kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 18.185   38,00   0,21%
  • IDX 5.266   -106,96   -1,99%
  • KOMPAS100 682   -13,68   -1,97%
  • LQ45 533   -9,14   -1,69%
  • ISSI 179   -4,42   -2,41%
  • IDX30 300   -4,55   -1,49%
  • IDXHIDIV20 399   -1,83   -0,46%
  • IDX80 79   -1,55   -1,93%
  • IDXV30 111   -0,19   -0,17%
  • IDXQ30 101   -0,86   -0,84%

Ketidakpastian Ekonomi Tekan Kinerja Industri Reasuransi


Selasa, 27 Oktober 2026 / 19:59 WIB
Ketidakpastian Ekonomi Tekan Kinerja Industri Reasuransi
ILUSTRASI. Premi reasuransi turun 16,1% menjadi Rp 10,51 triliun pada semester I-2026, sementara klaim meningkat 26,4%. (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Belva Safina | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri reasuransi nasional menghadapi tekanan kinerja pada semester I-2026 seiring melemahnya pertumbuhan premi dan meningkatnya beban klaim. Ketidakpastian ekonomi, persaingan pasar global, hingga perubahan risiko menjadi sejumlah faktor yang membayangi prospek bisnis reasuransi ke depan.

Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan, premi industri reasuransi tercatat sebesar Rp 10,51 triliun pada semester I-2026. Nilai tersebut turun 16,1% secara tahunan atau year on year (YoY).

Di sisi lain, klaim reasuransi justru meningkat sekitar 26,4% YoY menjadi Rp 3,95 triliun pada periode yang sama. Ketua AAUI Budi Herawan mengatakan, kondisi tersebut mencerminkan tekanan yang dihadapi industri reasuransi, baik dari sisi pertumbuhan premi maupun peningkatan beban klaim.

Budi menjelaskan, pertumbuhan premi reasuransi memang cenderung berada di bawah ekspektasi. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik bisnis reasuransi yang sangat bergantung pada perkembangan industri asuransi langsung. Sejumlah lini bisnis asuransi mengalami perlambatan akibat ketidakpastian ekonomi.

Baca Juga: Avrist Sebut Prospek Unitlink Kuartal IV-2026 Masih Dipengaruhi Kondisi Pasar

"Ketika bisnis properti, kredit, energi, dan engineering mengalami perlambatan, premi yang dialihkan kepada perusahaan reasuransi juga ikut berkurang," ujarnya kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).

Selain perlambatan bisnis domestik, kondisi pasar reasuransi global yang tengah memasuki fase soft market turut menekan pendapatan premi. Dalam kondisi tersebut, kapasitas reasuransi relatif besar dan harga pertanggungan menjadi lebih kompetitif.

Meski demikian, Budi menilai pencapaian target setiap perusahaan reasuransi dapat berbeda, bergantung pada komposisi portofolio dan strategi bisnis yang diterapkan.

Tantangan Industri Reasuransi: Klaim, Modal, dan Risiko Global

Ke depan, Budi mengatakan tantangan utama industri reasuransi adalah menjaga keseimbangan antara pertumbuhan premi, peningkatan klaim, dan kecukupan modal.

Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, meningkatnya risiko bencana alam, serta volatilitas nilai tukar menjadi sejumlah faktor yang perlu diantisipasi oleh perusahaan reasuransi.

"Sebab, sebagian perlindungan reasuransi dan retrosesi masih melibatkan pasar internasional," tuturnya.

Untuk menghadapi tekanan tersebut, Budi menilai perusahaan reasuransi perlu lebih selektif dalam menerima risiko, memperkuat kualitas underwriting, memperbaiki pengelolaan klaim, serta memastikan premi yang diterima sebanding dengan risiko yang ditanggung.

Penguatan permodalan dan kapasitas reasuransi domestik juga menjadi aspek penting. Langkah tersebut diperlukan agar industri reasuransi nasional tidak terlalu bergantung pada kapasitas pasar luar negeri.

Kendati menghadapi berbagai tantangan, Budi melihat prospek jangka menengah industri reasuransi masih cukup besar. Rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia serta meningkatnya kebutuhan perlindungan terhadap risiko bencana, infrastruktur, dan risiko baru berpotensi membuka peluang pertumbuhan.

Namun, menurut dia, fokus industri ke depan tidak seharusnya hanya mengejar pertumbuhan premi. Perusahaan perlu mengutamakan pertumbuhan bisnis yang sehat, menguntungkan, dan berkelanjutan.

PSAK 117 dan Lonjakan Klaim Tekan Kinerja Reasuransi

Sementara itu, Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo mengatakan industri reasuransi masih menghadapi sejumlah tantangan yang dapat memengaruhi kinerja ke depan.

Pada segmen reasuransi jiwa, tekanan masih berasal dari tingginya kontribusi dan beban klaim pada lini bisnis kesehatan, baik kumpulan maupun individu. Kedua segmen tersebut mendominasi porsi portofolio reasuransi jiwa.

Baca Juga: Rasio Permodalan Bank Besar Menyusut, Begini Prospeknya hingga Akhir 2026

Selain itu, pemberlakuan standar akuntansi keuangan baru, yakni Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 117, turut mengubah pengakuan pendapatan premi melalui penerapan contractual service margin (CSM).

Perubahan tersebut menuntut perusahaan untuk meningkatkan kedisiplinan aktuarial, memperkuat tata kelola data, serta menjaga kecukupan modal.

Secara umum, Irvan menilai kinerja industri reasuransi saat ini masih tertekan dan cenderung berada di bawah ekspektasi, terutama dari sisi perolehan premi bruto. Meski begitu, beberapa perusahaan reasuransi nasional mampu membukukan hasil underwriting bersih yang melampaui target internal berkat strategi perbaikan portofolio.

"Tekanan performa itu didorong oleh kombinasi tantangan operasional domestik dan persaingan global yang ketat," ucapnya kepada Kontan, Selasa (27/10).

Irvan menambahkan, dinamika industri reasuransi semakin menantang akibat pengetatan regulasi, ketidakpastian ekonomi, dan peningkatan risiko global.

Menurut dia, sejumlah tantangan utama yang harus dihadapi perusahaan mencakup pemenuhan batas minimum modal baru, penerapan standar akuntansi PSAK 117, serta lonjakan klaim yang dipicu perubahan iklim dan ketidakpastian geopolitik.

Untuk menjaga keberlanjutan bisnis, Irvan berpendapat perusahaan reasuransi perlu mengantisipasi berbagai tantangan tersebut melalui strategi mitigasi risiko yang lebih terperinci atau granular.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×