kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Sasar pasar luar negeri, P2P lending Indonesia tunggu restu regulator setempat


Senin, 23 Desember 2019 / 16:36 WIB
Sasar pasar luar negeri, P2P lending Indonesia tunggu restu regulator setempat
ILUSTRASI. Petugas menata brosur Inveatree Syariah di Jakarta, Selasa (3/4). Sasar pasar luar negeri, P2P lending Indonesia tunggu restu regulator setempat. KONTAN/Cheppy A. Muchlis/03/04/2018

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan peer to peer (P2P) lending Indonesia mantap memandang bisnis tahun depan. Tidak hanya mengejar pertumbuhan organik, kini beberapa perusahaan P2P lending gencar merambah pasar luar negeri.

PT Pendanaan Teknologi Nusa sebagai pemegang izin usaha peer to peer lending platform KTA Kilat akan memasuki pasar India. Co-Founder dan Chief Executive Officer Pendanaan Dino Martin bilang saat ini tengah melakukan proses registrasi di regulator setempat.

Baca Juga: Fintech dan tren transaksi digital, bagaimana upaya bank menghadapi disrupsi?

“Untuk India kita masih proses registrasi. Sama dengan Otoritas Jasa Keuangan di Indonesia, pemilik baru harus registrasi ke regulator setempat,” ujar Dino kepada Kontan.co.id pada Selasa (23/12).

Dino bilang saat memasuki pasar India, Pendanaan mengakuisisi pemain fintech peer to peer lending setempat. Dino juga mengganti perusahaan tersebut dengan nama Monexia.

“Bentuknya sama fintech peer to peer lending. Masuknya juga mulai dari pinjaman multiguna dulu, baru setelah itu produktif. Strateginya sama dengan super lender,” jelas Dino.

Dino bilang alasan memilih India lantaran memiliki inklusi keuangan yang rendah. Sedangkan penggunaan smartphone dan internet yang tinggi.

Baca Juga: Fitur pay later dari fintech tak mengganggu bisnis perbankan

“Dua hal ini memberikan kombinasi yang bagus untuk sebuah fintech untuk sukses. Seperti di Indonesia inklusi keuangan masih di bawah 5%, sedangkan penggunaan smartphone sudah masuk 70 juta orang. India juga sama seperti kita. Makanya Pendanaan berani masuk ke sana,” jelas Dino.

Adapun alasan Pendanaan menggarap segmen multiguna dahulu agar bisa masuk ke pasar lebih cepat. Lantaran segmen ini bisa memberikan pinjaman dengan cepat. Sehingga data akan lebih cepat masuk dan besar. Tujuannya machine learning untuk mitigasi risiko bisa mengolah data.


Tag


TERBARU

Close [X]
×