kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Koperasi incar para petani kentang


Selasa, 20 Februari 2018 / 18:00 WIB
ILUSTRASI. Panen kentang


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Koperasi dan UKM (Kemkop UKM) berupaya mengoptimalkan bisnis koperasi. Salah satu cara dengan melayani kebutuhan para petani kentang.

Instansi ini pun menggelar focus group discussion (FGD) dengan tema Pemberdayaan Petani Kentang Melalui Penguatan Koperasi, di Kota Bogor, Selasa (20/2). "Tujuan dari FGD ini adalah memberikan solusi bagi petani untuk mengembangkan komoditas kentang melalui koperasi sebagai motor penggerak," kata Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kemkop dan UKM Abdul Kadir Damanik, dalam keterangan tertulis, Selasa (20/2).

Damanik menyatakan saat ini, produktifitas kentang di Indonesia tergolong rendah dibanding negara maju. Produktifitas kentang di Indonesia saat ini berkisar 13 ton per hektar, sedangkan di negara maju lebih dari 30 ton per hektar. Namun, dengan adanya perkembangan teknologi pertanian yang diadopsi petani, varietas kentang berkualitas tinggi diharapkan bisa didapatkan sehingga produktifitas kentang juga meningkat.

Ia berharap dengan berkiprahnya koperas ke para petani kentang, diharapkan bisa memberi harga kentang yang layak ke para petani kentang. Ketimbang menjual ke para pedagang yang punya mata rantai. "Bahkan, juga diharapkan koperasi ini mampu mengolah menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah, sehingga memberikan nilai dan harga yang menguntungkan bagi petani kentang", jelas Damanik.

Damanik menjelaskan, di Korea Selatan sudah terjadi kolaborasi antara pengusaha dengan ahli kentang dari universitas. Mereka terus membangun varietas kentang dengan tujuan kepentingan bisnis. "Mereka akan membangun lembaga riset untuk mengembangkan kentang di Indonesia. Sebagai langkah awal, mereka akan mendatangi dan melihat petani kentang di wilayah Pangalengan (Bandung) dan Dieng (Jawa Tengah)," kata Damanik.

Asal tahu saja, Indonesia masih mengoimpor kentang. Tahun lalu ada sekitar 109.359 ton kentang senilai US$ 17,07 juta yang diimpor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×