Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk melihat tantangan industri perbankan pada awal 2026 masih dipengaruhi ketidakpastian global yang belum sepenuhnya mereda. Dinamika geopolitik, arah kebijakan perdagangan global, hingga volatilitas harga komoditas dinilai masih menjadi faktor eksternal yang perlu dicermati.
Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan mengatakan, dari sisi domestik kondisi moneter memang mulai lebih akomodatif. Namun, transmisi penurunan suku bunga ke sektor riil dinilai masih berlangsung bertahap sehingga dampaknya terhadap aktivitas ekonomi maupun pembiayaan belum merata.
“Memasuki awal 2026, tantangan masih berasal dari ketidakpastian global. Di dalam negeri, meski kebijakan moneter lebih akomodatif, transmisi penurunan bunga ke sektor riil masih bertahap,” ujarnya saat paparan kinerja perseroan, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga: Penyaluran KUR Bank Mandiri Tembus Rp 41 Triliun di 2025
Dari sisi risiko industri, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan hingga November 2025 masih relatif terjaga di kisaran 2,21%. Meski demikian, Bank Mandiri tetap mewaspadai sektor-sektor yang sensitif terhadap pelemahan permintaan maupun volatilitas harga komoditas.
Karena itu, perseroan secara konsisten mengarahkan penyaluran kredit ke sektor-sektor yang dinilai prospektif dan memiliki ketahanan kuat. Strategi tersebut didukung disiplin underwriting serta pemantauan portofolio kredit yang ketat.
Riduan menambahkan, kualitas aset Bank Mandiri hingga saat ini tetap solid. Rasio NPL perseroan terjaga di bawah 1%, sementara rasio pencadangan kredit bermasalah (NPL coverage ratio) mencapai sekitar 253%.
Baca Juga: Bank Mandiri Masih Jadi Jawara Kuasai Pasar Kredit Sindikasi di Akhir 2025
Menurutnya, tingginya coverage ratio tersebut menjadi langkah antisipatif terhadap potensi penurunan kualitas aset di tengah ketidakpastian ekonomi ke depan.
Ke depan, Bank Mandiri menegaskan akan menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan prinsip kehati-hatian. Fokus utama diarahkan pada pertumbuhan kredit berkualitas, penguatan manajemen risiko, serta optimalisasi ekosistem digital banking.
“Dengan fundamental yang solid dan buffer risiko yang memadai, kami optimistis Bank Mandiri dapat tumbuh berkelanjutan sekaligus menjalankan peran sebagai agent of development dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Riduan.
Asal tahu saja, Pada 2025 lalu Bank Mandiri berhasil mengantongi laba bersih konsolidasi Rp 56,3 triliun. Capaian ini naik 0,93% secara tahunan atau year on year (yoy).
Hal ini salah satunya ditopang oleh kinerja pendapatan bunga bersih BMRI yang naik 4,38% yoy menjadi Rp 106 triliun dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 102 triliun.
Selanjutnya, total aset Bank Mandiri tumbuh 16,6% menjadi Rp2.829,9 triliun, sejalan dengan penyaluran kredit yang meningkat 13,4 persen YoY menjadi Rp1.895,0 triliun. Bank berkode emiten BMRI ini menambahkan, pertumbuhan kredit tersebut ditopang oleh peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp2.105,8 triliun, tumbuh 23,9% YoY.
Baca Juga: Portofolio Pembiayaan Berkelanjutan Bank Mandiri Capai Rp 316 Triliun di Tahun 2025
Selanjutnya: Di IIMS 2026, Mitsubishi Komitmen Percepat Ekspor Destinator ke 50 Negara
Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Jumat 6 Februari 2026, Keadaan Harmonis
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













