kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.603.000   -7.000   -0,27%
  • USD/IDR 18.042   34,00   0,19%
  • IDX 6.320   85,12   1,37%
  • KOMPAS100 832   13,60   1,66%
  • LQ45 635   11,28   1,81%
  • ISSI 218   2,09   0,97%
  • IDX30 357   7,08   2,02%
  • IDXHIDIV20 439   8,12   1,89%
  • IDX80 95   1,54   1,64%
  • IDXV30 120   1,66   1,39%
  • IDXQ30 114   1,99   1,77%

Pangsa Pasar Perbankan Syariah Masih Berpotensi Tumbuh, Ini Pendorongnya


Selasa, 04 Agustus 2026 / 18:51 WIB
Pangsa Pasar Perbankan Syariah Masih Berpotensi Tumbuh, Ini Pendorongnya
ILUSTRASI. Nasabah menabung di Bank Mega Syariah (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Aura Putri | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat pangsa pasar perbankan syariah mencapai 7,32% per Juni 2026, dengan aset perbankan syariah sekitar Rp 1.049 triliun.

Sementara pembiayaan tumbuh 11,43% secara tahunan (YoY) dan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 13,13% YoY.

Sebagai pembanding, pangsa pasar perbankan syariah pada Juni 2025 tercatat sebesar 7,41% dengan total aset Rp 967,33 triliun. Saat itu, pembiayaan tumbuh 8,38% YoY dan DPK meningkat 6,98% YoY.

Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI Dadang Muljawan mengatakan, perkembangan tersebut menunjukkan kepercayaan masyarakat dan aktivitas ekonomi syariah terus meningkat.

Baca Juga: Bank Aladin Syariah Cetak Laba Rp 38,38 Miliar pada Semester I 2026

Meski demikian, pangsa pasar perbankan syariah masih menunjukkan ruang pengembangan yang besar.

"Besarnya populasi muslim dan aktivitas ekonomi masyarakat belum sepenuhnya terhubung dengan produk pembiayaan, investasi, dan layanan keuangan syariah," ujar Dadang dalam seminar nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Senin (3/8/2026). 

Dadang mengatakan terdapat kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan syariah. Pada 2025, indeks literasi keuangan syariah mencapai 43,42%, sedangkan indeks inklusi keuangan syariah baru sebesar 13,41%.

"Ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan dan preferensi belum sepenuhnya dikonversi menjadi akses dan penggunaan nyata terhadap produk dan layanan keuangan syariah," jelasnya.

Sejumlah bank syariah juga terus mencatatkan pertumbuhan bisnis. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), misalnya, membukukan pembiayaan sebesar Rp 335 triliun hingga Mei 2026 atau tumbuh 14,60% YoY, didorong penguatan dana murah, transformasi digital, serta pembiayaan di segmen konsumer. 

Baca Juga: Tabungan Haji Bank Mega Syariah Tumbuh 12%, Nasabah Terus Bertambah

Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan, BSI akan terus memperkuat komposisi dana dengan mengoptimalkan pengembangan ekosistem syariah, khususnya tabungan haji dan umrah.

Menurutnya, sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, BSI juga mengandalkan pengembangan bisnis bank emas sebagai salah satu sumber pertumbuhan.

Sementara itu, Unit Usaha Syariah (UUS) CIMB Niaga atau CIMB Niaga Syariah mencatat pembiayaan sebesar Rp 52,9 triliun dengan dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 45 triliun per 31 Maret 2026.

Direktur Syariah CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara mengatakan, penyaluran pembiayaan saat ini menghadapi tantangan dari kondisi likuiditas perbankan yang lebih ketat.

Selain itu, kenaikan pricing dan fluktuasi nilai tukar juga membuat permintaan pembiayaan dari nasabah cenderung lebih berhati-hati.

"Adanya fluktuasi exchange rate dan kenaikan pricing di lapangan membuat calon nasabah lebih berhati-hati untuk mendapatkan pembiayaan, bahkan ada juga yang menunda investasi," ujar Pandji kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).

Untuk menghadapi kondisi tersebut, CIMB Niaga Syariah berfokus memperkuat penghimpunan dana murah melalui payroll, transaksi harian nasabah, serta menjangkau berbagai komunitas muslim.

Baca Juga: Tabungan Haji Bank Mega Syariah Tumbuh Dobel Digit

Dari sisi pembiayaan, perseroan tetap lebih selektif dengan fokus pada segmen ritel dan usaha kecil menengah (UKM).

Selain itu, CIMB Niaga Syariah juga mengembangkan sumber pendapatan berbasis komisi (fee based income), seperti bancassurance dan layanan transaksi lainnya.

Adapun Bank Mega Syariah mencatat DPK ritel sebesar Rp 5,84 triliun per Juni 2026, naik lebih dari 3,6% dibandingkan bulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut ditopang kenaikan giro sekitar 24,03% YoY dan tabungan naik sebesar 10% YoY.

Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita mengatakan, perseroan terus mengoptimalkan fungsi intermediasi dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, menjaga kualitas portofolio, dan mendorong profitabilitas.

"Ke depan, kami akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi biaya dana, dan kualitas aset. Strategi ini penting agar Bank Mega Syariah dapat terus tumbuh secara sehat serta memberikan layanan keuangan syariah yang semakin relevan bagi masyarakat," kata Hanie.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×