kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Valuasi Bank Permata diprediksi US$ 2,3 miliar, Bank DBS tertarik akuisisi


Kamis, 10 Oktober 2019 / 04:42 WIB

Valuasi Bank Permata diprediksi US$ 2,3 miliar, Bank DBS tertarik akuisisi
ILUSTRASI. Iklan aplikasi Permata e-Business saat peluncuran aplikasi tersebut di Jakarta, Rabu (9/11). Dengan layanan Permata e-Business ini transaksi perbankan nasabah korporat bank Permata akan lebih cepat dan online realtime. KONTAN/Cheppy A. Muchlos/09/11/2016


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa akuisisi kepemilikan saham di PT Bank Permata Indonesia Tbk (BNLI) makin ramai. Mengutip Bloomberg, Rabu (9/10) Bank DBS asal Singapura tengah mempertimbangkan rencana ikut berlomba dalam mengakuisisi saham Bank Permata.

Menurut Sumber Bloomberg, DBS berniat untuk mengambilalih saham Standard Chartered Plc di Bank Permata. Lebih lanjut, DBS yang berbasis di Singapura telah serius menggandeng salah satu penasihat keuangan (financial advisor) untuk mengukur valuasi Bank Permata. Menurut hitung-hitungan, valuasi Bank Permata sudah mencapai US$ 2,3 miliar.

Jika benar, artinya Bank DBS bakal bersaing dengan salah satu bank asal Singapura yang juga berniat mencaplok Bank Permata yakni Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC). 

Baca Juga: Bank Permata (BNLI) serahkan persoalan akuisisi ke pemegang saham

Tak hanya itu, lembaga keuangan raksasa Jepang yang berbasis di Tokyo yakni Sumitomo Mitsui Financial Group Inc, juga dilaporkan tertarik mengakuisisi bank asal Indonesia menurut Bloomberg.

Sebagai informasi saja, saat ini Standard Chartered dan PT Astra Internasional masing-masing memiliki saham sebesar 45% di Bank Permata. Hanya saja, kepastian DBS untuk masuk ke Bank Permata masih abu-abu, artinya bisa saja DBS tidak tertarik untuk melakukan penawaran ke BNLI. 
Diperkirakan, penawaran final akan jatuh tempo dalam waktu sekitar satu bulan.

Sayangnya, sampai saat ini perwakilan DBS menolak berkomentar. Bila tawaran bergerak maju, ini akan menjadi upaya kedua DBS untuk mengakuisisi bank di Indonesia yang substansial.

Berdasarkan sejarahnya, pada 2013 silam, Bank DBS terpaksa mundur dari tawaran US$ 6,5 miliar untuk mengambilalih saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), pasca adanya perubahan aturan tentang kepemilikan asing. Selang lima tahun kemudian, Bank Danamon akhirnya diakuisisi oleh Mitsubishi UFJ Financial Group Inc.

Sejak gagal mendapatkan Danamon, Chief Executive Officer DBS Piyush Gupta menekankan untuk memperluas jangkauan layanan perbankannya melalui digital, ketimbang membeli bank baru dengan jaringan cabang yang besar.

Baca Juga: Dikabarkan diakuisisi, dirut Bank Permata (BNLI) serahkan ke pemegang saham

Namun, pada bulan September 2019 Gupta mengatakan pihaknya tetap terbuka pada kemungkinan akuisisi jika perusahaannya membutuhkan dorongan untuk mengembangkan layanan digital dengan kehadiran kantor fisik. 

"Selain kehadiran digital yang fundamental, kami juga mulai memahami bahwa kami memerlukan kantor fisik untuk menjaga kredibilitas merek (perusahaan) dalam memberi layanan," ujar Gupta kala itu.

Sebagai informasi, Bank Permata memiliki 317 cabang yang melayani lebih dari 2 juta pelanggan di 62 kota di Indonesia per akhir Juni 2019 lalu. 


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang
Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

Video Pilihan

Terpopuler

Close [X]
×