Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong lahirnya tiga hingga lima bank syariah berskala besar untuk memperkuat struktur industri sekaligus mengurangi dominasi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).
Langkah tersebut dinilai penting mengingat pangsa pasar perbankan syariah terhadap industri perbankan nasional masih bergerak stagnan meski aset, pembiayaan, dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh dua digit.
Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat mengatakan, hingga Mei 2026 aset industri perbankan syariah mencapai Rp1.047,03 triliun, tumbuh 11,07% secara tahunan (year on year/YoY).
Pembiayaan juga meningkat 10,32% menjadi Rp 729,45 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,66% menjadi Rp 810,04 triliun. Di sisi kualitas aset, rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) gross masih terjaga di 2,31%, sedangkan NPF net sebesar 0,79%.
Baca Juga: OJK Serahkan Tersangka Kasus Asuransi Jiwa Prolife ke Kejari Jaksel
Namun, pertumbuhan tersebut belum mampu mengerek pangsa pasar industri. Menurutnya, kalau melihat market share memang masih bertahan di kisaran 7%. Padahal sebenarnya pertumbuhan aset dan pembiayaan bank syariah sudah lebih cepat dibandingkan industri perbankan secara nasional. Hanya saja basis aset perbankan syariah baru sekitar Rp 1.000 triliun, sedangkan industri perbankan nasional jauh lebih besar.
"Jadi kenaikan kecil di perbankan konvensional secara nominal nilainya jauh lebih besar dibandingkan kenaikan yang cukup tinggi di perbankan syariah," ujar Emir kepada Kontan.co.id, Rabu (15/7/2026).
Berdasarkan data OJK, pangsa pasar perbankan syariah per Mei 2026 tercatat 7,26%, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 7,31%, bahkan lebih rendah dibandingkan April 2026 yang mencapai 7,46%.
Menurut Emir, kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri perbankan syariah masih membutuhkan kebijakan strategis untuk memperbesar skala usaha.
Ia mencontohkan, selama ini peningkatan pangsa pasar justru ditopang oleh kebijakan konsolidasi dan konversi bank, seperti konversi sejumlah bank pembangunan daerah (BPD) menjadi bank syariah serta merger tiga bank syariah BUMN yang melahirkan BSI.
"Kalau kita lihat, perkembangan market share selama ini justru ditopang oleh konversi dan konsolidasi. BSI menjadi contoh nyata. Saat masih berdiri sendiri-sendiri, ketiga bank syariah BUMN skalanya kecil. Setelah bergabung menjadi satu, kapasitas bisnisnya meningkat jauh lebih besar," katanya.
Emir menilai struktur industri syariah saat ini juga masih terlalu timpang. Aset BSI yang telah mencapai lebih dari Rp 460 triliun jauh meninggalkan pemain lain yang masih berada di kisaran puluhan triliun rupiah.
"BSI sudah di atas Rp 460 triliun, sementara yang kedua sekitar Rp 70 triliunan. Jaraknya terlalu jauh. Dalam industri perbankan, size matters. Karena itu, memunculkan bank-bank syariah yang lebih besar sangat penting agar mampu bersaing dan menjadi sparing partner bagi BSI," ujarnya.
Baca Juga: Pacu UMKM Go Global, Bank Mandiri Bawa Produk Binaan Ekspor
Menurut dia, kehadiran Bank Syariah Nasional (BSN) maupun rencana spin off CIMB Niaga Syariah merupakan langkah awal yang positif. Namun, keduanya masih berada pada kelompok KBMI 2 sehingga masih membutuhkan waktu untuk meningkatkan skala usaha.
"Harapannya, setelah beberapa tahun beroperasi mereka bisa naik menjadi KBMI 3 sehingga benar-benar menjadi pesaing yang seimbang bagi BSI. Karena BSI sendiri juga terus tumbuh dan bahkan menargetkan masuk KBMI 4. Jadi pemain lain juga harus terus didorong agar semakin kuat," kata Emir.
Sejalan dengan itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, regulator masih mematangkan pembentukan bank-bank syariah baru melalui berbagai skema, termasuk spin off unit usaha syariah (UUS).
"Ya sekarang masih sedang work out. Setelah Bank Syariah Nasional (BSN) berdiri, sekarang juga masih ada pembicaraan dengan bank syariah lain," ujar Dian.
Namun, Dian belum bersedia mengungkap bank mana saja yang sedang dipersiapkan.
"Saya belum bisa disclose karena ada beberapa rencana yang memang masih dipelajari. Ke depan arahnya seperti apa, termasuk spin off, masih terus dibahas," katanya.
Salah satu bank yang tengah bersiap menjadi entitas mandiri adalah CIMB Niaga Syariah.
Baca Juga: Clipan Finance Waspadai Sejumlah Faktor yang Bisa Pengaruhi NPF hingga Akhir 2026
Direktur Syariah CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara mengatakan, proses spin off masih menunggu izin usaha dari OJK setelah sebelumnya memperoleh izin prinsip.
"Di akhir semester II ini targetnya, kami masih menunggu perizinan lanjutan dari regulator," ujar Pandji.
Setelah resmi menjadi bank umum syariah, CIMB Niaga Syariah menargetkan menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia paling lambat pada 2030.
"Target kami menjadi bank syariah terbesar kedua, selambat-lambatnya pada 2030," katanya.
Untuk mencapai target tersebut, CIMB Niaga Syariah akan memanfaatkan skema full leveraging dengan induknya sembari memperbesar pembiayaan ke segmen ritel, usaha kecil menengah (SME), dan komunitas muslim.
CIMB Niaga Syariah juga membidik aset menembus lebih dari Rp 100 triliun pada 2030. Sebagai per Maret 2026, aset CIMB Niaga Syariah telah mencapai Rp 58,818 triliun.
Meski agresif berekspansi, Pandji memastikan hingga kini belum ada rencana melakukan merger maupun akuisisi bank syariah lain.
"Belum ada rencana aksi korporasi. Tetapi kalau di tengah perjalanan ada peluang yang baik tentu akan kami eksplorasi. Yang jelas saat ini belum ada," imbuhnya.
Baca Juga: Ketidakpastian Tinggi, Bisnis Wealth Management Perbankan Tetap Sumbang Cuan
Sementara itu, BCA Syariah menilai peningkatan pangsa pasar perbankan syariah tidak hanya bergantung pada konsolidasi industri, tetapi juga inovasi layanan dan peningkatan literasi masyarakat.
Direktur BCA Syariah Pranata mengatakan, pihaknya terus memperkuat layanan digital melalui aplikasi BSya serta mengembangkan produk yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.
"Kami mengapresiasi upaya regulator memperkuat industri perbankan syariah. Namun peningkatan literasi dan inovasi layanan tetap menjadi faktor penting agar masyarakat semakin memahami keunggulan layanan syariah," ujarnya.
Hingga Mei 2026, aset BCA Syariah mencapai Rp 19,8 triliun, tumbuh 17,8% secara tahunan. Pembiayaan meningkat 20,4% menjadi Rp 13,1 triliun, sedangkan dana pihak ketiga naik 15,7% menjadi Rp 15,1 triliun.
Berbeda dengan CIMB Niaga Syariah, Unit Usaha Syariah OCBC belum terburu-buru melakukan spin off.
Kepala Unit Usaha Syariah OCBC Mahendra Koesumawardhana mengatakan, saat ini bank masih memprioritaskan penguatan basis nasabah sebelum menjadi entitas mandiri.
"Kami sedang memperbaiki customer base. Jangan sampai nanti saat sudah menjadi bank syariah sendiri, ternyata nasabah tidak ikut bersama kami. Itu yang sedang kami siapkan," katanya.
Baca Juga: Likuiditas Bank Masih Longgar: OJK Proyeksi Kredit Tumbuh di Atas 10% pada 2026
Menurut Mahendra, spin off memang merupakan arah pengembangan industri. Namun, keputusan tersebut harus mempertimbangkan kesiapan bisnis, bukan semata-mata mengejar besaran aset.
"Kalau nanti ada momentum yang tepat, termasuk kemungkinan spin off sebelum aset mencapai batas tertentu, tentu akan kami pertimbangkan. Tetapi saat ini fokus kami adalah memperkuat fundamental bisnis," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
