbatasan modal cukup banyak,” kata Irwan.

Selain meningkatkan standar operasional, program digitalisasi LPS juga berpotensi menekan biaya operasional BPR. Sebagian besar BPR masih padat karya, sehingga efisiensi menjadi tantangan tersendiri.

Dari sisi risiko, digitalisasi dinilai mampu memperkuat pengelolaan usaha BPR.

Baca Juga: Survei BI: Kredit Tumbuh Lebih Lambat pada Kuartal I-2026

“Risiko BPR relatif lebih tinggi dibanding bank umum, terutama karena ketergantungan pada beberapa debitur besar. Salah kelola satu atau dua debitur bisa mengganggu likuiditas dalam jangka panjang. Dengan sistem IT yang lebih baik, risiko ini dapat dikurangi,” tegas Irwan.

Karena itu, BPR Jatim berharap program digitalisasi LPS segera diimplementasikan, sehingga BPR, khususnya yang belum mampu membangun IT sendiri, dapat merasakan manfaatnya.

“Program ini sudah lama ditunggu. Kami berharap segera direalisasikan karena sangat membantu industri BPR,” pungkasnya.

Selanjutnya: Bulog Bakal Jadi Badan Otonom, Presiden Targetkan Kemandirian Pangan Nasional

Menarik Dibaca: Diskon Pepper Lunch 50%: BRI Beri Promo Kilat 3 Hari

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×