Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren pemangkasan suku bunga acuan yang mulai berlangsung sepanjang 2025 membuka peluang perbaikan kinerja industri pergadaian pada 2026.
PT Pegadaian menilai penurunan suku bunga acuan berpotensi menjadi katalis positif bagi perbaikan marjin pembiayaan pada 2026, seiring peluang penurunan biaya pendanaan (cost of fund) dari struktur pendanaan yang masih didominasi pinjaman bank dan obligasi.
Direktur Keuangan dan Perencanaan Strategis Pegadaian, Ferdian Timur mengatakan, apabila tren penurunan suku bunga acuan berlanjut hingga 2026, maka cost of fund perusahaan berpeluang turun secara bertahap. Kondisi ini membuka ruang peningkatan marjin pembiayaan, meski tidak akan sebanding secara langsung dengan besaran penurunan suku bunga acuan.
“Dengan cost of fund yang lebih rendah, margin pembiayaan dari bisnis perusahaan berpotensi meningkat, meskipun tidak sebesar penurunan suku bunga mengingat variasi biaya bunga masing-masing bank penyedia modal kerja berbeda-beda,” kata Ferdian kepada Kontan, belum lama ini.
Baca Juga: Saham Perbankan Diproyeksikan Bangkit pada 2026, Ini Sentimen Pemicunya
Lebih lanjut, Ferdian menjelaskan bahwa penurunan cost of fund secara umum akan berdampak positif terhadap profitabilitas industri pergadaian. Dampak tersebut tercermin dari potensi peningkatan margin bersih serta perbaikan rasio pengembalian aset atau return on assets (ROA).
Namun demikian, ia menegaskan bahwa penurunan suku bunga acuan tidak serta-merta berdampak satu banding satu terhadap penurunan cost of fund maupun lonjakan profitabilitas.
“Masih ada faktor eksternal lain yang memengaruhi, terutama profil dan komposisi sumber dana yang dimiliki perusahaan,” katanya.
Terkait kebijakan bunga gadai, Ferdian menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya belum memiliki rencana untuk mengubah tarif suku bunga gadai pada 2026, meskipun terdapat ruang penurunan biaya pendanaan.
“Sampai dengan saat ini belum ada rencana perubahan kebijakan tarif suku bunga gadai pada 2026, namun fasilitas Gadai peduli dengan bunga 0% untuk membantu masyarakat terus berjalan,” tambahnya.
Apabila terdapat potensi penyesuaian bunga gadai, Ferdian menyebut Pegadaian akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Perusahaan akan menjaga keseimbangan antara daya saing harga, marjin, dan risiko pembiayaan melalui penguatan manajemen risiko serta optimalisasi inovasi layanan berbasis teknologi.
Sementara itu, PT Gadai ValueMax Indonesia memiliki pandangan bahwa, sepanjang penurunan biaya dana (cost of fund) tidak langsung diikuti pemangkasan bunga gadai secara penuh, marjin pembiayaan masih bisa terjaga secara moderat.
Manager Accounting Gadai ValueMax Indonesia, Panji Parang Kunang mengatakan, marjin pembiayaan pergadaian sangat dipengaruhi oleh level suku bunga acuan dan struktur biaya pendanaan. Hingga akhir 2025, Bank Indonesia masih mempertahankan BI rate di level 4,75%.
“Dalam industri pergadaian yang memiliki karakteristik bunga tetap dalam jangka pendek, penurunan cost of fund berpotensi meningkatkan marjin secara moderat, selama perusahaan tetap menjaga marjin risiko dan tidak menurunkan bunga gadai secara penuh,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (26/12/2025).
Panji menjelaskan, penurunan biaya dana pada dasarnya dapat mendorong profitabilitas, karena beban bunga pendanaan menurun sementara pendapatan bunga relatif tetap atau hanya turun terbatas, tergantung tingkat persaingan di pasar. Namun, perbaikan marjin tersebut tetap harus diimbangi dengan pengelolaan risiko yang ketat.
Ia menekankan, industri pergadaian memiliki karakter risiko tersendiri, terutama terkait akurasi nilai taksiran dan keamanan penyimpanan barang jaminan.
“Sifat industri pergadaian perlu dijaga dari segi nilai taksiran barang jaminan dan pengamanan penyimpanan barang jaminan, yang tentu perlu difaktorkan di dalam pendapatan sewa modal/bunga gadai,” tuturnya.
Lebih lanjut, Panji menilai bahwa faktor utama nasabah memilih layanan gadai bukan semata-mata tingkat bunga. Kecepatan, kemudahan, dan kualitas layanan justru menjadi pertimbangan utama. Karena itu, perusahaan tidak serta-merta menjadikan penurunan bunga sebagai strategi utama untuk menarik nasabah.
“Perusahaan tidak menutup kemungkinan penyesuaian bunga gadai, namun cenderung moderat, dan fokusnya bukan sekedar memotong bunga secara besar-besaran, melainkan menyesuaikannya secara strategis,” lanjutnya.
Ke depan, jika penurunan bunga gadai dilakukan, Gadai ValueMax Indonesia akan menerapkannya secara selektif pada segmen pasar tertentu. Di sisi lain, perusahaan juga terus menekan biaya operasional melalui digitalisasi proses dan efisiensi jaringan.
Baca Juga: BSI Optimistis Ekonomi RI Tangguh pada Kuartal I-2026
Selanjutnya: Saham Perbankan Diproyeksikan Bangkit pada 2026, Ini Sentimen Pemicunya
Menarik Dibaca: Mengawali 2026, Story (IP) Memimpin Kripto Top Gainers 24 Jam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













