Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan kredit perbankan nasional masih berada di level dua digit pada Agustus 2026. Kondisi ini menunjukkan penyaluran pembiayaan perbankan tetap bergerak positif menjelang akhir kuartal III-2026.
Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan kredit perbankan pada Agustus 2026 mencapai 13,36% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 13,58% yoy pada Juli 2026.
Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit pada Agustus 2026 ditopang oleh seluruh segmen. Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 25,11% yoy.
Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 11,45% yoy dan kredit konsumsi meningkat 5,07% yoy.
Ke depan, BI memandang prospek pertumbuhan kredit masih cukup kuat, baik dari sisi permintaan maupun penawaran.
Baca Juga: Bank Nagari Kantongi Laba Rp318,3 Miliar hingga Agustus 2026
“Pertumbuhan kredit perbankan perlu terus makin diperkuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Destry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan, Rabu (23/9/2026).
Gubernur BI Destry Damayanti menyebut perkembangan positif kredit tersebut didukung oleh kebijakan makroprudensial longgar yang terus didorong BI melalui optimalisasi kebijakan insentif makroprudensial BI.
Hingga pekan pertama September 2026, insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diperoleh bank mencapai Rp 461,2 triliun.
Rinciannya, insentif KLM Financing Channel sebesar Rp 388,2 triliun dan KLM Pendalaman Pasar Uang sebesar Rp 123 triliun.
Destry menyebut perkembangan positif intermediasi perbankan juga didukung likuiditas yang memadai. Hal tersebut tercermin dari rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) sebesar 23,04%.
Dana pihak ketiga (DPK) juga tumbuh tinggi sebesar 10,95% yoy.
Baca Juga: Bank BPD DIY Targetkan Laba Capai Rp443 Miliar pada 2026
Untuk keseluruhan tahun 2026, BI memperkirakan pertumbuhan kredit berada dalam kisaran 8%–12%.
Proyeksi tersebut didukung kondisi perbankan nasional yang dinilai tetap kuat. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) pada Juli 2026 tercatat tinggi sebesar 23,84%.
Tingginya CAR dinilai menunjukkan kemampuan perbankan dalam menyerap risiko sekaligus mendukung ekspansi kredit.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) tetap rendah. Pada Juli 2026, NPL tercatat sebesar 2,1% secara bruto dan 0,81% secara neto.
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas fiskal dan keuangan," tukas Destry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














