kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Walau pasar modal loyo, bisnis wealth management bank masih tumbuh di 2019


Selasa, 31 Desember 2019 / 19:00 WIB
Walau pasar modal loyo, bisnis wealth management bank masih tumbuh di 2019
ILUSTRASI. Petugas melayani nasabah prioritas di Counter Bank Mandiri Prioritas Jakarta, Jumat (28/12). Bisnis wealth management industri perbankan sepanjang 2019 tetap tumbuh ./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/28/12/2018.

Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis wealth management sejumlah bank masih tumbuh sepanjang tahun ini walaupun menghadapi tantangan berat. Sejumlah tekanan terutama yang bersumber dari ekonomi global bikin kinerja IHSG yang menjadi kiblat sejumlah produk reksadana melempem.

Tahun depan, bisnis ini diperkirakan masih akan tumbuh positif. Potensi wealth management dinilai sangat besar sejalan dengan pertumbuhan jumlah nasabah kaya di Indonesia yang jauh lebih tinggi dari pertumbuhan secara global.

Baca Juga: Saham-saham syariah memiliki prospek positif tahun depan

Commonwealth Bank misalnya mencatatkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) wealth management tumbuh sekitar 3%-5% sepanjang tahun ini. Itu didominasi oleh produk reksadana dengan porsi mencapai 80%.

“Total dana kelolaan kami berkisar Rp 30 triliun,” ungkap Ivan Jaya, Head of Wealth Management & Premier Banking Commonwealth pada Kontan.co.id baru-baru ini.

Tahun depan, bank ini menargetkan dana kelolaan tumbuh 10%. Tekanan dari eksternal diperkirakan akan mereda dan pemerintah juga memiliki modal yang cukup secara politik menjalankan program kerjanya karena 74% DPR dikuasai oleh koalisi sehingga positif ke IHSG.

Baca Juga: BI: Penghimpunan DPK pada November 2019 meningkat 6,4% yoy

Commonwealth Bank memiliki beragam produk untuk menjaring nasabah kaya mulai dari reksadana, obligasi pemerintah, bancassurance, layanan valuta asing, serta produk-produk tradisional.

Ivan menjelaskan, imbal hasil produk wealth management harus dilihat dalam jangka panjang. Produk reksadana bank ini secara jangka panjang tercatat masih bagus. Sucorinvest Equity Fund misalnya memberikan imbal hasil di atas 40% dalam 3 tahun terakhir, namun tahun ini hanya 8% dan Batavia Dana Saham memberikan imbal hasil 20% tiga tahun terakhir, tetapi hanya 2% setahun terakhir.

Perkembangan investasi reksadana tahun ini menurut Ivan memang tertekan karena faktor ekonomi global bikin IHSG sebagai acuan banyak produk reksadana hanya tumbuh tipis.

Baca Juga: Akhir tahun tiba, yuk bersih-bersih daftar nomor rekening di m-BCA

Sebaliknya produk obligasi negara memberikan imbal hasil menarik tahun ini terutama didorong oleh pemotongan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 1% tahun ini.

Guna dorong penjualan produk wealth management, bank ini melakukan inovasi dengan merilis aplikasi CommBank SmartWealth dan SmartBanca.





Close [X]
×