kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Korea Selatan membantah bilateral swap Indonesia


Kamis, 26 September 2013 / 18:04 WIB
Korea Selatan membantah bilateral swap Indonesia
ILUSTRASI. A 3D printed Whatsapp logo is placed on the keyboard in this illustration taken April 12, 2020. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration


Sumber: Reuters |

SEOUL. Mengejutkan! Korea Selatan hari ini membantah telah membahas kerja sama mata uang dua negara (bilateral swap) dengan Indonesia. Tak tanggung-tanggung, sanggahan ini disampaikan oleh dua otoritas keuangan negeri ginseng itu yakni Kementerian Strategi Keuangan dan Bank Sentral Korea (Bank of Korea).

"Tidak ada diskusi atau kesepakatan yang dibuat antara dua negara (mengenai perjanjian bilateral swap) termasuk dalam besaran dan persyaratan swap," demikian pernyataan tegas dua institusi keuangan Korea dalam sebuah pernyataan bersama, seperti dikutip dari Reuters.

Sikap tegas ini merupakan reaksi atas komentar pejabat di Indonesia yang berulang kali mengatakan perjanjian bilateral swap tersebut akan segera ditandatangani.

Indonesia diketahui berusaha mencari perjanjian swap untuk menopang mata uang rupiah yang lemah dan jatuh hampir 16% terhadap dollar AS sepanjang tahun ini.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian MS Hidayat menggembor-gemborkan bahwa Indonesia mengajukan bilateral swap ke China dan Korea Selatan. Rinciannya dari China sebesar US$ 15 miliar dan Korea sekitar US$ 10 miliar.

Menurutnya, jika kesepakatan tersebut berhasil diteken, total dana cadangan krisis alias second line of defense hampir mencapai US$ 40 miliar. Dana itu akan masuk sebagai cadangan devisa.

Menurut Hidayat, kesepakatan tersebut akan diteken bulan depan. “Antara 2-3 Oktober ketika Presiden China, Xi Jinping datang ke Indonesia,” ujarnya di gedung Bank Indonesia, Selasa (24/9).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×