Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja bank digital bergerak beragam menjelang akhir tahun. Kondisi ini menandakan bahwa industri bank digital di Tanah Air mulai memasuki fase baru, yakni pengujian keberlanjutan model bisnis inti perusahaan.
Perbedaan laju profitabilitas di industri ini tergambar dari realisasi kinerja sejumlah bank digital pada kuartal ketiga tahun ini.
Laba PT Bank Jago Tbk (ARTO) naik 49,69% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 298,08 miliar. Sementara itu, laba PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) naik 398,77% yoy menjadi Rp 299,89 miliar.
Baca Juga: OK Bank (DNAR) Imbau Pemegang Saham Konversi Saham Warkat ke Saham Tanpa Warkat
Di sisi lain, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) membukukan laba bersih turun 11% yoy menjadi Rp 338,1 miliar. PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) mencatatkan laba bersih turun 7% yoy menjadi Rp 430,98 miliar.
Pengamat perbankan sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Trioksa Siahaan, menilai bahwa tekanan profitabilitas yang dialami oleh sebagian bank digital utamanya disebabkan oleh meningkatnya biaya pencadangan dan operasional.
Beban tersebut kerap kali tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan yang sepadan.
Menurut Trioksa, pelaku industri tidak bisa lagi semata-mata mengandalkan pertumbuhan jumlah nasabah maupun ekspansi kredit untuk bertahan.
Perusahaan perbankan digital dituntut untuk mampu menjaga biaya dana, kualitas kredit, serta efisiensi operasional secara bersamaan.
"Bank digital yang berhasil meningkatkan laba umumnya memiliki ekosistem bisnis yang kuat, sumber pendanaan yang semakin efisien, serta kemampuan menyalurkan kredit secara produktif dengan risiko terkendali," ujar Trioksa kepada Kontan, Rabu (4/11/2026).
Prospek bank digital hingga tutup tahun ini dinilai masih tetap positif, meskipun tren pertumbuhan labanya diperkirakan akan bergerak lebih selektif.
Peluang terbesar untuk mempertahankan profitabilitas berada pada bank yang memiliki struktur pendanaan sehat, kualitas aset yang senantiasa terjaga, serta efisiensi operasional yang membaik.
Ke depan, parameter kesuksesan bank digital akan berubah secara fundamental. Ukuran utamanya bukan lagi bertumpu pada seberapa cepat perusahaan mengakuisisi nasabah dan menyalurkan kredit, melainkan seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu dikonversi menjadi laba bersih yang sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga: BNI Revisi Target Pertumbuhan Kredit 2026 Jadi 10%–13%, Ini Alasannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
