kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Tumbuh 19,08%, hasil investasi Taspen mencapai Rp 9,11 triliun di tahun lalu


Senin, 27 Januari 2020 / 19:47 WIB
Tumbuh 19,08%, hasil investasi Taspen mencapai Rp 9,11 triliun di tahun lalu
ILUSTRASI. Direktur Utama PT Taspen (Persero) Tbk Antonius N.S Kosasih (dua kanan) bersama dengan Direksi saat paparan kinerja Taspen di Jakarta, Senin (27/1). PT Taspen (Persero) Tbk mencatat laba bersih selama 2019 sebesar Rp 388,24 miliar, melonjak Rp 116,69 mili

Reporter: Ferrika Sari | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Taspen (Persero) mencatatkan kinerja menggembirakan di sepanjang 2019. Kinerja hasil investasi Taspen pada tahun lalu mencapai Rp 9,11 triliun atau meningkat 19,08% secara year on year (yoy).

Direktur Utama Taspen Antonius N.S Kosasih mengungkapkan, kenaikan kinerja investasi berkat strategi dan kebijakan Taspen yang mempertimbangkan prinsip prudent, berhati-hati serta memprioritaskan keamanan berinvestasi untuk mencapai manfaat yang optimal bagi peserta.

“Kami memperhitungkan secara seksama tingkat risiko yang diterima, kondisi pasar, tingkat likuditas, imbal hasil yang optimal serta pencadangan yang konservatif yang tetap menjamin kesejahteraan peserta Taspen,” kata lelaki yang akrab disapa Steve, di Jakarta, Senin (27/1).

Baca Juga: Semester I-2020, Taspen akan luncurkan unit investasi syariah

Pihaknya menegaskan, Taspen sebagian besar berinvestasi pada instrumen investasi yang aman. Misalnya saja, mayoritas investasi ditempatkan pada instrumen yang memberikan hasil tetap (fixed income) yaitu surat utang maupun deposito sebesar 86,2% dari total portofolio.

Jika dirinci, investasi Taspen di surat utang sebesar 67,5% dari total investasi. Menyusul deposito 18,7%, reksadana 6,7%, saham 4,9% dan investasi langsung 2,2%.

“Mayoritas investasi Taspen ditempatkan pada surat utang negara maupun obligasi korporasi dengan fundamental yang kuat, dengan tingkat risiko yang sangat rendah namun tetap memberikan imbal hasil yang baik,” tuturnya.

Untuk menjaga likuditas perusahaan dan keamanan data, Taspen juga menempatkan hampir 80% deposito di bank BUMN, 18% di Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan hanya 2% pada bank umum yang merupakan anak usaha dari Bank Mandiri dan Taspen yakni Bank Mandiri Taspen.

Untuk investasi di saham, Taspen memilih saham-saham emiten yang mayoritas terdaftar pada indeks LQ45 dan didominasi oleh saham-saham BUMN yang tergolong saham-saham blue chips.

“Dalam proses pemilihan saham untuk alokasi investasi, kami selalu mengutamakan aspek makro ekonomi, fundamental, prospek bisnis, likuditas dan valuasi perusahaan yang wajar dan seksama serta mempertimbangkan pula faktor-faktor teknikal,” jelasnya.

Pada instrumen reksadana, Taspen berinvestasi melaui15 manajer investasi (MI) yang memiliki dana kelolaan (asset under management/AUM) di atas Rp 4 triliun hingga Rp 50 triliun, di mana 90% di antaranya adalah MI yang menduduki peringkat 15 besar. Selain itu, hampir 50% penempatan reksadana Taspen adalah pada MI BUMN.

“Kami berkomitemen untuk selalu menerapkan prinsip kehati-hatian yang kami pegang teguh guna menjamin keamanan dana investasi yang kami kelola untuk memberikan mandaat secara maksimal kepada peserta,” imbuh Antonius.

Baca Juga: Ganti direksi, Taspen fokus peningkatan kinerja di 2020




TERBARU

Close [X]
×