kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45987,90   -2,03   -0.21%
  • EMAS1.142.000 0,35%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Menilik Besaran Bunga Fintech Lending yang Diduga Timbulkan Korban Jiwa


Kamis, 21 September 2023 / 20:51 WIB
Menilik Besaran Bunga Fintech Lending yang Diduga Timbulkan Korban Jiwa
ILUSTRASI. Peer to Peer Lending.


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bunga pinjaman industri fintech peer to peer (P2P) lending alias pinjaman online (pinjol) dinilai tinggi dibandingkan industri keuangan lainnya. Pasalnya, tingginya bunga kredit fintech ini menimbulkan masalah di salah satu penyelenggara pinjol yaitu AdaKami.

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) telah mematok batasan tingkat bunga kepada para perusahaan yakni maksimal sebesar 0,4% per hari atau sebesar 12% per bulan. Bunga ini lebih ditujukan untuk pinjaman jangka pendek.

“AFPI melalui core of conduct kita memberi batas biaya pinjaman 0,4% per hari. Kalau lebih dari 0,4% itu melanggar,” ujar Sekretaris Jenderal AFPI, Sunu Widyatmoko saat ditemui di Jakarta, Kamis (21/9).

Sunu menuturkan, industri fintech P2P lending tampak bersaing dengan pemberi pinjaman lainnya dalam hal memberi besaran bunga seperti koperasi, multifinance dan perbankan.

Baca Juga: Soal AdaKami, Menkominfo: Kalau Terbukti Merugikan Masyarakat Pasti Kita Blokir

“Semua orang maunya risk and return-nya mirip, jadi kita di dalam market yang sama, nah dalam kondisi itu karena kita lebih fleksibel kita charge tinggi banget, tak bisa,” tuturnya.

Sunu menambahkan, untuk bunga kredit fintech lending cukup bervariasi dan ini bergantung pada profil risiko sang borrower.

“Sekarang bunganya bervariasi kisaran paling rendah 18% sampai 30% (per tahun) tergantung profil risiko debitur,” tandasnya.

Memang jika dibandingkan dengan bunga kredit perbankan, bunga kredit fintech lending tampak lebih tinggi. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) bunga kredit perbankan pada Juli 2023 mencapai 9,35%.

Sementara itu, Group CEO Akseleran, Ivan Nikolas Tambunan mencatat bahwa Akseleran memiliki tingkat suku bunga kredit yang stabil yakni sebesar 18% per tahun.

Dia bilang, faktor-faktor yang mempengaruhi kenaikan dan penurunan bunga kredit di antaranya Cost of Fund (CoF), Cost of Credit, Non performing loan (NPL), customer acquisition cost, opex terkait pemeliharaan pinjaman dan customer.

Lebih lanjut, menanggapi prahara yang menimpa AdaKami, Ivan yang juga menjabat sebagai Bidang Hukum, Etika dan Perlindungan Konsumen AFPI menyebut bahwa AFPI dan AdaKami masih melakukan penyelidikan dan pemeriksaan atas fakta-fakta yang ada.

“Termasuk soal angka yang dipaparkan apa benar segitu,” kata Ivan kepada KONTAN.

Baca Juga: Bunga Fintech Lending Dinilai Tinggi, Profil Risiko Minta Diperbaiki

Sebelumnya, permasalahan yang dihadapi AdaKami bermula dari adanya nasabah yang mengakhiri hidupnya diduga karena teror penagihan yang dilakukan oleh debt collector AdaKami.

Korban berinisial K diduga pria itu disebut meminjam uang sebesar Rp 9,4 juta, namun nasabah K ini harus mengembalikan pinjaman tersebut senilai Rp 18 juta hingga Rp 19 juta. Artinya, bunga yang didapat sang nasabah ini mencapai 100% dari pinjaman pokok.

“Sebagai acuan, suku bunga maksimal di fintech itu sekarang 0,4% per hari atau 12% per bulan. Dan untuk yang tenornya di bawah 24 bulan total bunga dan biaya-biaya lainnya tidak boleh lebih dari 100% nilai pokok pinjaman,” terang Ivan.

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Corporate Financial Planning & Analysis Mastering Data Analysis & Visualisation with Excel

[X]
×