kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.997.000   -24.000   -0,79%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

OJK Wanti-Wanti Dampak Konflik Timur Tengah ke Bank, Likuiditas Valas Jadi Sorotan


Minggu, 15 Maret 2026 / 17:47 WIB
OJK Wanti-Wanti Dampak Konflik Timur Tengah ke Bank, Likuiditas Valas Jadi Sorotan
ILUSTRASI. Kredit Valuta Asing (valas) (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi menekan stabilitas sektor perbankan nasional. 

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan, sebagai negara dengan sistem perekonomian terbuka, Indonesia tidak terlepas dari dampak rambatan konflik global, termasuk konflik di Timur Tengah.

“Sebagai negara penganut sistem perekonomian yang terbuka (open economy), tentu dinamika konflik geopolitik Timur Tengah berpotensi membawa dampak terhadap perekonomian Indonesia, antara lain melalui jalur komoditas dan jalur nilai tukar,” ujar Dian dalam jawaban tertulisnya, dikutip Minggu (15/3/2026).

Menurut Dian, gangguan pada jalur distribusi energi global, terutama bila penutupan Selat Hormuz terjadi, berpotensi mendisrupsi harga komoditas energi dan stabilitas perekonomian global.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Risiko Kredit Valas Perbankan Berpotensi Naik

Kondisi ini dapat mendorong kenaikan harga bahan bakar, biaya distribusi barang, hingga meningkatkan tekanan inflasi baik global maupun domestik.

Di sisi lain, konflik geopolitik juga berisiko memperbesar volatilitas di pasar keuangan. Saat investor global cenderung menghindari aset berisiko, negara berkembang seperti Indonesia rentan mengalami arus modal keluar yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.

“Konflik yang terjadi juga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan dan membuat investor bersikap risk-off terhadap aset berisiko terutama pasar keuangan negara berkembang seperti Indonesia yang dapat memicu terjadinya capital outflow yang selanjutnya menekan nilai tukar rupiah,” jelasnya.

OJK menilai, rambatan risiko tersebut dapat memengaruhi perbankan nasional melalui tiga kanal utama, yakni risiko pasar, risiko kredit, dan risiko likuiditas, khususnya likuiditas valas.

Dari sisi risiko pasar, volatilitas global dan tekanan nilai tukar dapat memengaruhi kinerja portofolio keuangan bank, terutama bagi bank yang memiliki eksposur liabilitas dalam valuta asing.

Baca Juga: Pengamat Menilai Tekanan Rupiah Bayangi Kualitas Kredit Valas Perbankan

Sementara dari sisi risiko kredit, lonjakan harga energi dan tekanan inflasi berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi, yang pada akhirnya menekan profitabilitas dunia usaha serta kemampuan bayar debitur.

Adapun pada aspek likuiditas, OJK menaruh perhatian pada potensi tekanan likuiditas valas bila arus keluar dana asing dari pasar surat berharga negara (SBN) dan saham berlangsung berkepanjangan.

Meski begitu, OJK memastikan kondisi industri perbankan nasional saat ini masih kuat untuk menghadapi potensi guncangan global. Per Januari 2026, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) industri perbankan tercatat sebesar 25,87%. Sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) terjaga di level 2,14%.

“Di tengah berbagai risiko yang berasal dari dinamika global tersebut, ketahanan perbankan Indonesia tergolong sangat kuat,” kata Dian.

Likuiditas perbankan juga masih dinilai memadai. OJK mencatat rasio loan to deposit ratio (LDR) berada di level 84,93%, masih dalam kisaran target 78%–92%. Sementara itu, liquidity coverage ratio (LCR) perbankan tercatat sebesar 197,92%, jauh di atas ambang batas minimum.

Khusus pada likuiditas valas, OJK mencatat LDR valas meningkat 119 basis poin secara tahunan menjadi 81,81% pada Januari 2026. Meski naik, otoritas menilai kondisinya masih dalam batas aman dan terkendali.

Risiko pasar terkait nilai tukar juga dinilai masih rendah, tercermin dari rasio Posisi Devisa Neto (PDN) yang berada pada posisi long sebesar 1,16%, jauh di bawah ambang batas 20%.

Baca Juga: Nilai Rupiah Berfluktuasi, Likuiditas Valas Perbankan Masih Terjaga

Ke depan, OJK memandang prospek bisnis perbankan pada kuartal I-2026 masih tetap solid. Hal ini tecermin dari hasil Survei Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) triwulan I-2026 yang menunjukkan optimisme terhadap pertumbuhan kinerja industri, baik dari sisi penyaluran kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), kualitas aset, maupun laba.

“Hasil Survey Orientasi Bisnis Perbankan (SBPO) triwulan I-2026 menunjukkan bahwa kinerja perbankan akan tetap solid dengan risiko yang terjaga,” ungkap Dian.

Optimisme itu, lanjut Dian, ditopang oleh perbaikan kondisi industri domestik. Salah satunya tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia pada Februari 2026 yang mencapai 53,8, tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Selain itu, neraca perdagangan juga masih melanjutkan tren surplus hingga Januari 2026.

Meski outlook perbankan masih positif, OJK menegaskan tingginya ketidakpastian global tetap perlu diwaspadai. Oleh sebab itu, OJK terus melakukan stress test secara rutin untuk mengukur ketahanan perbankan menghadapi berbagai skenario guncangan makroekonomi, seperti perlambatan ekonomi, depresiasi rupiah, dan kenaikan suku bunga.

Selain dilakukan OJK, perbankan juga diminta secara rutin melakukan stress test secara mandiri, baik menggunakan skenario internal maupun skenario yang disiapkan oleh otoritas.

“Hasil stress test OJK maupun perbankan menunjukkan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih sangat memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makro ekonomi Indonesia,” tutup Dian.

Baca Juga: Perbankan Swasta Minta Aturan DHE Valas 100% di Himbara Dikaji Ulang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×