kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Laba Permodalan Nasional Madani berpotensi terkerek pasca BTN akuisisi PNMIM


Kamis, 02 Mei 2019 / 21:12 WIB
Laba Permodalan Nasional Madani berpotensi terkerek pasca BTN akuisisi PNMIM

Reporter: Ferrika Sari | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN, anggota indeks Kompas100) mengakuisisi 30% saham PT Permodalan Nasional Madani Investment Management (PNMIM), yang merupakan anak usaha PT Permodalan Nasional Madani (PNM).

Direktur Utama PNM Arief Mulyadi mengatakan, perubahan kepemilikan saham PNMIM diperkirakan akan mengerek perolehan jumlah laba holding tahun ini. Seperti diketahui, PNMIM mencatatkan perolehan laba sebesar Rp 14 miliar pada tahun 2018.


“Tentunya akan ada perubahan laba holding sesuai dengan rencana yang telah diajukan. Kami mengarapkan peroleh laba lebih tinggi dari Rp 14 miliar,” kata Arief di Jakarta, belum lama ini.

Masuknya Bank BTN sebagai pemilik saham PNMIM akan mempercepat rencana perusahaan manajer investasi tersebut untuk mengelola dana tabungan perumahan rakyat (tapera). Bank BTN mengincar mengincar pengelolaan dana Tapera sebesar Rp 50 triliun.

Selama ini, anak usaha PNM ini mengemban tugas sebagai penggalangan dana (fundraising) dari program pembiayaan Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dan Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM). Dengan akusisi tersebut, kini pemegang saham PNMIM adalah Bank BTN 30%, sementara PNM 70%.

PNM merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengemban tugas khusus memajukan ekonomi kerakyatan dengan memberikan pembiayaan, pendampingan, dan pembinaan usaha kepada UMKM. Produk unggulan PNM seperti ULaMM dan Mekaar menyasar perempuan prasejahtera untuk pelaku usaha ultra mikro.

Sampai dengan Maret 2019, PNM mencatatkan penyaluran pinjaman sebesar Rp 3,62 triliun hingga kuartal pertama 2019. Nilai ini tumbuh 85,64% yoy dari pencapaian Maret 2018 senilai Rp 1,95 triliun.

Adapun total outstanding pembiayaan PNM per Maret 2019 senilai Rp 12,54 triliun. Nilai ini tumbuh 68,9% yoy dari pencapaian outstanding kuartal 1-2018 senilai Rp 7,42 triliun.

Arief menjelaskan bahwa kenaikan penyaluran pinjaman berkat upaya perbaikan dan inovasi yang telah dilakukan PNM. Ia mengaku hal ini mampu mendorong peningkatan produktivitas PNM, maupun produktivitas setiap kantor dan jaringan.

“Sebetulnya penyaluran pinjaman belum terlalu agresif, mengingat fenomena pembiayaan di sektor mikro ultra atau super mikro, biasanya di awal tahun agak melambat. Tapi penyerapan pembiayaan Mekaar lebih dominan hingga tiga bulan pertama tahun ini,” tutupnya.





Close [X]
×