kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.605   52,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

LPS Kerek Bunga Penjaminan, BRI: Bakal Berdampak Positif pada Himpunan DPK Valas


Rabu, 07 Desember 2022 / 17:07 WIB
ILUSTRASI. BRI valas


Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) menggerek suku bunga penjaminan valuta asing di bank umum sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 1,75%. Sedangkan suku bunga simpanan rupiah di bank umum tetap di level 3,75%.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk  merespon baik atas kebijakan terhadap kebijakan regulator tersebut. Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunartome nilai langkah LPS dapat meningkatkan rasa aman kepada nasabah untuk menyimpan dana di Bank.

"Kenaikan bunga pinjaman oleh LPS tersebut merupakan respon yang tepat karena sejalan dengan kondisi market saat ini dimana The Fed telah menaikkan suku bunga dolar AR sebanyak 5 kali sepanjang tahun 2022. BRI menilai kebijakan ini akan berdampak positif bagi BRI dalam menghimpun DPK Valas dalam negeri," ujarnya kepada Kontan.co.id pada Rabu (7/12).

Baca Juga: Begini Arah Kebijakan Suku Bunga Penjaminan Simpanan LPS di Tahun 2023

Ia menjelaskan kondisi Likuiditas Valas BRI saat ini masih memadai dan stabil. Dalam melakukan penghimpunan dana valas, Aestika menyatakan BRI telah melakukan penyesuaian suku bunga deposito secara selektif dan sejalan dengan kondisi market secara global.

"Hal ini tercermin dimana pertumbuhan DPK Valas BRI naik 24,5% secara year to date (YtD) per November 2022.  BRI tetap menyalurkan kredit valas dimana pertumbuhan kredit valas BRI 4,76%," tambahnya.

Aestika menyatakan pertumbuhan kredit valas ditopang oleh kenaikan permintaan modal kerja. Terutama pada sektor agribisnis, infrastruktur, transportasi, dan minyak dan gas (migas).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×