Reporter: Ferry Saputra | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Data statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) industri penjaminan meningkat dari 49,08% per akhir 2024, menjadi sebesar 67,73% per akhir 2025. Alhasil, laba industri penjaminan per akhir 2025 tertekan atau menurun 27,83% menjadi sebesar Rp 968,24 miliar atau Rp 0,97 triliun.
Mengenai hal itu, Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) menilai terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi. Sekretaris Jenderal Asippindo Agus Supriadi mengatakan salah satunya dipengaruhi kenaikan beban klaim penjaminan. Hal itu sejalan dengan meningkatnya risiko kredit debitur Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan sektor produktif akibat perlambatan ekonomi dan tekanan suku bunga.
"Dipengaruhi juga peningkatan biaya operasional, terutama untuk penguatan manajemen risiko, penyesuaian sistem teknologi informasi, serta pemenuhan regulasi dan tata kelola yang makin ketat," ujarnya kepada Kontan, Rabu (18/2).
Baca Juga: Danamon dan Adira Perpanjang Bunga Spesial KPM Prima hingga Akhir Februari 2026
Selain itu, Agus menerangkan pertumbuhan pendapatan Imbal Jasa Penjaminan (IJP) yang lebih lambat dibandingkan kenaikan biaya juga membuat efisiensi operasional menurun. Ditambah, adanya persaingan industri yang makin ketat, sehingga menekan tarif penjaminan dan berdampak pada margin usaha.
"Beberapa kondisi tersebut secara agregat mendorong rasio BOPO meningkat dan menekan profitabilitas industri penjaminan," ungkapnya.
Untuk 2026, Asippindo memproyeksikan kondisi industri penjaminan akan berangsur membaik. Namun, Agus tak memungkiri industri masih menghadapi berbagai tantangan. Dia bilang fokus utama industri pada 2026 akan tertuju pada pemulihan kualitas penjaminan, dengan seleksi risiko yang lebih prudent agar klaim dapat terkendali.
"Perbaikan efisiensi operasional, sehingga BOPO diharapkan menurun secara bertahap ke level yang lebih sehat," tuturnya.
Agus menuturkan industri juga akan berfokus melakukan optimalisasi portofolio penjaminan, khususnya pada segmen produktif dan program pemerintah yang memiliki skema mitigasi risiko. Dengan langkah-langkah tersebut, dia memperkirakan laba industri penjaminan dapat tumbuh secara moderat, meskipun belum kembali ke level optimal seperti sebelum tekanan ekonomi.
"BOPO diperkirakan masih menjadi fokus utama industri sepanjang tahun ini, sejalan dengan upaya menjaga keberlanjutan kinerja dan daya saing," kata Agus.
Baca Juga: Catatan Net Sell Saham Bank BUMN Diproyeksi Tak Bertahan Lama
Selanjutnya: Harga Emas Antam Diproyeksi Melonjak Memasuki Bulan Ramadan 2026
Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Kota Batu Ramadan 2026 Lengkap
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)