Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah saham emiten perbankan terlihat lesu menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang akan menentukan arah BI rate pada hari ini, Rabu (21/1/2026).
Saham bank-bank berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), hingga PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) kompak memerah pada perdagangan sesi pertama hari ini.
Pada perdagangan sesi I hari ini, harga saham BBRI turun 1,04% ke level Rp 3.810 per saham . Adapun pada pembukaan perdagangan, sahamnya ada di level Rp 3.850 per saham.
Saham BMRI berada pada level Rp 4.980, turun 45 poin atau 0,90%. BMRI sempat dibuka menguat di level Rp 5.025 pada perdagangan hari ini.
Baca Juga: Harga Saham BBTN Melonjak, Investor Asing Borong, Cuan Menanti?
Harga saham bank pelat merah berikutnya yakni BBNI turun 60 poin atau 1,31% ke level Rp 4.510 per saham. BBNI sempat dibuka di level Rp 4.570 pada perdagangan hari ini.
Tak berbeda, harga saham BBCA juga turun 150 poin atau 1,88% ke level Rp 7.850 per saham. Adapun pada pembukaan perdagangan hari ini, sahamnya dibuka melemah di level Rp 7.925 per saham.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026 yang diumumkan hari ini.
Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEB UI Jahen Fachrul Rezki mengatakan, kebijakan tersebut tepat untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan stabilitas eksternal di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
“Mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dipandang sebagai langkah tepat untuk menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan stabilitas eksternal, disertai intervensi valas yang terukur guna meredam volatilitas rupiah yang berlebihan,” ujar Jahen, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga: Gozco Capital Borong Saham BBYB Rp 98 Miliar, Kepemilikan Naik Jadi 9,31%
Menurut Jahen, inflasi domestik masih berada dalam sasaran Bank Indonesia, meskipun posisinya mendekati batas atas. Namun demikian, dinamika nilai tukar rupiah tetap menjadi perhatian utama otoritas moneter.
“Dengan ketidakpastian global yang tinggi dan dolar AS yang kuat, pelonggaran kebijakan moneter berisiko memperlemah jangkar stabilitas,” jelasnya.
Lingkungan eksternal juga dinilai kurang kondusif seiring penguatan dolar AS, perubahan ekspektasi arah kebijakan moneter Amerika Serikat, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Walaupun memang Indonesia mencatat arus masuk portofolio yang cukup besar setelah The Fed memangkas suku bunga dan BI mempertahankan kebijakannya, tekanan eksternal masih membebani nilai tukar rupiah.
"Dalam situasi ini, stabilitas nilai tukar menjadi prioritas kebijakan. Mempertahankan BI-Rate di 4,75% dinilai penting untuk menjaga selisih suku bunga, menopang kepercayaan pasar, dan menahan volatilitas rupiah di tengah ketidakpastian global yang berlanjut," tegas Jahen.
Selanjutnya: Kekayaan Trump: US$1,4 Miliar Melesat dari Kripto, Ada Apa?
Menarik Dibaca: Promo J.CO Hemat Maksimal, Paket Minuman Favorit Berdua hingga Berlima Mulai 55 Ribu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













