kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Sempat membengkak, begini strategi multifinance untuk menekan NPF


Jumat, 17 Juli 2020 / 21:31 WIB
ILUSTRASI. Costumer Service perusahaan pembiayaan Mandiri Tunas Finance (MTF)


Reporter: Annisa Fadila | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pandemi Covid-19 membuat industri multifinance masih tertekan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan rasio pembiayaan bermasalah alias non performing financing (NPF) multifinance per Mei 2020 mencapai 4,11%, naik signifikan jika dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 2,73%.

Direktur Sales dan Distribusi PT Mandiri Tunas Finance Direktur Sales dan Distribusi MTF Harjanto Tjitohardjojo menyebutkan, ke depan pihaknya menargetkan NPF akan di bawah 2%. Oleh sebabnya, anak usaha Mandiri ini melakukan beberapa strategi guna mencapai target tersebut.

Baca Juga: Restrukturisasi Pembiayaan Terus Melandai

Harjanto bilang, pihaknya akan melakukan verifikasi pembiayaan baru secara ketat dan memonitor angsuran customer selama 3 bulan awal. Tak hanya itu, MTF turut memantau restrukturisasi yang diberikan sejak Maret 2020, guna memastikan customer kembali membayar angsurannya.

“Sampai akhir tahun kami menargetkan NPF perusahaan akan di bawah 2%. Beberapa langkah sudah kami ambil, di antaranya tim sales MTF yang berjumlah 1.000 orang, 200 diantaranya kami tari untuk membantu restrukturisasi, sedangkan 300 orang lain di berdayakan di collection untuk memperkuat penagihan ke customer,” ujar Harjanto kepada Kontan.co.id (17/7).

Harjanto melanjutkan, untuk meminimalisir risiko, sampai saat ini perusahaan belum membidik beberapa sektor seperti perhotelan, pertambangan, transportasi juga restoran.

Harjanto bilang sektor tersebut membutuhkan tingkat kehati-hatian, sehingga dibutuhkan verifikasi ketat jika ada permohonan pembiayaan. Terlebih, kebijakan ini sesuai dengan arahan Bank Mandiri sebagai induk perusahaan.

“Memang sejak pandemi kami melihat beberapa dampak signfikan, seperti NPF yang meningkat. Tentu hal ini menjadi tantangan akibat turunnya kemampuan konsumen. Tak hanya itu, kondisi likuiditas ikut terpengaruh karena sejak restrukturisasi, customer menunda pembayaran angsuran. Artinya, tidak ada uang masuk ke dalam kas perusahaan, karena 25% restrukturisasi dari portofolio MTF,” tambahnya.




TERBARU

[X]
×