kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 18.000   37,00   0,21%
  • IDX 5.695   51,92   0,92%
  • KOMPAS100 735   7,36   1,01%
  • LQ45 557   3,64   0,66%
  • ISSI 198   1,89   0,96%
  • IDX30 316   1,31   0,42%
  • IDXHIDIV20 389   -0,57   -0,15%
  • IDX80 83   0,64   0,78%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,12   0,12%

Risiko mismatch pendanaan bank BUMN masih besar


Jumat, 02 Februari 2018 / 14:17 WIB
ILUSTRASI. RAPAT KINERJA BANK BUMN


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank BUMN mencatat hampir 94% dana pihak ketiga (DPK) bank BUMN mempunyai tenor jangka pendek. Sedangkan untuk pendanaan jangka panjang hanya 6% dari total DPK.

Gatot Trihargo, Deputi Kementerian BUMN mengatakan, dari total DPK bank BUMN Rp 2.458 triliun, sebanyak Rp 2.309 triliun merupakan dana jangka pendek. "Sisanya Rp 149 triliun merupakan dana jangka panjang," kata Gatot, Rabu (31/1).

Hal ini membuat risiko mismatch pendanaan perbankan masih cukup besar. Pasalnya, tahun ini jumlah kredit ke infrastrukur dengan tenor panjang masih cukup besar.

Untuk menyiasati hal ini, Gatot bilang bank BUMN melakukan pembayaran melalui pembayaran dana hasil operasional. Hal ini disesuaikan dengan tenor perjanjian masing-masing.

Herry Sidharta, Wakil Direktur Utama BNI mengakui mayoritas pendanaan bank mempunyai tenor jangka pendek. "Deposito maksimal memiliki jangka waktu tenor 2 tahun," kata Herry, Rabu (31/1).

Oleh karena itu untuk pendanaan infrastruktur, bank akan mencari sumber dana alternatif selain DPK. Beberapa opsi uang bisa diambil adalah dari penerbitan surat utang dan pinjaman dari luar negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×