Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan industri modal ventura masih mengalami pertumbuhan pada Februari 2026, meskipun lajunya terpantau melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, mengungkapkan bahwa nilai pembiayaan modal ventura mencapai Rp 16,46 triliun per Februari 2026.
"Nilai pembiayaan per Februari 2026 tumbuh sebesar 0,73% secara Year on Year (YoY)," ucap Agusman dalam konferensi pers RDK OJK, Senin (6/4).
Berdasarkan data OJK, pertumbuhan tersebut menunjukkan perlambatan dibandingkan Januari 2026. Pada periode tersebut, pembiayaan modal ventura tercatat sebesar Rp 15,95 triliun dengan pertumbuhan 0,83% YoY.
Baca Juga: OJK Catat 10 Fintech P2P Lending Belum Penuhi Ekuitas Minimum per Februari 2026
Sementara itu, pada Desember 2025, nilai pembiayaan modal ventura berada di level Rp 15,97 triliun atau tumbuh sebesar 0,81% YoY. Tren ini mengindikasikan bahwa meskipun nilai pembiayaan terus meningkat, laju pertumbuhannya cenderung terbatas dalam beberapa bulan terakhir.
Dari sisi aset, OJK mencatat industri modal ventura memiliki total aset sebesar Rp 27,63 triliun per Februari 2026. Angka tersebut tumbuh 2,07% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 27,07 triliun.
Agusman menegaskan bahwa industri modal ventura perlu melakukan sejumlah langkah strategis guna menjaga momentum pertumbuhan sepanjang tahun ini. Ia menekankan pentingnya ekspansi usaha yang tetap diimbangi dengan kualitas penyaluran pembiayaan.
Baca Juga: Pembiayaan Emas BJB Syariah Capai 9.720 Nasabah pada Akhir 2025
Selain itu, penguatan tata kelola serta manajemen risiko dinilai menjadi kunci dalam menghadapi dinamika industri yang semakin kompleks.
Dengan berbagai upaya tersebut, OJK memproyeksikan aset dan pembiayaan modal ventura masih berpotensi tumbuh sepanjang 2026. Namun demikian, pelaku industri diingatkan untuk tetap waspada terhadap sejumlah tantangan.
Agusman menyebutkan bahwa dinamika perekonomian global dan domestik mendorong perlunya penerapan analisis risiko yang lebih ketat serta selektivitas dalam investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













