Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah penyaluran kredit yang tumbuh melambat, tampaknya perbankan masih hati-hati dengan risiko kredit macet yang mengintai. Pasalnya, risiko kredit perbankan yang tercermin dalam rasio Loan at Risk (LaR) tengah mengalami kenaikan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2026 menunjukkan LaR perbankan berada di level 9,24%. Angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan periode Desember 2025 dan Januari 2026 yang masing-masing berada di level 8,77% dan 9,01%.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai kenaikan LaR dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari tekanan daya beli masyarakat, likuiditas debitur, hingga suku bunga yang masih relatif tinggi.
Baca Juga: OJK Belum Terima Rekomendasi KPPU Terkait Putusan Bunga Fintech Lending
Menurutnya, segmen yang paling terdampak adalah UMKM dan mikro, konsumsi, serta perdagangan skala kecil.
“Kami berharap kondisi ini dapat membaik pada semester II 2026, tergantung pada pemulihan daya beli dan kondisi ekonomi,” ujarnya kepada kontan.co.id, Kamis (9/4/2026).
Ia menambahkan, perbankan perlu memperkuat strategi mitigasi risiko, seperti penerapan early warning system, restrukturisasi kredit secara proaktif, peningkatan penagihan, serta perbaikan kualitas portofolio pembiayaan.
Di sisi lain, perbankan menegaskan kondisi risiko kredit masih relatif terjaga. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebutkan, rasio LaR perseroan masih stabil di kisaran 6%.
“Namun kami tetap menerapkan langkah kehati-hatian dengan memonitor kualitas aset secara lebih seksama,” jelasnya.
Pihaknya juga disebut menerapkan precaution dengan memonitor asset quality secara lebih seksama sehubungan dengan kondisi terakhir.
Baca Juga: OJK Dorong Industri PVML Berkontribusi di Program Kopdes Merah Putih dan MBG
Sementara itu, Direktur Risk Management Bank Tabungan Negara Setiyo Wibowo melihat tren LaR justru menunjukkan perbaikan secara bertahap, seiring efektivitas strategi penagihan dan normalisasi portofolio pascarestrukturisasi.
BTN menargetkan rasio pencadangan (coverage ratio) tetap berada di kisaran 125%–140%, dengan LaR yang terus ditekan menuju level yang lebih sehat. Untuk menjaga kualitas aset, BTN mengedepankan ekspansi kredit selektif, penguatan underwriting berbasis data, serta stress testing secara berkala.
Adapun Bank Central Asia juga memastikan ketahanan risiko tetap kuat. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyebutkan, rasio pencadangan LaR BCA mencapai 71,6% pada 2025, sementara coverage NPL berada di level 183,8%.
“Perseroan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit, sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan pembiayaan debitur,” ungkapnya.
BCA berkomitmen turut mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, salah satunya dengan mendorong penyaluran kredit ke berbagai segmen dan sektor secara pruden. Ke depan, BCA menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8%–10% sepanjang 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












