kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45729,74   -6,98   -0.95%
  • EMAS963.000 3,44%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Segmen komersial jadi penyebab naiknya NPL perbankan sepanjang 2019


Jumat, 21 Februari 2020 / 16:50 WIB
Segmen komersial jadi penyebab naiknya NPL perbankan sepanjang 2019
ILUSTRASI. Nasabah bertransaksi di teller Bank BCA Tangerang Selatan.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Herlina Kartika

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada penghujung tahun 2019 lalu, rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL) cenderung meningkat. Bank Indonesia (BI) menyebut pada Desember 2019 posisi NPL perbankan ada di level 2,53%, naik dibandingkan dengan posisi tahun 2018 sebesar 2,37%.

Peningkatan NPL memang terjadi di beberapa bank. Namun, bila dirinci mayoritas bank mengamini bahwa penyumbang NPL terbesar tak lain berasal dari segmen komersial. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya yang menyebut bahwa NPL di segmen komersial memang naik namun sampai saat ini posisinya masih relatif terjaga. 

Baca Juga: Penyaluran kredit minim, laba perbankan tahun 2019 anjlok

"NPL tidak banyak bergerak di komersial, tapi reserve-nya agak banyak," ujar Direktur BCA Henry Koenaifi saat ditemui di Jakarta, Kamis (21/2).

Sebagai gambaran saja, merujuk presentasi perusahaan, komposisi NPL terbesar di BCA saat ini disumbang oleh segmen korporasi atau sebesar 42,2% posisi ini meningkat dari periode tahun sebelumnya yang sebesar 37,4%. Sementara untuk segmen komersial dan UKM menyumbang sekitar 36% dari total NPL pada periode tahun 2019 lalu.

Bila dihitung nominalnya, per 2019 lalu total NPL BCA berjumlah Rp 8,04 triliun naik 4,3% secara yoy. Meski begitu, posisi rasio NPL bank bersandi BBCA ini masih terjaga di level 1,3% per tahun 2019 menurun dari tahun sebelumnya yang sebesar 1,4%. 

Alih-alih untuk menggawangi NPL, bank swasta terbesar ini pun telah meningkatkan rasio pencadangan hingga sebanyak 189,2% jauh meningkat dari tahun sebelumnya 178,7%.

Kendati punya risiko yang tinggi, faktanya kredit komersial dan UKM BCA tercatat naik paling besar yakni mencapai 12% secara year on year (yoy) dari Rp 181,1 triliun di 2018 menjadi Rp 202,88 triliun di tahun lalu.




TERBARU

Close [X]
×