Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar properti residensial tengah menghadapi tekanan. Membeli rumah kini menjadi langkah yang semakin eksklusif, bukan hanya karena harga properti yang terus naik, tetapi juga akibat daya beli masyarakat yang semakin melemah.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) melambat signifikan, dari 16,31% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Maret 2025 menjadi hanya 4,79% YoY pada Maret 2026.
Baca Juga: Aksi Korporasi Bank Asing Kembali Semarak, Bagaimana Kinerjanya di Indonesia?
Tak hanya nilai pertumbuhannya yang turun, proporsi pembelian rumah melalui skema KPR juga menyusut tipis menjadi 69,87% pada kuartal I-2026, dari sebelumnya 70,68% pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, proporsi pembelian secara tunai bertahap dan tunai penuh justru meningkat masing-masing menjadi 19,61% dan 10,53%.
Sejalan dengan itu, survei Bank Indonesia (BI) menunjukkan penjualan rumah pada kuartal I-2026 turun 25,67% YoY.
Padahal pada periode yang sama tahun sebelumnya, penjualan rumah masih mampu tumbuh tipis sebesar 0,73% YoY.
Jika dirinci berdasarkan tipe rumah, penjualan rumah tipe kecil dan besar sama-sama mengalami kontraksi.
Penjualan rumah tipe kecil anjlok hingga 45,59% YoY, sedangkan rumah tipe besar turun 8,03% YoY.
Di sisi lain, penjualan rumah tipe menengah masih mampu tumbuh 8,28% YoY pada periode yang sama.
Baca Juga: Quiet Investing Jadi Strategi Investasi Tenang di Tengah Pasar Dinamis
Ekonom Universitas Airlangga (Unair) Rahma Gafmi menilai, penurunan tajam penjualan rumah tipe kecil menjadi sinyal paling mengkhawatirkan.
Menurutnya, rumah tipe kecil umumnya dibeli oleh pembeli rumah pertama atau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Lesunya penjualan mencerminkan tekanan inflasi dan kenaikan biaya hidup yang tidak diimbangi pertumbuhan upah.
“Itu membuat kelompok ini menunda pembelian aset tetap,” ujar Rahma kepada Kontan, Senin (18/5/2026).
Sementara itu, penurunan penjualan rumah tipe besar dinilai mencerminkan sikap wait and see kelompok masyarakat atas. Di tengah volatilitas pasar global dan pergerakan nilai tukar, kelompok ini cenderung memilih menempatkan dana pada instrumen likuid seperti SRBI atau deposito valuta asing.
Rahma juga menyoroti sikap perbankan yang kini lebih selektif dalam menyalurkan KPR.
Baca Juga: Pembiayaan Griya BSI Tembus Rp60 Triliun hingga Maret 2026.
Menurutnya, pendekatan tersebut kemungkinan masih akan bertahan setidaknya hingga akhir semester I-2026.
Ia memperkirakan, pertumbuhan KPR hingga akhir tahun ini masih akan tertahan di level single digit.
Kepala Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, proses underwriting yang lebih ketat memang dilakukan bank untuk memastikan kemampuan bayar debitur tetap terjaga dalam jangka panjang.
Menurut Dian, pertumbuhan KPR tidak hanya bergantung pada penawaran kredit, tetapi juga daya beli masyarakat untuk memenuhi kewajiban cicilan secara berkelanjutan.
“Kondisi ekonomi yang masih diliputi ketidakpastian mendorong perbankan lebih strategis dalam menjaga ekspansi kredit tetap berkualitas,” ujarnya.
Meski demikian, OJK tetap mendorong perbankan menjalankan fungsi intermediasi secara optimal dengan memanfaatkan berbagai kebijakan pemerintah dan bauran kebijakan yang tersedia.
Baca Juga: OJK Soroti Tantangan Diversifikasi Produk Industri Penjaminan
Perbankan Pasang Target Moderat
Pada kuartal I-2026, sejumlah bank besar juga mencatat perlambatan pertumbuhan KPR.
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN mencatat pertumbuhan KPR sebesar 6,8% YoY menjadi Rp 306,12 triliun, melambat dibandingkan pertumbuhan 7,8% YoY pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA membukukan pertumbuhan KPR sebesar 5,2% YoY menjadi Rp 142,4 triliun, turun dari pertumbuhan 10,5% YoY pada tahun lalu.
Baca Juga: Bank Ramai-Ramai Parkir Dana di SRBI Saat Penyaluran Kredit Masih Tertahan
EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn mengatakan, perlambatan tersebut sejalan dengan kondisi perekonomian saat ini.
Meski begitu, BCA tetap berupaya mendorong penyaluran KPR melalui berbagai promo seperti bunga spesial, diskon provisi, hingga potongan premi asuransi jiwa.
“BCA senantiasa mendorong penyaluran kredit secara prudent, dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan menerapkan manajemen risiko secara disiplin,” ujar Hera.
Di sisi lain, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) belum mampu mencatat pertumbuhan outstanding KPR.
Nilai KPR bank tersebut stagnan di level Rp 41,78 triliun pada kuartal I-2026, setelah sebelumnya juga mengalami kontraksi 2,7% YoY pada tahun lalu.
Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan, permintaan KPR dari segmen masyarakat menengah masih relatif rendah karena kemampuan ekonomi nasabah belum cukup kuat untuk menambah cicilan baru.
Lani menegaskan, pihaknya tetap selektif dalam menyalurkan kredit, termasuk KPR, guna menjaga kualitas aset dan memastikan pembayaran debitur tetap lancar.
Karena itu, hingga akhir tahun ini CIMB Niaga memperkirakan pertumbuhan KPR masih akan bergerak moderat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












