Reporter: Ade Priyatin | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham big bank masih berada dalam tekanan jual dalam beberapa waktu terakhir.
Sejumlah analis menilai tekanan ini dipicu oleh faktor sentimen dan penyesuaian portofolio dan bukan karena pelemahan fundamental.
Menurut Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand tekanan jual pada saham big bank saat ini dipicu oleh aksi rebalancing investor asing seiring dengan penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI sehingga pasar bergerak lebih duku untuk mengantisipasi aliran dana keluar.
"Tekanan jual pada saham big bank saat ini terutama dipicu oleh aksi rebalancing investor asing," ujarnya kepada Kontan, Selasa (3/2/26).
Menurutnya pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga ikut menekan sentimen terhadap sektor perbankan.
Baca Juga: Saham Big Banks Mulai Menguat Pasca Tekanan MSCI, BBCA Terangkat Rencana Buyback
Senada dengan itu, Founder Republik Investor, Hendra Wardana juga melihat tekanan jual pada saham bank bukan semata karena faktor fundamental saja.
"Pada dasarnya lebih banyak dipicu oleh faktor sentimen dan penyesuaian posisi investor," jelasnya kepada Kontan, Selasa (3/2/26).
Pasca koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), investor cenderung profit taking dan rebalancing portofolio terutama pada saham bank yang sebelumnya menjadi penopang indeks.
Selain itu, investor juga lebih selektif karena adanya kekhawatiran terhadap suku bunga global, dinamika likuiditas, dan kehati-hatian pasar.
Meski begitu, Hendra memandang kalau tekanan jual pada saham Big Bank mulai mereda seiring dengan pulihnya sentimen pasar.
Di sisi lain, kedua analis ini sama-sama memandang positif proyeksi saham Big Bank ke depannya.
Abida menilai prosek saham big bank masih solid dengan valuasi yang saat ini berada di bawah rerata lima tahunan sehingga menawarkan entry point yang relatif menarik.
Baca Juga: Saham Bank Mulai Unjuk Gigi, Big Banks Ramai Dikoleksi
Selain itu, menurutnya kinerja intermediasi masih terjaga, kualitas aset stabil, dan potensi masuk investor strategis seperti Danantara menjadi faktor pendukung outlook positif di sektor perbankan.
Hendra juga menilai prospek saham Big Bank masih tetap konstruktif.
Secara fundamental, bank-bank besar saat ini masih ditopang permodalan yang kuat, kualitas aset yang relatif terjaga, dan kemampuan menjaga profitabilitas di tengah dinamika ekonomi.
Dalam konteks pasar, saham Big Bank tetap menjadi pilihan utama investor institusi karena likuiditas yang tinggi dan bobot yang besar pada pergerakan IHSG.
Oleh karena itu, koreksi yang ada bisa dipandang sebagai fase konsolidasi yang sehat setelah volatilitas tinggi.
Adapun pada penutupan pasar saham, Selasa (3/2) PT Bank Mandiri Indonesia Tbk (BMRI) menguat 0,62% menjadi Rp 4.830.
Lalu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) naik 2% menjadi Rp 4590. Kemudian PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 0,66% menjadi Rp 7650.
Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) terkoreksi 0,78% menjadi Rp 3.800.
Baca Juga: Big Banks Pimpin Penguatan Sektor Perbankan, Cek Saham yang Menarik Dikoleksi
Selanjutnya: Kinerja Reksadana Januari 2026 Beragam, Ini Prospek dan Strateginya
Menarik Dibaca: Waspada Kolesterol Tinggi Mengintai, 5 Jus Ini Bisa jadi Solusi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












