Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kepastian jadwal penarikan dana saldo anggaran lebih (SAL) membuat himpunan bank milik negara (Himbara) bisa lebih leluasa mengatur strategi pendanaannya, termasuk Bank Negara Indonesia (BNI).
Direktur Keuangan dan Strategi BNI Hussein Paolo Kartadjoemena mengungkapkan, dana SAL yang ditempatkan pemerintah di BNI sempat mencapai Rp 95 triliun, sebelum kemudian turun menjadi Rp 75 triliun pada September 2026.
Bulan ini, pada November 2026, Paolo bilang penarikan bakal kembali dilakukan sehingga saldo SAL di BNI turun menjadi Rp 55 triliun.
Lebih lanjut ia bilang kejelasan jadwal penarikan ini sangat membantu BNI dalam mengelola likuiditas. Pasalnya, bank dapat mempersiapkan likuiditas secara bertahap alih-alih harus merespons penarikan dana secara mendadak.
Baca Juga: Bank Digital Perluas Strategi Bisnis, Transaksi Harian Jadi Sasaran Baru
Sebelumnya, tepatnya pada Juni 2026, Himbara memang sempat menerima pengumuman tak terduga tentang penarikan dana SAL pemerintah.
Paolo bilang reaksi pasar terhadap pengumuman itu signifikan: persaingan ketat penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) otomatis terjadi karena bank-bank berupaya membangun cadangan likuiditas dengan berbagai cara.
“Kami juga ikut berpartisipasi dalam persaingan tersebut untuk menjaga basis bisnis kami. Kondisi ini tercermin dalam angka kinerja kuartal III.” kata Paolo dalam pertemuan analis pekan lalu.
Memang, pada kuartal III-2026 saja, biaya dana (cost of fund/CoF) bank naik cukup signifikan menjadi 3,16%. Sebagai perbandingan, CoF bank pada kuartal I-2026 dan kuartal II-2026 masing-masing sebesar 2,49% dan 2,63%.
Kendati begitu, secara kumulatif sembilan bulan, CoF BNI masih terjaga di level 2,77%, relatif lebih rendah dari posisi 2,83% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: BNI Revisi Target Pertumbuhan Kredit 2026 Jadi 10%–13%, Ini Alasannya
Dari dinamika tersebut, kata Paolo, terlihat bahwa sebenarnya likuiditas di sistem perbankan tersedia. Namun, jika tiba-tiba membutuhkan dana dalam jumlah sangat besar, bank harus bersedia membayar dengan tingkat bunga yang lebih tinggi. Dus, BNI memprediksi biaya dana masih bakal tinggi hingga setidaknya kuartal I-2027.
Kendati begitu, bank mencermati berbagai katalis positif yang dapat menyokong pendanaan. Salah satunya, kebijakan Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75% dan menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM).
“Kedua kebijakan tersebut memberikan dampak positif bagi likuiditas dan stabilitas pendanaan perbankan ke depan,” sebut Paolo.
Selain itu, bank juga berupaya memperkuat fondasi struktural pendanaan, utamanya melalui dana murah yang tumbuh 19,6% secara tahunan menjadi Rp 733,7 triliun per September 2026.
Paolo menegaskan bahwa pertumbuhan tersebut tak semata-mata dicapai dengan menawarkan suku bunga tinggi, alih-alih didorong oleh pendalaman hubungan transaksi perbankan dengan nasabah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














