Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) masih menoreh performa solid di tengah gejolak ekonomi serta fase transformasi industri asuransi nasional. Pada kuartal I-2026, perusahaan ini membukukan pendapatan jasa asuransi sebesar Rp2,6 triliun atau tumbuh 5,96% secara tahunan. Sementara hasil jasa asuransi tumbuh 2,18% menjadi Rp 461 miliar.
Analis Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai hubungan jangka panjang perusahaan dengan Pertamina menjadi salah satu fondasi penting bagi model bisnis TUGU.
TUGU didirikan untuk mendukung kebutuhan manajemen risiko Pertamina dan hingga kini masih menjadi bagian penting dari ekosistem bisnis grup energi nasional tersebut, dengan PT Pertamina (Persero) sebagai pemegang saham pengendali sebesar 58,5%.
Baca Juga: Mengukur Prospek TUGU Hadapi Dinamika 2026
Selama lebih dari 40 tahun, TUGU bekerja sama dengan Pertamina dalam mengelola risiko strategis di sektor energi, maritim, dan properti. Hubungan jangka panjang ini memperdalam pemahaman TUGU terhadap risiko industri energi serta memperkuat kemampuan underwriting dan reasuransi sebagai kekuatan utamanya saat ini.
"Hubungan captive ini telah bertahan melewati lima pergantian pemerintahan, dua siklus besar harga minyak, krisis keuangan 1998, hingga restrukturisasi Pertamina pada 2020 yang menunjukkan ketahanan kemitraan bisnis yang telah teruji dalam berbagai siklus ekonomi dan perubahan kebijakan.” kata Wafi dalam risetnya, Jumat (5/6/2026).
KISI menilai keberadaan Pertamina dalam bisnis TUGU tidak hanya memberikan pendapatan stabil, tetapi juga membangun keahlian teknis yang sulit ditiru di industri asuransi. Meski fundamentalnya kuat, saham TUGU dianggap masih undervalued karena diperdagangkan di bawah nilai buku.
Kekhawatiran investor terkait kenaikan rasio klaim setelah PSAK 117 dinilai hanya dampak transisi, bukan penurunan kualitas underwriting, yang tercermin dari kenaikan hasil jasa asuransi sebesar 39% menjadi lebih dari Rp1 triliun pada 2025.
Baca Juga: Tugu Insurance (TUGU) Cetak Laba Rp 265,6 Miliar di Tengah Gejolak Global
Selain itu, TUGU berpotensi mendapat dukungan dari portofolio investasi lebih dari Rp11 triliun di tengah suku bunga tinggi, serta menawarkan imbal hasil dividen menarik sekitar 8,6% dengan potensi kenaikan pada 2026. KISI bahkan memperkirakan dividen dapat meningkat menjadi Rp137 per saham pada 2026.
Berdasarkan hal tersebut, KISI merekomendasikan saham TUGU dengan target harga Rp1.800 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













