Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank digital mulai mengatur ulang strategi penyaluran kredit di sisa tahun 2026. Di tengah persaingan yang semakin ketat, sebagian bank memilih memperbesar penyaluran melalui kerja sama dengan perusahaan teknologi finansial (fintech), sementara lainnya tetap mengandalkan penyaluran kredit secara langsung dengan memperkuat teknologi dan kualitas credit underwriting.
Salah satunya dilakukan oleh PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC). Perusahaan mencatat penyaluran kredit pada semester I-2026 sebesar Rp7,13 triliun, turun 11,79% secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp8,09 triliun.
Chief Financial Officer (CFO) BNC Sufen Triantio mengatakan, penurunan tersebut tidak terlepas dari strategi perusahaan yang lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit pada 2025.
Baca Juga: Kredit Modal Kerja Perbankan Melaju 11,6%, Sektor Produktif Jadi Penopang
Menurut Sufen, BNC pada periode tersebut memperketat proses credit underwriting lantaran perusahaan masih dalam tahap memperbaiki kualitas aset dan kinerja setelah mengalami kerugian pada 2022 dan 2023.
“Strategi kita di 2025 itu benar-benar sangat hati-hati, kita melakukan pengetatan kredit. Nah, oleh sebab itulah memang pengetatan kredit, aset kualitasnya jadi bagus, tapi disbursement-nya jadi turun,” ujar Sufen kepada kontan.co.id.
Ia menjelaskan, BNC mulai melakukan evaluasi terhadap kebijakan credit scoring pada 2026. Perusahaan mencari ruang untuk mengoptimalkan sejumlah persyaratan kredit yang sebelumnya cukup ketat, tanpa mengorbankan kualitas pembiayaan.
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Sufen menyebut outstanding kredit BNC yang sebelumnya berada di kisaran Rp7 triliun telah meningkat menjadi sekitar Rp7,1 triliun. Bahkan, hingga Juli 2026, posisi kredit bank telah mencapai sekitar Rp7,3 triliun.
“Kami sudah mulai melihat, apakah persyaratan kredit scoring kami yang ketat itu ada yang bisa kami optimalisasi sehingga dapat memberikan approval rate yang lebih baik. Hal itu sudah mulai memberikan hasil,” jelasnya.
Baca Juga: Ajaib Akan Gunakan Pendanaan US$ 270 Juta untuk Pengembangan Produk & SDM
Ke depan, BNC tidak hanya mengandalkan penyaluran kredit secara langsung (direct lending). Bank ini juga akan memperbesar kontribusi pembiayaan melalui skema channeling dengan fintech.
Sufen menyebut channeling fintech akan menjadi salah satu mesin pertumbuhan BNC pada tahun ini, selain tetap mempertahankan penyaluran kredit langsung.
“Kita akan tetap gerak itu dari sisi direct loan. Selain itu kita juga lihat channeling fintech, itu juga hal yang kita bisa boosting di tahun ini. Jadi engine of growth kita untuk tahun ini, baik dengan direct loan dan juga channeling fintech,” katanya.
BNC menargetkan total kredit yang disalurkan dapat menembus lebih dari Rp8 triliun hingga akhir 2026.
Untuk mencapai target tersebut, pertumbuhan kredit diperkirakan akan lebih banyak ditopang oleh bisnis channeling fintech.
Menurut Sufen, BNC saat ini telah bekerja sama dengan sekitar 10 fintech besar di Indonesia. Perusahaan ini masih melihat peluang untuk meningkatkan utilisasi dari mitra yang sudah ada guna mendorong kenaikan outstanding kredit.
Selain itu, BNC juga tengah menjajaki kerja sama dengan sekitar dua fintech tambahan yang ditargetkan menjadi mitra baru pada tahun ini.
“Sebagian besar growth itu akan didominasi dari sisi channeling fintech,” ungkap Sufen.
Baca Juga: Kritis Hadapi Informasi, Benteng Pertama agar Merdeka dari Penipuan Finansial
Ia menambahkan, bisnis channeling fintech menjadi salah satu keunggulan kompetitif BNC sehingga perusahaan akan terus mengembangkan kanal tersebut.
Sementara itu, PT Allo Bank Indonesia Tbk mengambil pendekatan yang berbeda. Perusahaan masih akan mengandalkan penyaluran kredit secara langsung untuk mendorong pertumbuhan bisnis pada 2026.
Corporate Secretary Allo Bank Stacey Aryadi Suryoputro mengatakan, perusahaan optimistis terhadap prospek penyaluran kredit tahun ini seiring ekspektasi membaiknya kebutuhan pembiayaan di berbagai sektor.
Selain itu, berbagai program pemerintah, termasuk insentif likuiditas serta kondisi suku bunga yang dinilai akomodatif, juga menjadi sentimen positif bagi pertumbuhan kredit.
“Bank menargetkan pertumbuhan baik untuk kredit maupun pendanaan di atas rata-rata level pertumbuhan industri perbankan sehingga mampu tumbuh positif secara berkelanjutan,” ujar Stacey.
Optimisme tersebut ditopang oleh kinerja intermediasi Allo Bank hingga semester I-2026. Penyaluran kredit perusahaan mencapai Rp9,547 triliun per 30 Juni 2026, tumbuh 28% secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh segmen perbankan ritel dan perbankan wholesale.
Untuk menggenjot penyaluran kredit, Allo Bank akan terus memperluas ekosistem dan kemitraan strategis. Namun, perusahaan masih menempatkan direct lending sebagai salah satu strategi utama.
Baca Juga: Pembiayaan Pinjaman Daring Masih Banyak Dimanfaatkan untuk Kebutuhan Konsumtif
Bank juga akan memperkuat kemampuan credit underwriting dengan memanfaatkan data analytics dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Untuk tahun 2026 ini kami akan fokus pada pengembangan inovasi dan pengalaman nasabah melalui optimalisasi kapabilitas data analytics dan artificial intelligence dalam rangka menghasilkan customer insight yang efektif dan manajemen risiko yang efisien,” jelas Stacey.
Menurutnya, pemanfaatan berbagai sumber data diharapkan dapat membantu bank meningkatkan kualitas proses analisis kredit sekaligus menjaga prinsip kehati-hatian.
Strategi berbeda juga diterapkan Krom Bank. Presiden Direktur Krom Bank Anton Hermawan mengatakan, perusahaan akan menjadikan kanal channeling sebagai strategi utama dalam menyalurkan kredit pada 2026.
Krom Bank juga akan melanjutkan program penerusan pembiayaan bersama mitra yang sudah ada serta membuka peluang kerja sama dengan mitra baru.
“Strategi ini merupakan strategi utama Bank dalam menyalurkan kredit,” kata Anton.
Selain melalui channeling, Krom Bank tetap menyediakan penyaluran kredit secara langsung kepada nasabah melalui produk Krom Kredit di aplikasi Krom.
Baca Juga: Kritis Hadapi Informasi, Benteng Pertama agar Merdeka dari Penipuan Finansial
Perusahaan menargetkan pertumbuhan penyaluran kredit secara sehat dan berkelanjutan pada 2026. Krom Bank juga membidik pertumbuhan kinerja hingga dua digit dengan memanfaatkan momentum pasar serta berbagai hari besar nasional.
Adapun hingga akhir Juni 2025, Krom Bank mencatat penyaluran kredit sebesar Rp6,52 triliun, melonjak 141,57% secara tahunan dan tumbuh 9,51% secara bulanan.
Anton mengatakan, dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal seperti perlambatan ekonomi global, fluktuasi harga komoditas dan isu geopolitik, perusahaan akan tetap menyalurkan kredit secara selektif.
Sektor UMKM, konsumsi produktif dan pembiayaan ritel juga menjadi sejumlah fokus utama Krom Bank di 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














