Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit yang menunjukkan tren positif di awal tahun rupanya diikuti bertambahnya jumlah kredit berisiko. Namun, perbankan telah menyiapkan berbagai strategi, termasuk dengan mempertebal pencadangan, untuk menghadapi risiko kredit tahun ini.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kredit tumbuh 9,96% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2026, melaju dari pertumbuhan 9,63% yoy pada bulan sebelumnya. Namun, sejalan dengan itu, rasio kredit berisiko (Loan at Risk/LaR) juga naik dari 8,77% menjadi 9,01%.
Meski begitu, Direktur Risk Management Bank Tabungan Negara (BTN), Setiyo Wibowo menyebut tren saat ini merupakan pola siklus penyaluran kredit perbankan. Pada bulan Januari, ekspansi kredit umumnya belum mulai berjalan optimal sementara run-off kredit tetap berlangsung.
“Secara statistik kredit berisiko bisa terlihat meningkat, tetapi hal tersebut lebih merupakan efek musiman dan tidak selalu mencerminkan adanya pemburukan fundamental kualitas kredit,” ujar Setiyo kepada Kontan, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga: BTN: Suntikan Likuiditas Rp 100 Triliun Bantu Perbankan Penuhi Kebutuhan Kredit
Meski begitu, Setiyo bilang pihaknya tetap berhati-hati dan selektif dalam ekspansi kredit, apalagi dengan mempertimbangkan dinamika makro global dan domestik yang masih relatif volatil. Namun, ia bilang portofolio kredit BTN yang didominasi oleh kredit perumahan dengan agunan membuat profil risiko relatif lebih terjaga.
Di BTN, Setiyo bilang rasio LaR saat ini masih berada pada posisi yang terkendali dan bahkan menunjukkan tren perbaikan bertahap. Kontribusi LaR terbesar masih berasal dari segmen perumahan non subsidi dan sebagian portofolio komersial, yang menurutnya memang lebih sensitif terhadap siklus ekonomi dibandingkan KPR subsidi yang relatif lebih stabil.
Sebagai langkah mitigasi, BTN tetap memperkuat pencadangannya. Rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah saat ini dijaga di kisaran 120%–130%, sebagai buffer yang cukup kuat.
Namun secara keseluruhan, bank optimistis kualitas kredit bakal terus membaik, seiring dengan perbaikan proses underwriting berbasis data, penguatan collection management, serta pemantauan portofolio secara lebih granular.
Dari sisi perbankan syariah, Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara juga bilang kecenderungan kenaikan LaR secara industri disebabkan oleh penurunan kemampuan bayar debitur lama, tak selalu disebabkan penyaluran kredit baru.
Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 9,96% di Januari 2026, Ini Saham Bank Pilihan Analis
“Contoh KPR, itu menjadi berisiko umurnya setelah beberapa lama. Dalam perjalanannya, si peminjam mungkin mengalami kesulitan keuangan atau lainnya sehingga pembayaran kewajiban ke bank juga menjadi terganggu,” jelas Pandji.
Apalagi, kata Pandji, tak bisa dipungkiri kondisi ekonomi saat ini memang terbilang penuh tantangan, yang pada akhirnya juga berdampak ke kemampuan bayar peminjam.
Sementara itu, Corporate Secretary Bank Syariah Indonesia (BSI), Wisnu Sunandar mengaku juga terjadi peningkatan rasio pembiayaan berisiko (financing at risk/FaR) bank. “Sejak merger, BSI dapat menjaga level FaR rata-rata di sekitar 7% dan sedikit meningkat pada akhir tahun 2025 ke level 9,2%,” ungkapnya.
Ia bilang peningkatan paling banyak disumbang oleh segmen ritel UMKM dan konsumer, menyusul kebijakan bank dalam mendukung pemulihan masyarakat di wilayah bencana, khususnya Provinsi Aceh, dengan relaksasi dan restrukturisasi pembiayaan bagi nasabah terdampak.
Baca Juga: CIMB Niaga Genjot Booking Kredit Lewat Aplikasi OCTO Mobile
Dalam hal ini, BSI memberikan keringanan kepada nasabah terdampak bencana untuk menunda pembayaran angsuran pembiayaan selama tiga bulan terhitung Desember 2025–Maret 2026.
Meski begitu, hingga akhir tahun lalu pun bank berhasil menurunkan rasio pembiayaan bermasalah (not-performing financing/NPF) menjadi 1,81% dari posisi 1,9% pada tahun sebelumnya.
Wisnu menyebut, perbaikan kualitas adalah hasil dari strategi pengelolaan manajemen risiko yang tepat sesuai segmentasi bisnis dan nasabah serta disiplin memonitor perkembangan industri.
Baca Juga: Pembiayaan UMKM BSI Tembus Rp 52,58 Triliun, Fokus Dorong Ekspor
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













