kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Permintaan Pinjaman Tumbuh Subur, Transparansi Informasi Fintech Lending Jadi Sorotan


Minggu, 16 Agustus 2026 / 16:30 WIB
Permintaan Pinjaman Tumbuh Subur, Transparansi Informasi Fintech Lending Jadi Sorotan
ILUSTRASI. Peluncuran kampanye transparansi AdaKami “Buka-Bukaan” di Jakarta (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Tendi Mahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan pinjaman di platform fintech lending masih tumbuh tinggi. Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding pembiayaan industri pinjaman daring mencapai Rp 105,14 triliun pada Juni 2026, atau tumbuh 25,88% secara tahunan.

Strategic Communication and Brand Lead AdaKami, Jonathan Kriss menyebut pertumbuhan ini semakin menegaskan pentingnya transparansi informasi agar masyarakat memilih dan memahami produk pinjaman sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial.

Salah satu upaya yang dilakukan AdaKami adalah menggelar kampanye Buka-Bukaan yang menyoroti pentingnya transparansi informasi pinjaman. Mulai dari informasi biaya hingga tenor cicilan, agar masyarakat dapat memahami kewajibannya sebelum menyetujui pinjaman.

Menurut Jonathan, pelindungan konsumen selalu menjadi fokus utama AdaKami. Karena itu, kampanye tersebut menjadi upaya mendorong transparansi informasi pinjaman guna melindungi masyarakat.

Baca Juga: MEKAR Perluas Bisnis Pembiayaan UMKM ke Pertanian dan Sektor Riil

"Sebagai produk jasa keuangan dengan risiko tinggi, kampanye yang juga bertujuan mengedukasi ini akan terus kami gaungkan agar masyarakat semakin bijak dalam memilih serta menggunakan layanan pembiayaan,” kata Jonathan.

Sementara itu, studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa lebih dari 95% pengguna AdaKami memahami total kewajiban pembayaran mereka sebelum menyetujui pinjaman.

Hal ini mengindikasikan bukti bahwa penyajian informasi yang tersedia secara jelas sejak awal berdampak langsung pada pemahaman konsumen.

Perencana keuangan Rista Zwestika, menambahkan bahwa ada dua hal yang kerap luput dari perhatian saat mengajukan pinjaman di platform pinjaman daring. Yaitu apakah besaran cicilan sama setiap bulan, dan kapan jatuh tempo cicilan pertama?

Dia bilang, banyak pengguna yang baru menyadari belakangan bahwa cicilan ternyata lebih besar di awal dan harus dibayarkan dalam beberapa hari pertama setelah pinjaman diterima.

Baca Juga: Simak Strategi Fintech Samir Guna Menarik Minat Lender Luar Negeri

Skema seperti ini, kata Rista, sering terabaikan dan tanpa disadari dapat mengganggu pengaturan arus keuangan karena jumlah pelunasan yang berbeda-beda. Terutama bagi masyarakat yang memanfaatkan pinjaman untuk kegiatan produktif atau yang mengandalkan gaji setiap bulan.

"Akibatnya risiko gagal bayar meningkat karena kurang teliti ketika mengambil keputusan," ujar Rista.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×