kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.892   45,00   0,25%
  • IDX 6.195   68,05   1,11%
  • KOMPAS100 824   16,97   2,10%
  • LQ45 619   8,11   1,33%
  • ISSI 215   -1,05   -0,49%
  • IDX30 350   2,03   0,58%
  • IDXHIDIV20 428   1,77   0,41%
  • IDX80 94   1,01   1,10%
  • IDXV30 118   -0,67   -0,56%
  • IDXQ30 112   0,74   0,66%

Premi Asuransi Jiwa dari Unitlink Tumbuh 4,1% Jadi Rp 17,17 Triliun di Kuartal I-2026


Rabu, 03 Juni 2026 / 07:57 WIB
Premi Asuransi Jiwa dari Unitlink Tumbuh 4,1% Jadi Rp 17,17 Triliun di Kuartal I-2026
ILUSTRASI. AAJI mencatat pendapatan premi asuransi jiwa dari produk unitlink mencapai Rp 17,17 triliun pada kuartal I-2026. ? (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat, kinerja premi asuransi jiwa dari produk unitlink mengalami pertumbuhan.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo mengatakan pendapatan premi asuransi jiwa dari produk unitlink mencapai Rp 17,17 triliun pada kuartal I-2026. 

"Nilainya tumbuh 4,1%, jika dibandingkan pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya," katanya dalam konferensi pers AAJI di kawasan Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2026).

Baca Juga: Konsolidasi Perbankan Perlu Blueprint yang Jelas, Berikut Usulan Perbanas

Adapun produk unitlink memberikan kontribusi premi sebesar 36,32% terhadap total pendapatan premi industri asuransi jiwa yang mencapai Rp 47,27 triliun pada kuartal I-2026. 

Albertus menerangkan pertumbuhan unitlink dirasa menarik karena produk tersebut tetap memiliki pangsa pasar yang signifikan sebagai bagian dari pilihan solusi perlindungan masyarakat. Dia menyebut komposisi itu juga mencerminkan keberagaman kebutuhan nasabah, serta makin matangnya preferensi masyarakat dalam memilih produk asuransi yang sesuai.

Lebih lanjut, Albertus melihat bahwa unitlink memiliki kelebihan tersendiri, karena ada investasinya untuk segmen nasabah yang lebih paham terhadap investasi. Dengan demikian, nasabah yang sudah lebih bisa memahami dan menerima risiko investasi akan melirik unitlink. 

"Kalau unitlink risiko investasinya ada pada nasabah, plusnya tentu nasabah dapat memperoleh kenaikan investasi yang baik, tetapi juga ada risiko penurunan," tuturnya.

Kondisi berbeda terjadi pada kinerja premi industri dari produk tradisional. AAJI mencatat, pendapatan premi asuransi jiwa dari produk tradisional mencapai Rp 30,10 triliun pada kuartal I-2026. Nilainya terkontraksi 2,9%, jika dibandingkan pencapaian periode sama tahun lalu.

Baca Juga: Bakal Terlibat dalam LCT BI, Himbara Ajukan Syarat ke Thomas Djiwandono

Adapun produk tradisional memberikan kontribusi sebesar 63,67% terhadap total pendapatan premi industri asuransi jiwa pada kuartal I-2026. 

Meski terkontraksi, Albertus menerangkan produk tradisional masih menjadi kontributor utama kinerja industri asuransi jiwa. Dia bilang hal itu menunjukkan bahwa masyarakat masih mendapatkan kebutuhan perlindungan dasar sebagai prioritas utama. 

"Kondisi tersebut juga mencerminkan kecenderungan masyarakat mencari manfaat perlindungan yang lebih jelas dan straight forward tanpa dikaitkan dengan unsur investasi. Sebab, tradisional lebih fokus kepada proteksi," ucapnya.

Dengan demikian, Albertus menyampaikan dua produk baik tradisional maupun unitlink tentunya punya segmen nasabah yang berbeda. Dia berharap keduanya masih bisa bertumbuh ke depannya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×