Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Noverius Laoli
Berdasarkan materi paparan kinerjanya, angka tersebut sudah turun dari Rp 97,5 triliun per Desember 2020.
Total kredit beresiko (Loan at Risk/LAR) BCA termasuk restrukturisasi Covid-19 mencapai Rp 90,8 triliun, turun dari Rp 108,5 triliun pada Desember 2020. LAR ini mencapai 14,6% terhadap total kredit BCA sebesar Rp 636,9 triliun pada 2021. Pencadangan terhadap LAR ini mencapai 39%, naik dari 28,1% pada Desember 2020.
Sedangkan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat penurunan signifikan restrukturisasi Covid-19 dari Rp 102,3 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp 72,12 triliun. Sebanyak 85,5% dari outstanding tersebut masuk dalam kategori resiko rendah. Kredit restrukturisasi non Covid mencapai Rp50,8 triliun.
Baca Juga: Rasio Kredit Bermasalah (NPL) Bank Turun Menjadi 3% Pada 2021
Adapun LAR di BNI, termasuk restrukturisasi Covid-19 mencapai 23,3% dari total kredit sebesar Rp 562 triliun. Rasio itu turun dari 28,7% pada tahun 2020. BNI telah melakukan pencadangan terhadap LAR sebesar 37% per Desember 2021, lebih tinggi dari akhir 2020 yang hanya 27%.
David Pirzada, Direktur Managemen Resiko BNI mengatakan, berakhirnya masa relaksasi restrukturisasi kredit tidak dikhawatirkan BNI karena pencadangan sudah dipupuk cukup besar. "Justru pada 2022, BNI tentunya akan terus berupaya memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi untuk meningkatkan kualitas kredit," Tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













